New York, New York – Sebuah drama menggelikan tentang dua orang yang menunggu seseorang yang tidak pernah kunjung datang, dimainkan dalam bahasa Arab oleh aktor-aktor muda Palestina, yang diarahi oleh seorang pembuat film Yahudi Israel, dan dipentaskan di panggung New York City: itulah pemandangan di malam 18 Oktober di Teater Miller, Columbia University, di New York City saat Teater Kebebasan Jenin membuat debut pertamanya di AS dengan membawakan cerita Samuel Beckett, Waiting for Godot (Menunggu Godot), dengan judul While Waiting (Saat Menunggu).

Rombongan aktor ini membuat penampilan memukau yang menggunakan karya seminal minimalis dan open-ended Becket untuk mengekspresikan penantian tidak berujung yang menggambarkan identitas mereka sebagai orang Palestina dari kamp pengungsi di Tepi Barat. Cerita ini juga menyinggung bagaimana hidup mereka dipengaruhi oleh pembunuhan pendiri dan direktur teater ini April lalu, Juliano Mer Khamis, oleh seorang Palestina yang bersenjata.

Mer Khamis, seorang aktor dan pembuat film Israel lahir dari seorang ibu yang Yahudi dan ayah yang Kristen Palestina, menjelmakan sebuah ruang yang hanya diisi oleh sedikit orang di kawasan ini yang tinggal di masyarakat Israel maupun Palestina. Mer Khamis mendorong pemuda Palestina untuk bergelut dengan seni sebagai alat perjuangan mereka melawan pendudukan, atau apa yang ia sebut “intifada budaya”. Temannya Udi Aloni, putra anggota Parlemen Israel (Knesset), Shulamit Aloni, seorang pendukung binasionalisme dan pembuat film terkenal, menjadi direktur teater sepeninggal Mer Khamis.

Sandiwara ini, yang hampir seluruhnya dalam bahasa Arab dengan terjemahan bahasa Inggris yang ditampilkan di atas, memaksa para pemirsa untuk lebih fokus dengan para aktor daripada dengan kata-kata mereka.

Sandiwara ini dimulai dengan sebuah cerita dalam bahasa Inggris, yang dituturkan oleh salah satu aktor yang memerankan pelawak dan penutur. Ia bercerita pada pemirsa tentang pengalaman rombongan ini di Bandara Ben Gurion, Israel, yang menyindir adanya “garuk keamanan” yang diberlakukan pada banyak orang Palestina ketika mereka mau pergi ke luar Israel.

Cerita ini disambut anggukan, desahan dan tawa dari para hadirin. Cerita ini pun membuat suasana sepanjang pentas bergairah, sebuah tragikomedi tentang politik identitas yang tertancap kuat, yang dikemas dalam dagelan berkelas dan akting yang padu, yang terkadang, bisa membuat Anda lupa kalau Anda tengah menyaksikan drama yang dimainkan oleh para aktor yang tidak punya kewarganegaraan, dari suatu kamp pengungsi yang telah banyak menyaksikan kekerasan.

Sepekan sebelumnya, Aloni bicara dalam sebuah panel di panggung yang sama tentang pentingnya kesetiaan total untuk sepenuh hati menempatkan tubuh, pikiran dan seni dalam suatu perjuangan. Dalam kasusnya, perjuangan ini adalah penentangan terhadap praktik-praktik negara Israel, dan pembentukan realitas dwibangsa baru bagi rakyat Israel dan Palestina.

Aloni waktu itu tengah mempromosikan buku barunya, What Does a Jew Want, sebuah kumpulan esai dan surat yang mengekspresikan apa yang ia definisikan sebagai “teologi sekuler”. Ia menulis sebagai seorang Yahudi yang menolak untuk membiarkan identitasnya direduksi menjadi definisi populer yang sempit. Terilhami oleh karya-karya teoretikus Palestina-Amerika Edward Said dan psikoanalis Austria Sigmund Freud, yang sama-sama melihat identitas Yahudi sebagai beraneka ragam, Aloni bicara tentang bagaimana menghadapi konsep menanti dan bagaimana beraksi untuk perubahan lewat seni.

Filsuf dan pengarang Slovenia, Slavoj Zizek, kontributor dan editor buku Aloni, bicara di panel tersebut tentang perlunya bertindak di tengah ketidakadilan namun pada saat yang sama memperlakukan korban selaku seorang manusia dan bukan layaknya “orang lain” yang tidak dikenal. Ia mengatakan bahwa orang-orang seharusnya pergi ke Ramallah, di mana Teater Kebebasan Jenin kini berada, dan melihat sebuah drama, bukan karena ada “orang-orang Palestina miskin” di sana yang bisa membuat Anda iba dan terenyuh, tetapi karena Anda ingin menghayati seni.

Sangat kebetulan, pentas ini berlangsung persis di hari ketika Israel dan Hamas mulai melakukan pertukaran tahanan. Kopral Israel, Gilad Shalit, dipulangkan setelah ditawan selama lima setengah tahun di Gaza.

Saat para aktor Palestina menampilkan drama penantian panjang akan adanya penyelamatan melalui cerita Beckett, di panggung yang sepenuhnya berbeda, orang-orang Israel merayakan akhir dari penantian berlarut-larut akan “putra” mereka untuk dilepaskan. Ini diikuti dengan pelepasan dramatis para tahanan Palestina yang kemudian bersatu kembali dengan keluarga mereka.

Pesan drama ini adalah meski orang Palestina, orang Israel dan banyak lagi yang lain tengah menanti sesuatu terjadi – entah itu perdamaian, pemulihan, kemerdekaan atau kredibilitas – mereka harus “beraksi” sembari menanti. Dalam hal ini, secara harfiah itu berarti “beraksi” di atas panggung.

Tema “menanti” sangatlah pas malam itu saat rombongan Jenin secara tidak sengaja memanifestasikan teater abadi yang dimainkan oleh rakyat Israel dan rakyat Palestina, sebuah fakta yang akhirnya mengikat kedua bangsa.

###

* Mairav Zonszein ialah seorang jurnalis dan penerjemah Israel-Amerika yang tinggal di Tel Aviv, dan kontributor 972mag.com.

Artikel ini ditulis untuk HMINEWS dari Kantor Berita Common Ground (CGNews).