Oleh : Gigih Prihantono
Email: gigih.prihantono@yahoo.co.id

Latar Belakang

Persoalan dinamika sosial politik republik Indonesia sudah semakin kompleks dan rumit. Mulai dari persoalan tumpahnya minyak di daerah Nusa tenggara timur, meledaknya tabung gas elpiji, ptindak kekerasan terhadap orang yang berbeda faham, sampai kerusuhan-kerusuhan di sejumlah arena Pilkada. Indonesia sebagai Negara yang kaya akan budaya saling menghormati dan tolong menolong, berubah secara perlahan-lahan menjadi Negara yang mementingkan diri sendiri. Gejala inilah yang menyebabkan Indonesia berada kondisi stagnan, sehingga kita cenderung mengakugumi kemajuan-kemajuan yang telah dicapai Negara lain.

Bung Karno pernah berpesan Jasmerah (Jangan Lupakan Sejarah)! Ya, sejarah  Negara Indonesia berawal dari sekelompok pemuda yang berkumpul dan berhimpun bersama mengucapkan Sumpah pemuda untuk menandakan bahwa kita berbangsa satu, berbahasa satu dan ber tanah air satu, tanah air Indonesia. Inilah yang menjadi tonggak kelahiran era baru, era angkatan 1945. Dimana para pemimpin-pemimpin besar lahir, seperti: Sutan Sjahir, Tan Malaka, Moh Hatta, dan tentu saja pemimpin besar Revolusi Bung Karno. Bung Karno merupakan pemimpin yang kompleks, konon katanya jika Bung Karno berpidato Hitler pun diam duduk terpaku (Goeritno,2010).

Sejarah diatas merupakan sebuah “romantisme” masa lalu yang telah banyak dilupakan oleh generasi muda sekarang. Hal tersebut berlaku juga untuk HMI. Sebagai organisasi kader yang tujuan akhirnya adalah “ Terbinanya insan Akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan Bertanggung jawab atas terwujudnya Masyarakat Adil dan Makmur yang Diridhoi Allah SWT” belum mampu menciptakan kader-kader pemimpin untuk menjawab tujuan akhir dari Organisasi ini. Menurut penulis kader-kader HMI saat ini hanya terjebak romantime masa lalu dan berjalan dengan kereta yang sudah ketinggalan jaman. Untuk itu perlu ada pembaruan dalam cara pandang, berpikir dan bersikap di tubuh kader-kader HMI.

Permasalahan Kemunduran Pengkaderan HMI

Menurut Kanda Solichin yang dikutip dari buku karangan Kanda Agussalim Sitompul. Beliau mengungkapkan ada 44 indikator mengenai kemunduran HMI. Sepuluh indikator diantaranya: 1. Menurunnya jumlah mahasiswa baru yang masuk HMI; 2. HMI semakin jauh dari Mahasiswa; 3. Pola pengkaderan HMI ketinggalan jaman; 4. Kader-kader sekarang kurang mampu mengikuti jejak para pendahulunya; 5. Kurangnya berfunsinya bagan structural HMI seperti: Badko, cabang dan komisariat; 6. Lemahnya manajemen organisasi; 7. Kurangnya pengetahuan, pemahaman dan penghayatan agama Islam dari seorang kader; 8. Belum optimalnya pengetahuan, pemahaman dan penghayatan tentang ke-HMI-an; 9. Follow up pengkaderan tidak berjalan sebagaimana mestinya; 10. HMI jarang melakukan evaluasi terhadap jalannya organisasi.

HMI sebagai organisasi pengkaderan tertua di Indonesia tentu sudah berpengalaman dalam melahirkan pemimpin-pemimpin yang unggul. Namun dewasa ini HMI mengalami tantangan berat untuk dapat menanggulangi kemunduran-kemunduran yang terjadi saat ini. Disinilah dituntut peran kader-kader sebagai seorang pemimpin untuk mengangkat kembali nama HMI menjadi sebuah organisasi terbaik di Indonesia.

Beyond Resonant Leadership

Tentu untuk mengatasi permasalahan-permasalahan diatas tidak semudah membalikkan telapak tangan. Harus melewati tahap demi tahap guna mewujudkan cita-cita HMI. Mencetak kader yang berkualitas tentu sangat mudah didalam sebuah konsep dan saya yakin semua komponen kader HMI tahu itu,akan tetapi saat dihadapkan pada penerapan sebuah konsep yang kita jabarkan dengan enaknya terlihat sangat rumit dan sulit.

