HMINEWS. Bukannya bersedih, teman-teman dekat Abdullah Hehamahua justru bersyukur atas tidak terpilihnya mantan Ketua Umum PB HMI tersebut sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Apa alasan mereka?

“Justru dengan tidak terpilihnya Bang Dullah, berarti Abang diselamatkan oleh Allah,” kata Adnan, seorang alumni HMI dalam duskusi di rumah Faruq Abdullah, Tanah Abang 4, Jakarta, Sabtu (3/12) malam.

Memang muncul kekecewaan sebagian besar pendamba tegaknya hukum di Indonesia. Sebab, meski dari segi usia Bang Dullah tak muda lagi, namun semangatnya tak pernah kendur. Bahkan, untuk posisi dalam lembaga  ‘pemberantas korupsi’ tersebut adalah satu-satunya yang dia sampai berani mendaftarkan diri.

Sebab selama ini ia berprinsip sebagaimana sebuah hadits “Jangan berikan jabatan pada orang yang memintanya.” Akan tetapi ini kekecualian, dengan mengqiyaskan dalam kondisi darurat, seperti dalam kondisi perang.

“Dahulu ada seorang pincang datang kepada Rasulullah meminta izin agar bisa ikut berperang. Akan tetapi dijawab oleh Rasulullah ‘Tidak ada bagimu kewajiban berperang.’ Hal itu terjadi beberapa kali hingga akhirnya sahabat tersebut ‘ngotot’.

“Apakah dengan kakiku yang invalid ini aku tidak berhak mendapatkan syahadah (kesyahidan)?” lalu Rasulullah pun mengizinkannya ikut berperang hingga syahid.

Untuk konteks Indonesia, perang melawan korupsi adalah jihad untuk menyelematkan masa depan Indonesia.

“Apabila makanan haram (termasuk dengan hasil korupsi) masuk ke tubuh, maka selama 40 hari doa, ibadah dan sholat orang tersebut tidak diterima. Lantas bagaimana dengan yang korupsinya turun-temurun hingga 32 tahun, kira-kira apa yang terjadi?” ujarnya.

Korupsi yang terjadi di Indonesia begitu rapi terorganisir. Tiada kata lain untuk menumpasnya dibutuhkan keberanian seperti Bang Dullah. Namun barangkali itulah skenario Allah menyelamatkan figur yang amat bersahaja tersebut, dengan tidak terpilihnya ia menjadi Ketua KPK. (Fathur)