HMINEWS- “Lahirnya buku ini saya sambut dengan senyuman dan ironi. Ironi karena hal semacam Karma Yoga ini sebenarnya hal yang sangat dekat dengan bangsa ini tapi terlupakan, sampai tokoh seperti Anand Krishna harus menulis buku untuk mengingatkan kita tentang nilai luhur tersebut!” demikian salah satu komentar Muhammad AS Hikam dalam acara Bedah Buku Karma Yoga “Etos Kerja Transpersonal bagi Orang Modern” yang diadakan di Gramedia Matraman, Jakarta pada Minggu (6/11), pukul 14.00-16.00 WIB.

Dari awal, acara yang terselenggara berkat kerjasama Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB), Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU), Toko Buku (TB) Gramedia Matraman, dan The Hikam Forum ini, sudah dimulai dengan cukup unik. Berbeda dari kebiasaan formal dalam bedah buku umumnya, acara dibuka dengan lagu-lagu yang menggebrak namun menyentil. Ada lagu berjudul “Damai Indonesia” dengan irama sengko-sengko Batak, “Cintailah semua makhluk”, dan “Satu Bumi Satu Langit Satu Umat Manusia” dengan irama Selayang Pandang. Seolah menegaskan tujuan diadakannya bedah buku Karma Yoga ini. Yaitu menyebarkan dan mengaplikasikan nilai-nilai Peace, Loveand Harmony dalam kehidupan.

Acara ini dipandu oleh moderator Dian Martin, pun menghadirkan pembicara-pembicara berkelas. Yaitu Mohammad AS Hikam (Menristek pada era Gus Dur), Ida Ayu Utami Pidada (Mantan anggota DPR RI), Muhammad Guntur Romli (Aktivis), serta sang penulis buku Karma Yoga sendiri, Anand Krishna. Bedah buku ini menyedot 200 pengunjung lebih. Mereka memenuhi Function Room Gramedia Matraman. Fenomena yang membahagiakan menurut Guntur Romli, “Ternyata aktivitas intelektual yang mencerahkan, tidak kontradiktif dengan aktivitas keagamaan (Idul Adha)”.

Bedah buku berlangsung seru. Kenapa? karena masing-masing pembicara mengupas dari perspektif yang saling komplementer. Sehingga makin memperkaya isi dari buku Karma Yoga. Guntur Romli membahas dari segi pemahaman beliau tentang Islam. Di mana banyak sekali surah dan hadits yang menekankan pentingnya berkarya tanpa pamrih. Guntur Romli menandaskan, “Buku Karma Yoga ini sebenarnya tidak perlu terlalu dibedah karena yang paling penting adalah aplikasinya.”

Sedangkan, AS Hikam menyoroti surutnya nilai-nilai Karma Yoga. Nilai-nilai “Rame Ing Gawe, Sepi Ing Pamrih” dalam bangsa Indonesia. “Saya yakin buku ini akan menginspirasi gerakan moral untuk memperbaiki bangsa. Seperti gerakan Occupy Wall Street yang lahir untuk mendobrak kerusakan akibat kapitalisme,” ujar AS Hikam. Beliau juga mengingatkan bahayanya “salah paham dan paham yang salah” yang belakangan makin marak terjadi di Indonesia. AS Hikam menyoroti betapa nilai-nilai gotong royong dan tanpa pamrih ini makin luntur. Karena didesak dengan kenyataan fanatisme agama dan kelompok. Ini yang membuat jurang-jurang perbedaan menganga makin lebar.

Utami Pidada lebih mengupas dari segi kesadaran berbangsa dan bernegara. Yaitu betapa bobroknya sistem politik dan ekonomi Indonesia saat ini. Hilangnya nilai-nilai luhur Karma Yoga, nilai-nilai “Rame Ing Gawe, Sepi Ing Pamrih” telah menjadikan politisi kita bekerja demi uang, demi pribadi, dan demi kelompok. Bukan lagi untuk kepentingan luas. Namun, Utami Pidada dengan enerjik menantang para hadirin untuk mendobrak kemandegan tersebut. Sehingga dapat menciptakan Indonesia yang lebih baik. “Bagaimana caranya? Dengan semangat! Pulang ke rumah, baca, dan terapkan isi buku Karma Yoga!” ujarnya. Spontan disambut tepukan meriah seluruh hadirin.

Selanjutnya, Anand Krishna berbagi pemahaman beliau tentang Karma Yoga. Yakni lewat presentasi yang dikemas dengan sangat apik. Beliau menunjukkan sekian banyak kutipan dari tradisi berbagai agama. Semuanya menganjurkan semangat Karma Koga, semangat“Rame Ing Gawe, Sepi Ing Pamrih”. Namun, “Tidak berarti ketika bekerja, tidak dapat pamrih. Menurut saya pamrihnya tetap ada, tetap ada balasan untuk karyanya, tetapi pamrihnya sepi, tidak seramai gawenya, karyanya”, ujar penulis 140 buku  lebih tersebut.

Sesi tanya jawab pun berlangsung cukup seru. Hal yang luar biasa adalah para penanya semuanya menunjukkan rasa greget mereka. Semuanya merasakan ada yang tidak beres dengan masyarakat saat ini. Karena nilai-nilai Karma Yoga sudah luntur. Lantas bagaimana cara mengubahnya? Bagaimana untuk terus berkarya? Bagaimana untuk menciptakan mentalitas berbagi?

Semua pembicara dengan gayanya masing-masing menekankan pentingnya praktek dan terus berkarya. Anand Krishna bahkan memberikan satu presentasi tentang Food Crisis(http://www.facebook.com/photo.php?v=209734802428183). Betapa pentingnya menghargai makanan sebagai inspirasi bagaimana melakukan Karma Yoga. Mulai dengan berkarya tanpa pamrih dari hal yang paling sederhana. “Marilah kita berjanji pada diri kita masing-masing untuk tidak menyia-nyiakan makanan!” ajaknya.

Dimulai dengan semangat dan diakhiri dengan contoh aplikasi praktis Karma Yoga. Diskusi ini benar-benar luar biasa! Bedah buku ini juga telah diadakan di Jogja, Denpasar, Singaraja, dan kali ini Jakarta. Jadi, kota mana lagi berikutnya? [] Reporter: Aiu Haryadi, Editor: T. Nugroho A