Untuk menciptakan kader-kader berjiwa pemimpin tentu hal pertama yang harus dilakukan adalah bagaimana menarik minat kader-kader tersebut. Setelah menemukan faktor yang menarik tersebut, maka selanjutnya adalah bagaimana mengola faktor yang menarik tersebut menjadi sebuah rencana kerja. Penulis akan mengambil contoh sebuah cerita tentang wabah penyakit di tahun 1840-an.

Wabah ini timbul dari sebuah pertanyaan, mengapa banyak ibu-ibu melahirkan terserang deman tinggi setelah melahirkan? Para ahli kesehatan dijaman tersebut menemukan bahwa penyebabnya adalah sebuah kuman dan kuman itu tidak bisa muncul dengan sendirinya pasti ada faktor pembawa. Adalah Ignatz Semmelweis, seorang dokter muda kelahiran Hungaria. Beliau menemukan bahwa kehadiran dokter muda yang membawa penyakit ini. Mengapa seorang dokter muda? Pada jaman itu dokter muda setelah melakukan kegiatan praktek mempelajari anatomi tubuh dari mayat, langsung masuk tanpa melakukan pembersihan pada bagian tubuh yang bersentuhan dengan mayat.

Akibatnya? Kuman dari mayat pindah ke tubuh dokter tersebut lalu masuk ke tubuh pasien yang hamil ini. Lalu solusi yang diajukan Ignatz Semmelweis? Beliau mewajibkan para dokter untuk cuci tangan sebelum masuk ruang operasi. Dengan begitu apakah saran Ignatz Semmelweis diterima? Diluar dugaan saran tersebut tidak diterima bahkan dicaci maki. Mustahil hal serumit itu dapat diselesaikan dengan cara yang sangat sederhana. Hingga akhirnya si Ignatz Semmelweis dimasukkan kedalam sanatorium karena dianggap gila.

Waktu terus berlalu akhirnya pemikiran Ignatz Semmelweis diterima oleh para dokter jaman sekarang. Namun apakah semua dokter jaman sekarang mencuci tangannya? Maka penelitan baru-baru ini mengungkapkan bahwa dokter yang mencuci tangan mereka dengan prosedur yang telah ditetapkan tingkat kepatuhannya kurang dari 50%. Hal inilah yang membuat pusing para pengelola rumah sakit. Beragam insentif mulai diberlakukan seperti: Memberi bonus uang, tiket gratis ke Disneyland atau kupon gratis starbucks. Apakah ini berhasil? Ternyata tingkat kenaikannya dibawah 50%.

Akhirnya pengolala rumah sakit memutar otaknya kembali, agar kebiasaan mencuci tangan dilakukan secara benara. Adalah Rekha Murthy, seorang spesialis epidemologi yang memberikan solusi cerdas dan sederhana. Dengan memasang gambar tangan penuh kuman di dinding-dinding rumah sakit. Hasilnya? Kepatuhan membasuh tangan meningkat hampir 100%.

Apa yang dapat diambil dari pelajaran diatas? Pengurus HMI sekarang harus dapat menemukan sebuah faktor yang disebut faktor kelekatan. Apa itu? Yaitu faktor yang akan menempelkan orang pada organisasi HMI dan membuat mereka mencintainya. Faktor ini tidak membutuhkan sesuatu yang rumit-rumit, malahan hal-hal sederhana dan tidak memerlukan biaya besar. Kita lihat contoh diatas seorang  Ignatz Semmelweis dan Rekha Murthy menemukan solusi yang sangat mudah dan murah. Namun satu hal yang harus dipunyai untuk menemukan dan menerapkan faktor kelekatan diperlukan sifat Beyond Resonant Leadership. Pemimpin yang mengerti dirinya, mampu melihat yang terdalam dari yang terdalam dan mampu menggemakan pemikirannya sehingga, orang ikut tertarik masuk kedalam alur berpikirnya.

Penutup

Menciptakan seorang pemimpin yang bukan dari kedudukannya tapi dari dalam dirinya(self- esteem) guna menumbukan corak kepemimpinan(leadership identity) bergantung dari bagaimana cara kader-kader HMI melihat arti kepemimpinan itu sendiri. Setelah mengerti arti kepemimpinan dalam dirinya. Setelah memahami itu baru mempraktekan dan menggemakan pemikirannya. Dan akhirnya seorang kader HMI menjadi contoh dan idola. Sehingga dapat menarik minat mahasiswa-mahasiswa untuk ikut bergabung dan menjadi tunas-tunas baru pemimpin yang unggul guna “ Terbinanya insan Akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan Bertanggung jawab atas terwujudnya Masyarakat Adil dan Makmur yang Diridhoi Allah SWT”. Semoga tulisan ini bisa membuka sedikit gerbang guna kemajuan HMI. Yakin Usaha Sampai. Wallahu a’lam bi ashshawab.