Dr. Natana J. DeLong-Bas

Boston, Massachusetts – Selama akhir pekan lalu, para pengunjuk rasa berkumpul di toko-toko Lowe yang menjual peralatan rumah, dan mengkritik keputusan perusahaan ritel itu baru-baru ini untuk mencabut iklannya dari sebuah acara televisi, All-American Muslim. Keputusan Lowe ini menyusul pengaduan dari Florida Family Association – sebuah kelompok Kristen evangelis konservatif yang bertujuan untuk “mendidik masyarakat tentang apa yang mereka bisa perbuat untuk membela, melindungi dan mendorong nilai-nilai tradisional Alkitab” – bahwa acara ini adalah “propaganda”. Mereka juga mengatakan “bahwa [acara ini] menutup-nutupi bahaya dari agenda Islam yang cukup jelas bagi kebebasan Amerika dan nilai-nilai tradisional.”

All-American Muslim ialah sebuah acara realiti yang memotret lima keluarga Arab-Amerika Muslim di Dearborn, Michigan. Tujuan acara ini adalah memberi para pemirsa suatu jendela untuk melihat kehidupan orang-orang Muslim keturunan Arab yang tinggal di Amerika Serikat dewasa ini. Karena acara ini mempertontonkan situasi kehidupan nyata, acara ini kadang menyertakan berbagai kejadian diskriminasi dan bagaimana keluarga memilih untuk menanganinya.

Selaku seorang profesor teologi yang membidangi Islam maupun Kristen, saya sering kali diminta berkomentar tentang isu-isu terkait agama. Setelah mencoba mencermati berbagai episode acara tersebut dan blog-blog tentang tayangan ini, saya temukan bahwa di antara para keluarga ini ada yang sedang merencanakan resepsi pernikahan, menikah, menghadapi tantangan mengasuh keluarga, menyadari bahwa menjadi seorang ayah berarti mementingkan kesejahteraan dan kebutuhan anak-anak di atas kepentingan sendiri, melatih tim sepak bola sekolah menengah, dan merenungkan status menjadi ibu sebagai hadiah yang terbesar dari Tuhan.

Saya pribadi tidak menemukan ada hal yang menyudutkan, berbahaya atau mengandung propaganda dari tayangan ini. Bahkan, kesan saya, fokus pada keluarga memang menjadi inti kebebasan dan nilai Amerika tradisional.

Lalu apa masalahnya?

Masalahnya sepertinya adalah ketidaktahuan tentang siapa orang Muslim itu dan apa yang mereka yakini. Kendati ada upaya-upaya sejak 11 September untuk mendidik publik Amerika tentang Islam dan Muslim, tetap saja pemahaman dan informasi yang akurat masih minim, dan ini sayangnya sering kali melahirkan ketakutan, kebencian, prasangka, kefanatikan dan, akhirnya, diskriminasi, yang sangat mengakar.

Tetap diam saja setelah ada prasangka dan kebencian berarti ikut bergabung dengan orang-orang itu. Sama seperti kita menuntut agar Muslim angkat bicara untuk melawan orang-orang yang melakukan aksi terorisme dan ekstremisme atas nama Islam, orang Kristen juga harus angkat bicara untuk melawan orang-orang yang mendakwahkan kebencian, kefanatikan dan kebodohan atas nama Kristen.

Selaku orang Amerika, saya percaya bahwa kita memiliki kewajiban untuk mengemban tanggung jawab yang mengiringi kebebasan berpendapat – tanggung jawab untuk memastikan bahwa kata-kata kita tidak digunakan untuk melukai orang lain, entah secara fisik atau emosional; tanggung jawab untuk menggunakan kata-kata kita untuk menyampaikan informasi yang akurat daripada melanggengkan stereotipe negatif; dan tanggung jawab untuk menggunakan kata-kata kita untuk membangun, alih-alih meruntuhkan, masyarakat dan satu sama lain.

Selaku orang Kristen, apalagi menjelang perayaan Natal, saya ingin menggunakan kebebasan berpendapat saya untuk menjelaskan bahwa Muslim dan Kristen meyakini banyak sekali nilai-nilai yang sama – pentingnya keluarga, kepedulian akan keadilan sosial dan pentingnya iman kepada Tuhan. Meski Muslim dan Kristen tidak sepakat tentang apakah Yesus itu putra Tuhan, namun Muslim memandang Isa memiliki kedudukan tinggi sebagai salah satu nabi dan utusan Tuhan yang membawakan wahyu Tuhan melalui Injil kepada manusia.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa Isa adalah “sabda dari Allah” (3: 45) dan “ruh dari Allah” (4: 171), yang dikandung dan dilahirkan oleh Maryam (3: 47 dan 19: 16-23), yang telah diajari “Kitab dan hikmah, dan Taurat serta Injil” oleh Tuhan (3: 48). Al-Qur’an juga mengingatkan kita bahwa Isa datang untuk “menyembuhkan orang yang terlahir buta dan terkena kusta,” untuk “membangkitkan orang mati” (3: 49 dan 5: 110) dan untuk “membenarkan Taurat yang datang sebelumnya” (3: 50). Ajaran-ajaran ini pada dasarnya sama dengan apa yang orang Kristen yakini tentang Yesus, dan menawarkan titik kesamaan ketika kita tengah menjelang Natal – saat-saat penuh harapan, persahabatan dan, yang paling penting, perdamaian di muka bumi.

Agama kita bersama, entah Muslim atau Kristen, memerintahkan kita untuk mencintai Tuhan dan sesama manusia. Saya berdoa agar lebih banyak orang Kristen dan Muslim yang akan menggunakan kejadian terakhir ini untuk bersilaturahim satu sama lain dan mengenali seberapa banyak kesamaan yang kita miliki lewat kekuatan cinta itu, daripada membiarkan ketakutan terus memecah dan menaklukkan kita.

###

* Dr. Natana J. DeLong-Bas ialah Pemimpin Redaksi The [Oxford] Encyclopedia of Islam and Women dan pengarang Wahhabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad. Ia mengajar perbandingan agama di Boston College.

Artikel ini ditulis atas kerja sama HMINEWS dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).