Selamat Jalan DEMO-krasi

 

Hari ini sahabat karibku pergi

Dia genggam erat tanganku sambil mengucapkan kata selamat tinggal

Genggamannya begitu erat dan kata-katanya begitu dalam, seolah dia tak akan kembali lagi

Sorot matanya tajam seperti biasa, sekaligus sendu mengiringi perpisahan kami

 

Hari ini sahabat karibku pergi

Dia tinggalkan kota yang telah membesarkan kami berdua

Dia tinggalkan semua kenangan yang kami ukir di tanah ini

Dia tinggalkan orang tua yang telah membesarkannya di tengah-tengah kesejahteraan yang tidak merata

dan biaya pendidikan yang sanggup memaksa setiap murid untuk menjual diri

Dia tinggalkan semua kemacetan dan keruwetan hidup yang senantiasa menempel di urat nadi kota ini

 

Dia tinggalkan tangisan gelandangan dan anak jalanan yang berada di tanah ini

Dia tinggalkan semua tontonan parade kekayaan para pengusaha di tengah-tengah kaum kiskin kota

Dia tinggalkan para pemimpin yang berjalan pongah diantara korban penggusuran yang tengah terkapar

Dia tinggalkan semua kawan yang turun ke jalan menuntut kesejahteraan yang adil dan merata

dan melawan sistem yang melanggengkan kemiskinan

Dia tinggalkan semuanya, tapi bukan karena menyerah…

 

Hari ini sahabat karibku pergi

Aku akan menuju tanah di timur negeri, katanya

Tempat yang indah, hutan-hutan masih lebat, burung kasuari menari riang

kekayaan alamnya berlimpah

dan setiap tanah yang dipijak serupa emas

 

Hari ini sahabat karibku pergi

Menuju tanah di timur negeri

Tempat yang kaya raya

Tapi rakyatnya hidup tak bahagia

Tak ada jalan yang halus dan mulus seperti di ibukota

yang karenanya tak ada mobil dan sepeda motor bersliweran membuat macet

Tak ada bangunan indah dan rumah megah

Tak ada toko-toko dan restauran mewah

 

Di tanah yang kaya raya itu

Rakyatnya hidup sederhana

Tak memakai kemeja dan dasi

dan tak perlu memakai parfum dari Paris

Bahkan pakaian yang dipakai tidak membeli di butik atau distro

tapi diambil langsung dari alam, sumber dari segala kehidupan

 

Di tanah yang kaya raya itu

Rakyatnya hidup sederhana

Mereka makan dari hasil berburu dan bercocok tanam

Bukan membeli di KFC atau Mc. D

 

Hari ini sahabat karibku pergi

Menuju tanah di timur negeri

Karena disana pengusaha hidup senang, tapi buruh hidup malang

Karena disana pemimpin memanjakan orang berharta, tapi menendang yang tak punya

Karena disana keadilan dan kesejahteraan tak merata

Sama seperti di kota tempat tinggal kami, namun lebih tragis

 

Hari ini sahabat karibku pergi

Menuju tanah di timur negeri

Dia ingin bernyanyi dan berorasi

Di depan gedung tinggi, tempat para petinggi yang tinggi hati bersinggasana

Di depan pabrik besar, tempat pengusaha tambun tersenyum lebar

Di depan markas orang-orang berotot, yang katanya siap membela tanah air sampai mati

tapi berdiam diri melihat rakyat dimiskinkan, sekarat, atau bunuh diri

 

Hari ini sahabat karibku pergi

Menuju tanah di timur negeri

Semoga ia tidak tertembak sebelum sempat menjejakkan kaki

Seperti buruh yang menuntut kenaikan upah

Atau seperti yang dialami kawannya di tahun 98

 

Hari ini sahabat karibku pergi

Menuju tanah di timur negeri

Aku biasa memanggilnya DEMO

Tapi orang-orang mengenalnya dengan nama Demokrasi

 

Solo-Ibukota Revolusi

09-11-2011

Iswan Heri
Email: iswanaja@ymail.com