Oleh:
Hamidulloh Ibda

Perayaan tahun baru masehi di seluruh
dunia dihiasi dengan aneka ragam kegiatan. Diantaranya dengan menyalakan api
unggun beserta iringan musik,  nongkrong
di pinggiran jalan atau alun-alun, dan sebagainya. Meskipun  macet, sesak, ramai dan tidak nyaman, masyarakat
rela untuk merayakan tahun baru di jalan. Di tempat itu mereka meluapkan
kegembiraan seolah-olah baru saja memenangkan pertandingan Sea Games.

Mengapa malam pergantian tahun harus meniup terompet, padahal tidak ada  peraturan untuk meniup terompet, hal itu hanya
tradisi masyarakat yang turun menurun. Meskipun
terompet tersebut hanya dipakai satu malam bahkan hanya berapa jam, masyarakat
tetap membelinya demi merayakan tahun baru.

Asal Mula Tradisi Meniup Terompet

Sebenarnya budaya meniup terompet merupakan budaya kaum Yahudi saat
menyambut tahun baru. Tahun baru mereka jatuh pada bulan ke tujuh sesuai sistem
penanggalan mereka. Pada malam tahun barunya, masyarakat Yahudi melakukan
introspeksi diri dengan tradisi meniup shofar, sebuah alat musik sejenis
terompet.

Terompet sudah ada sejak tahun 1.500 sebelum Masehi. Awalnya, alat musik
ini digunakan untuk keperluan ritual agama serta digunakan saat akan berperang.
Kemudian terompet dijadikan sebagai alat musik pada masa pertengahan Renaisance
hingga saat ini. Begitulah akhirnya terompet menjadi tradisi untuk menyambut
malam tahun baru masehi.

Makna Dibalik Terompet

Salah satu hal unik menjelang datangnya malam tahun baru adalah menjamurnya
penjualan terompet, baik di pedesaan maupun perkotaaan. Hampir semua orang dari
agama apapun meniup terompet pada malam menjelang tahun baru, sampai puncaknya
pada tengah malam tahun baru. Hal ini menunjukkan suatu kesamaan tradisi antara
penganut agama satu dengan lainya.

Tradisi meniup terompet pada mulanya merupakan cara orang-orang kuno untuk
mengusir setan. Seperti halnya Kaum Yahudi, mereka melakukan ritual meniup
terompet pada waktu perayaan tahun baru Yahudi, Rosh Hashanah yang
berarti “Hari Raya Terompet”,  yang jatuh
pada bulan September atau Oktober. Bentuk terompet yang melengkung melambangkan
tanduk domba yang dikorbankan dalam peristiwa pengorbanan Isaac (Nabi Ishaq
dalam tradisi Muslim). Hal ini sangat berbeda dengan ajaran Islam yang
menetapkan bahwa Nabi Ismail-lah, saudara Nabi Ishaq, yang diminta Allah untuk
dikorbankan.

Zaman dulu, terompet terbuat dari
kulit kerang dan biasa disebut sangkakala. Sangkakala termasuk perlengkapan
perang yang berfungsi sebagai tanda dimulainya atau berakhirnya sebuah
peperangan. Lantas, dengan berkembangnya teknologi, sangkakala mengalami
perubahan baik dari bahan maupun fungsinya. Dari yang berfungsi sebagai
perlengkapan perang berubah sebagai alat musik yang bisa menenteramkan atau
sebaliknya membuat emosi dan ujung-ujungnya tawuran.

Sehubungan dengan fungsi terompet
untuk merayakan tahun baru, penulis berpendapat bahwa hal itu memiliki makna
yang luar biasa bagi kehidupan kita. Sebagaimana fungsi terompet pada masa
lalu, yaitu sebagai tanda dimulai dan diakhirinya sebuah peperangan, maka
fungsi terompet sekarang untuk sarana berperang melawan fanatisme golongan.
Bisa jadi, tiupan terompet menjadi spirit untuk memerangi kemiskinan, kebodohan,
korupsi dan sebagainya.

Ketika semua orang membunyikan
terompet, itu pertanda bahwa makna toleransi telah digelorakan. Terompet
menjadi simbol toleransi bagi semua umat manusia. Jadi, sudah saatnya kita
membumikan toleransi lewat terompet yang ditiupkan pada malam tahun baru.

Spirit Toleransi

Bunyi terompet yang bersahut-sahutan pada malam tahun
baru, biasanya diikuti dengan pesta petasan dan kembang api. Dalam tradisi
Cina, membunyikan terompet merupakan ritual untuk mengusir setan. Hal ini bisa
kita jadikan semangat bahwa bunyian terompet adalah untuk mengusir rasa
fanatisme dan membuka diri untuk saling menghormati satu sama lain.

