HMINEWS.Com, Jakarta – Indonesia mempunyai cadangan panas bumi (geothermal) terbesar di dunia, dengan potensi mencapai sebesar 40%. Meski demikian, pemanfaatannya masih amat minim dan belum dapat menyumbang secara signifikan untuk pembangunan nasional.

Kondisi demikian tidak lepas dari perhatian pemerintah yang amat minim pula. Sehingga dari potensi sebesar 29.000 Megawatt (MW), baru dimanfaatkan sebesar 1180 MW. Secara keseluruhan, pemanfaatan energi fosil (minyak bumi dan batu bara) masih mendominasi, yaitu mencapai 95,6%, sisanya dengan energi panas bumi.

 “Bukan karena tidak ada perhatian. Dalam hal ini pemerintah care, setidaknya dalam setiap pidato, pemanfaatan geothermal selalu disinggung,” kata Dirjen Energi Baru Terbarukan KESDM, Wardaya Karnika ironis dalam diskusi di KAHMI Center, Jakarta, Jum’at (2/12).

Pembicara dalam seminar tersebut, di antaranya, Zainuddin Amali (Wakil Ketua Komisi VII DPR), R Sukhyar (Kepala Badan Geologi KESDM), Anang Yahmadi (PLN), dari Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API)  membenarkan. Semua sepakat, perhatian dan usaha pemerintah harus ditingkatkan. Permasalahannya memang komplek, mulai dari tumpang tindihnya undang-undang mengenai pemanfaatan panas bumi. Di hulu diatur dengan UU Panas Bumi, sedangkan di hilir dengan UU Ketenagalistrikan.

Kendala lainnya adalah bahwa panas bumi masih dikategorikan sebagai pertambangan, sehingga tidak bisa dieksplorasi di hutan-hutan lindung, gunung dan sebagainya. Karenanya, perubahan terhadap UU tersebut sudah mendesak, agar eksplorasi bisa maksimal dan tidak ada saling ngotot dengan kehutanan dan sebagainya.

Minat investor pun sebenarnya tinggi, mulai dari investor asing, nasional besar, hingga yang kecil-kecil bahkan yang tidak berkantor. Namun perlu dibarengi dengan berbagai jaminan keamanan, regulasi, kemudahan dan dukungan lain, serta aspek terhadap masyarakat.

“Justru di lokasi pertambanganlah (minyak bumi) yang selama ini masyarakatnya melarat. Makanya jangan sampai seperti itu, kekayaannya kita keruk, kemudian kita tinggalkan sampah, bahkan kerusakannya,” kata Anang dalam seminar bertajuk Green Energy: Kebangkitan Indonsia Sebagai Super Power Geothermal tersebut. (Fathur)