Banda Aceh – Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Aceh yang membentang mulai dari hutan Seulawah, Jantho hingga Banda Aceh saat ini mengalami ancaman serius. Ancaman serius berasal dari kerusakan di daerah hilir (hutan) dan daerah hulu (pengambilan galian C). Apalagi mengingat DAS Krueng Aceh menjadi sumber baku  air bersih warga Banda Aceh dan Aceh Besar, jika tidak segera dilindungi maka akan berdampak pada ribuan orang.

Wahana Lingkungan Hidup Aceh (WALHI) Aceh, menilai pernyataan kepala Bapedal Aceh, Ir. Husaini Syamaun di media yang menyatakan kerusakan DAS Krueng Aceh tidak parah kurang tepat. Dalam konteks perlindungan lingkungan seharusnya sekecil apapun kerusakan, apalagi yang besar seperti DAS Krueng Aceh, harus ditanggapi dengan serius. WALHI Aceh sendiri yang sudah turun ke beberapa titik melihat kerusakan yang terjadi sangat parah akibat penambangan galian C yang tidak terkontrol.

Tim Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh yang turun ke lapangan menemukan kondisi mengenaskan berbagai sungai yang merupakan Sub DAS Krueng Aceh di Aceh Besar. Sungai-sungai tersebut hancur-lebur, dikeruk untuk diambil material pasir dan kerikilnya, menyebabkan dinding sungai ambruk.

WALHI Aceh yang ikut turun ke berbagai titik galian C liar yang ada di Sub DAS Krueng Keumireu, dan Sub DAS Krueng Jreu beberapa waktu lalu, melihat sungai tampak sudah dangkal, gundukan kerikil dimana-mana, di beberapa tempat abrasi dinding sungai bahkan memakan lahan pertanian milik masyarakat. Namun sayangnya para pengusaha Galian C liar yang ditemui bersikap acuh tak acuh terhadap fenomena ini dan menolak menutup usahanya.

Ancaman kerusakan hutan juga dihadapi DAS Krueng Aceh terutama dikawasan Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan Seulawah, Hutan Lindung Jantho dan daerah Ulu Masen. Daerah-daerah ini merupakan habitat berbagai ekosistem dan mengandung kekayaan biodiversity yang tinggi sedang marak penebangan liar. Tak susah untuk melihatnya, cobalah lewat jalan lintas Banda Aceh – Medan, akan dengan mudah dilihat hutan yang sudah tandus.

Pemerintah Aceh harus lebih serius lagi dalam penyelamatan DAS Krueng Aceh, yang merupakan salah satu dari 15 DAS besar yang ada di Aceh. Kalau perlu bentuk program atau kegiatan misalnya SAVE OUR SEULAWAH, untuk menyelamatkan hutan yang tersisa. Tak perlu menunggu sampai benar-benar hutan yang tersisa tinggal secuil, air minum susah di dapat dan bencana melanda baru sibuk dengan berbagai program. [] lk