Tidak seperti tradisi dalam agama lain, Islam tidak
pernah menjadikan tahun baru sebagai sebuah hari raya, termasuk tahun baru
Hijriah sekalipun. Meski di Indonesia tahun baru Hijriah merupakan hari libur
nasional, tetapi kedudukannya tetap bukan hari raya. Jika Islam sendiri tidak
pernah merayakan tahun baru, maka mengapa umat Islam turut pula mengikuti
perayaan yang merupakan tradisi agama-agama lain? Bukankah Nabi Muhammad telah
mengingatkan bahwa mereka yang ikut-ikut tradisi suatu kaum, maka ia termasuk
dalam golongan kaum itu?.

Terlepas dari larangan di atas, idealnya agama
tidaklah untuk membatasi dan mempersulit kegiatan umatnya. Namun, semua agama
harus meringankan umatnya dalam konteks kehidupan secara luas, termasuk tradisi
meniup terompet, apakah itu dilarang atau tidak.

Bagi penulis, meniup terompet sebagai wujud
kegembiraan adalah hal yang wajar. Meniup adalah wujud kebangkitan. Bisa
dianalogikan bahwa untuk menyambut tahun baru, sebagai warga negara yang peduli
akan perubahan, maka kita harus bangkit dari kebodohan, kemiskinan, dan budaya
korup, serta peperangan.

Meniup terompet adalah wujud kepedulian terhadap
toleransi antar semua golongan, tanpa mempermasalahkan suku, ras, dan agama
yang ada di Indonesia. Karena tidak ada aturan baku, maka seluruh umat agama di
Indonesia merayakan malam tahun baru dan meniup terompet dengan tujuan
merayakan tahun baru sebagai permulaan menjalani hidup satu tahun kemudian.

Jadi, sudah saatnya kita sebagai warga negara
meniupkan terompet untuk perdamaian dan semangat pluralisme tanpa memandang
latar belakang golongan. Dan mudah-mudahan dengan hal kecil ini akan tercipta
sebuah perubahan besar, yakni perdamaian dan spirit toleransi di Indonesia.

Perayaan tahun baru sangat relevan
untuk mengembalikan kesadaran toleransi bangsa Indonesia. Sebab, sampai detik
ini, konflik, terorisme, tawuran, menfitnah, dan menghasut masih terus
bergejolak tiada akhir. Contohnya, konflik antar suku di lampung, serangan atas
masyarakat sipil oleh militer di mesuji lampung beberapa waktu lalu, serta kericuhan
pilkada di Papua barat masih diwarnai dengan kekerasan, serta bom yang terjadi
di gereja solo kemarin menunjukkan masih minimnya toleransi diantara sesama.

Itulah sebabnya mengapa tahun baru
patut dirayakan tidak hanya di negara barat, melainkan juga seluruh elemen di
negeri ini. Setidaknya, kita bisa mengambil spirit toleransi yang tersimpan
dalam ritual tahun baru. Spirit toleransi itu dapat kita lihat dalam perayaan
tahun baru dengan ramai meniupkan terompet bersama masyarakat luas. Berkumpul
bersama dalam bingkai kebersamaan dan toleransi.

Nilai-nilai tersebut harus ditanamkan
dalam setiap diri kita dan masyarakat Indonesia, terutama dalam menyikapi
kemajemukan. Gusdur mengemukakan bahwa, “Manusia yang peduli toleransi, ialah yang
dapat membangun dasar bagi suatu masyarakat yang beradab”. Spirit saling
menghormati harus dibangun sejak dini dengan cara apapun. Hal itulah kemudian
mengapa tahun baru patut kita rayakan dengan semangat perdamaian.

Ibarat sebuah rumah, ritual tahun
baru adalah bangunan besar yang dihuni oleh beragam orang yang berbeda-beda.
Semua penghuni memiliki kebebasan dengan saling menghargai satu sama lain.  Hal itu menjadi cerminan bahwa spirit
toleransi sudah menjadi milik mayoritas masyarakat Indonesia.

Kita harus banyak belajar dari
berbagai pihak dalam menyikapi keberagaman. Dalam konteks keindonesiaan yang
multi etnis dan agama, kita dituntut untuk lebih
dewasa dan profesional. Bukan sekadar merayakan tahun baru saja, tetapi harus
didorong semangat persatuan demi tewujudnya tatanan masyarakat yang
mengutamakan tenggang rasa, keadilan, perdamaian, dan toleransi.

Berpaijak dari itu, mari kita jadikan tahun baru kali ini menjadi momentum untuk
mengakhiri semua prasangka buruk dan mulai menumbuhkan spirit menghargai
perbedaan dalam keberagaman (Bhinneka Tunggal Ika).

Karena itu, dengan spirit tahun baru
2012 semua pihak perlu melakukan perubahan. Upaya perbaikan perlu dilakukan di
semua hal, khususnya yang menyangkut segala aspek persatuan, demi mewujudkan
cita-cita bangsa, yakni masyarakat adil makmur. Semoga dalam memasuki tahun
baru 2012, kita semua memiliki komitmen sama untuk saling menebarkan
keselamatan dan kedamaian bagi semua, amin.

 

Penulis adalah Instruktur HMI Cabang Semarang Pendiri dan Presiden Partai Amanat Mahasiswa (PAM) IAIN W9 Semarang