Judul: A New Christ, Jesus – The Man and His Works
Penulis: Wallace D. Wattles
Penerjemah dan Apresiator: Anand Krishna Ph.D
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I/November 2011
Tebal: xxxxii + 251 halaman
ISBN: 978-979-22-6342-8
Harga: Rp 58.000

Rhonda Byrne penulis buku The Secret (2006) mengaku terinspirasi karya Wallace D. Wattles yang berjudul The Science of Getting Rich(1910). Buku tersebut merupakan buku ketiga Wattles. Karya perdana Wallace ialah A New Christ (1900).  Pada saat itu, Partai Sosialis di Cincinnati Ohio mengundangnya berceramah.  Lantas, naskah pidato bertajuk Jesus: The Man and His Works itulah yang dibukukan oleh panitia. Lewat karya ini, Wattles memperkenalkan sisi lain kehidupan Yesus.

Buku A New Christ, Jesus – The Man and His Works merupakan terjemahan, re-editing, dan catatan Anand Krishna Ph.D. Pada bagian kata pengantar Reverend Mindawati Perangin-angin Ph.D turut memberi sekapur sirih. Ia seorang pendeta perempuan kondang. Uniknya, Rev. Mindawati tak hanya melayani umat Kristiani, ia berinteraksi pula dengan sesama umat beragama lain. Tepatnya di Jakarta, Medan, Darwin dan beberapa kota terpencil di negeri Kangguru.

Direktur Eksekutif Research Center for Religion and Education (ERCRE) ini mengkritisi kecenderungan Barat. Karena kini gerakan New Age justru menjadi ekslusif. Secara lebih mendalam, Pendeta Gereja Batak Karo itu berpendapat bahwa manusia tidak membutuhkan perantara dalam laku spiritual. Sebab esensi doa ialah mengingat, menjalin relasi, dan menyadari kemanunggalan dengan-Nya (halaman 134).

Buku ini lebih banyak mengisahkan pengalaman Wattles. Sejak awal, Ia tidak tertarik dengan bangunan megah. Tapi tatkala ia berada di tengah kerumunan anak-anak jalanan, di pasar, dan di tengah para pekerja pabrik yang bersimbah peluh, secara otomatis hati Wattles tergetar. “Ketika  berhadapan dengan mereka yang tetap berkarya walau menderita; mereka yang tetap mencintai walau yang dicarinya belum ketemu, kepala saya tertunduk dengan sendirinya (halaman 44).”

Bahkan Wattles berani melukiskan adegan Yesus dan anak-anak kecil secara berbeda. “Yesus dari Nasareth berada di tengah kerumunan buruh kasar. Anak yang digendongnya itu putri keluarga miskin.” Lebih lanjut, karena orang tuanya tak berpunya, anak itu jelas tidak bersih. Rambutnya tak pernah disisir. Badannya dipenuhi bisul dan berbau tak sedap. Fakta historis ini merupakan cerminan masa gelap peradaban di Galilea.

Dongkrak vs Spiral

Tak hanya berkeluh-kesah, Wattles juga berbagi solusi konkrit. Ia memperoleh inspirasi dari seorang peserta ceramah. Gadis miskin dan tidak berpendidikan pula. Menurut gadis itu, keadaan dunia kita saat ini ibarat sedang diangkat dongkrak, “Orang kecil seperti diriku adalah gagang dongkrak tersebut. Rakyat miskin mengangkat dunia ini. Kita mengembangkan industri. Ironisnya, kita sendiri tak pernah menikmati semua kemajuan itu. Dunia yang didongkrak naik meningkat, tapi gagang dongkrak tetaplah berada di bawah.”

“Saatnya orang kecil tidak menjadi dongkrak lagi. Mari kita membuat tangga spiral untuk dipakai bersama. Betapa indahnya, jika kita semua bisa meningkat, maju, dan berkembang bersama. Awalnya mungkin kita tak mencapai lantai teratas, tetapi setidaknya kita sudah berupaya untuk mencapainya. Niscaya pada suatu ketika kita akan mencapai tingkat tertinggi bersama,” tulis gadis tersebut.

Dalam menafsirkan Yesus dan ajarannya, Wattles menggunakan metode naratif. Ia mengutip ayat-ayat Injil. Wallace tak begitu memperhatikan konteks (sitz im leben). Baginya semua kisah dinilai sama. Tidak ada pembedaan apakah itu tulisan dari: penulis Injil, Yesus sendiri, atau jemaat Kristiani awal. Berbekal kepingan-kepingan itulah Wattles menyusun mozaik sosok Yesus.

Kendati demikian buku ini layak menjadi bacaan alternatif jelang Natal. Isinya niscaya mendorong transformasi. Baik pada ranah  personal dan maupun di lokus sosial. Menyitir wasiat aktivis kemanusiaan, Wendel Phillips (1811-1884), “Ukirlah di atas batu nisanku: Kafir – Pembangkang. Kafir bagi setiap lembaga agama yang berkompromi dengan kebohongan. Pembangkang terhadap setiap rezim yang menindas rakyat.” Selamat membaca!  [] T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru Bahasa Inggris PKBM Angon (Sekolah Alam) Yogyakarta)

Sumber: Koran Jakarta. Berikut ini linknya: http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/78976