HMINEWS.COM

 Breaking News

Korupsi…“Rakyat Tertindas, Pejabat Terbahak”

December 20
07:21 2011

HMINEWS –  Berbicara tentang korupsi di negeri ini sudah sangat membosankan, sepertinya korupsi sudah menjadi makanan basi bagi rakyat, namun tetap menjadi makanan lesat bagi para koruptor. Di koran, di TV, di radio, hampir tiap hari berita tentang korupsi tidak pernah ketinggalan. Selalu saja menjadi bumbu pelengkap pemberitaan dalam media massa.

Kemarin, tepatnya pada hari jum’at, 9 desember 2011, merupakan hari anti korupsi sedunia. Seluruh penjuru dunia turut merayakannya, banyak versi yang di lakukan rakyat dunia ini untuk memperingati hari tersebut. Khususnya di Indonesia, mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di tanah air merayakan hari anti korupsi dengan turun kejalan, menyorakkan isi hati mereka dan pesan-pesan dari rakyat yang tertindas. Bahkan salah satu mahasiswa dari UBK nekat membakar tubuhnya di depan Istana negara Republik Indonesia, aksi nekat yang dilakukan oleh Sondang Hutagalung sepertinya ingin menujukkan kepada pemerintah bahwa rakyat telah bosan dengan keadaan bangsa sekarang ini. “Rakyat tertindas, pejabat terbahak,” mungkin itulah kalimat yang tepat untuk sekarang ini. Melihat kondisi bangsa yang sangat terpuruk, Serasa kita mengulang sejarah yang pernah ada, yakni zaman jahiliyah, mungkin inilah gambaran zaman jahiliyah versi sekarang ala Indonesia.

Negara Indonesia yang kita cita-citakan menjadi negara yang aman, makmur dan sejahtera sangat sulit untuk di wujudkan saat ini, jika budaya korupsi masih saja terus menjalar dalam tubuh pemerintahan Indonesia. Sekarang ini sangat sulit membedakan antara kawan dan lawan, sulit membedakan pemimpin dan “penjahat”. Jika mereka mempunyai kepentingan, rakyat di perlakukan baik, diberi janji-janji manis seakan-akan semua yang mereka lakukan hanya untuk rakyat, tapi seketika semua yang diinginkan telah terwujud, rakyat ditelantarkan, janji terlupakan.

Para pejabat negara dengan bangga memakai mobil mewah melewati sepanjang jalan dengan pengawalan ketat, pandangan kedepan, tanpa menengok kanan kiri melihat keadaan disekelilingnya di mana para gelandangan, anak jalanan, pengamen dan peminta-minta bertebaran di sepanjang jalan, mencari nafkah demi untuk sesuap nasi. Pengangguran setiap tahun bertambah, korupsi meraja lela, pelanggaran HAM dimana-mana. Inikah yang mereka sebut sebagai suatu kemajuan bangsa?

Mereka sebagai wakil rakyat bukannya memikirkan bagaimana negara ini bisa maju, bisa makmur, agar rakyat sejahtera. Malah lebih memikirkan mobil mewah, rumah megah, menumpuk harta sebanyak-banyaknya yang ujung-ujungnya korupsi juga. Benar juga lelucon yang mengatakan “jika rakyat miskin berpikir untuk hari esok mereka mengatakan, ‘besok makan apa?’, namun jika para koruptor berpikir untuk hari esok mereka mengatakan, ‘besok makan siapa?’.” Memang sungguh memprihatinkan keadaan tanah air tercinta ini.

Sangat mengherankan, Indonesia yang begitu kaya dengan hasil alamnya yang melimpahrua, namun terlilit banyak utang, penduduknya banyak yang terkena penyakit busung lapar. Hasil bumi tidak dimanfaatkan untuk kemakmuran rayat, malah disalah gunakankan oleh kelompok tertentu. “Indonesia kaya, tapi miskin” itulah kalimat yang cukup membingungkan untuk dimengerti, tapi itulah Indonesia.

Korupsi di Indonesia memang sulit untuk diberantas, namun tidak menutup kemungkinan budaya korupsi itu bisa dihilangkan. Kita  hanya Perlu ketegasan hukum yang lebih di Indonesia untuk para pencuri-pencuri elite yang bersembunyi di balik topeng kekuasaannya. pemerintah harus meluangkan tenaga extra serta kerja sama yang baik antara pemerintah dan rakyatnya agar budaya korupsi tidak berlanjut pada genarasi bangsa berikutnya. Perlu juga ditanamkan pendidikan agama,  terutama pendidikan akhlakul karimah terhadap anak bangsa serta peningkatan terhadap SDM di negara Indonesia, agar generasi penerus bangsa bisa menjadi memimpin yang bebudi pekerti luhur dan tetap bisa mengikuti perkembangan zaman. Dan yang pastinya budaya korupsi tidak menjangkit pada mereka. Sehingga cita-cita awal yang menginginkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang aman, makmur, rakyat sejahtera dapat terlaksana.

 

Penulis: Eka Kartini (kader HMI konfak Adab UIN Suka)

email: Ibnoe Rusdy <ibnoe_rusdy@yahoo.com>;

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.