HMINEWS, Bima –  Tindakan beringas aparat kepolisian yang menjadi kaki-tangan pengusaha pertambangan telah merenggut setidaknya dua nyawa warga Bima dan puluhan lainnya luka-luka.
`
Sabtu pagi, 24 Desember 2011, Polisi membabu-buta menembaki masa aksi yang sudah empat empat hari di memblokir Pelabuhan Sape. Mereka menolak tambang atau meminta pemerintah segera mencabut SK 188 yang memberikan izin kepada PT Sumber Mineral Nusantara beroperasi di daerah pertanian warga.
Aksi yang berlangsung mulai empat hari berturut-turut, dibalas oleh tindakan opresif  aparat kepolisian terhadap masyarakat yang melakukan pemblokaderan terhadap Pelabuhan Sape.
Atas kejadian tersebut telah menimbulkan beberapa korban dan luka-luka yang sangat serius. Data yang di peroleh oleh kontirbutor HMINEWS Nadiran dari di RSU BIMA terkait dengan korban penembakan tersebut adalah sebagai berikut:
`
No
Nama Korban(JENIS KELAMIN)
Umur/thun
Tewas
Luka-Luka
Asal
1
Ilyas sulaiman(L)
27
l
2
Sahbudin(L)
SORO LAMBU
3
Ibrahim(L)
45
l
SUMI RATO
4
Awaludin(L)
24
L
SUMI RATO
5
Suhaimin(L)
23
L
LAMBU
6
Miftahudin(L)
18
L
SUMI RATO
7
Masnun(L)
15
L
RAI OI
8
Hasnah(P)
39
L
SUMI RATO
9
Arif rahman(L)
18
T
SUMI RATO
10
Saiful(L)
17
T
SUMI RATO
`
Menurut Nadiran, data sementara terkait dengan jumlah korban penembakan tersebut adalah yang luka 8 orang dan yangtewas 2 orang.
“Mereka masih di rawat di RSU Bima dan sampai sekarng belum di pulangkan mengingat suasan masih tidak stabil,” Kata Nadiran.
`
`
Menurut pengakuan seorang warga yang bernama Gufran (42) warga Desa Sumi, Kec. Lambu, Bima, Kejadian pembantaian oleh aparat tersebut dimulai sejak jam 6 pagi sampai jam 8.
`
“Kami hanya melakukan konsolidasi dan mempertahankan posisi masa dalam melakukan pemblokiran jalan dan pelabuhan sampai ada keputusan pemerintah setempat terkait tuntutan yang kami ajukan. Namun pada pagi hari tadi, tepatnya jam 6  pagi kepolisian melakukan tindakan agresif dengan menggunakan senjata api, akhirnya di antara kami banyak yang kena tembakan, tewas dan luka-luka”, kata Gufran. [] ndr/lara