HMINEWS – Sudah satu bulan kementerian BUMN dipimpin oleh Dahlan Iskan berapa langkah langkah strategi mulai dilakukan oleh Dahlan Iskan dalam memiloti BUMN. Berikut ini adalah catatan dari Komite Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu mengenai kepemimpinan mantan bos Jawa Pos Group itu, sebagaimana diungkapkan oleh ketua umum FSP BUMN Arief Poyuono, S.E dan sekretarisnya Ainur Rofiq:

Ada beberapa catatan yang perlu diberikan apresiasi dari seorang Dahlan Iskan dalam melakukan langkah langkah yang strategis. Llangkah tersebut adalah kunjungan Meneg BUMN ke BUMN BUMN yang kurang sehat serta bertemu langsung dengan karyawan BUMN dan pimpinan serikat pekerjanya. Ini merupakan langkah yang sangat baik, sebab hal ini jarang dilakukan oleh Meneg BUMN sebelumnya, kalaupun ada meneg BUMN, hanya mengunjungi BUMN BUMN yang sudah sehat.

Langkah langkah dari Dahlan Iskan dalam sebulan memiloti BUMN dengan kunjungan ke BUMN BUMN yang sakit .bisa menjadi bahan bagi Meneg BUMN untuk melakukan evalusai secara komprehensif dan menghilangkan budaya ABS (asal bapa senang ) , serta pertemuan Meneg BUMN dengan pimpinan serikat pekerja bisa menjadi modal untuk menciptakan hubungan industrial yang baik

 

Strategi lainnya kementerian BUMN dibawah pimpinan Dahlan iskan  yaitu segera menuntaskan pengalihan aset tidak produktif tujuh perusahaan milik negara yaitu PT Pertamina, Perum Bulog, PT Kereta Api Indonesia, PT Perkebunan Nusantara II dan VIII dan PT Pos Indonesia. “Tujuh BUMN tersebut memiliki aset tidak produktif yang paling besar di antara BUMN lainnya. Ini harus segera kita benahi,” kata Menteri BUMN Dahlan Iskan, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa.22 November 2011

 

Rencana pengelolaan asset tidak produktif ketujuh BUMN tersebut akan di serahkan pada PT Perusahaan Pengelola Aset  ,dengan alasan untuk mengurangi beban perusahaan juga untuk meningkatkan kinerja perusahaan .

 

Patut dipertanyakan adalah mengapa menteri BUMN justru tidak memberikan kesempatan kepada BUMN BUMN yang memiliki asset tidak produktif untuk kembali megelola asetnya .sebab seperti asset Pertamina yang tidak produktif yang sekarang dikelola oleh oleh PPA pun kinerjanya takkunjung membaik , malah asset Pertamina yang berupa hotel Patrajasa dan tanah akan dijual murah murah oleh Perusahaan Pengelola Aset .

 

Sebaiknya asset asset BUMN yang tidak effetif justru dikelola kembali oleh BUMN tersebut tetapi dengan pengelolaan yang benar benar professional , sebab dengan adanya pengalihan asset asset BUMN yang tidak produktif  ke PPA dari sisi pembukuan  justru akan meyebabkan menurunnya nilai perusahaan dari BUMN tersebut  karena asetnya berkurang .

 

Pembenahan asset BUMN yang tidak produktif oleh menetri BUMN juga patut dicurigai sebagai upaya nantinya untuk melakukan obaral murah asset BUMN dengan dalih asset BUMN tidak produktif . sebab ketidak produktifan dari asset BUMN karena kurangnya program revitaslisasi terhadap asset asset BUMN yang tidak produktif selama .dan terkesan disengaja agar bisa dijual murah murah .seperti pada kasus kerjasama operasi Hotel Indonesia dan hotel Wisata dibawah PT Hotel Indonesia Natour dengan sistim   Built Operate Transfer  dengan grup Jarum selama 30 tahun yang nyatanya tidak memberikan keuntungan bagi negara .

 

Rencana lain untuk melakukan likuidasi dan pegabungan terhadap BUMN yang kurang sehat juga menjadi agenda dari Dahlan iskan , tentu saja kebijakan tersebut mempunyai dampak yang positif dan negative , mungkin tujuan awalnya adalah baik tapi dampak dari likuidasi dan pegabungan akan berimbas pada nasib karyawan karyawan BUMN , yang mana sudah dipastikan akan ada PHK besar besaran , tentu hal ini harus dipersiapkan dengan baik dan jangan samapi pekerja BUMN yang terkena PHK tidak dibayarkan hak haknya .

 

 

Dari langkah langkah yang diambil oleh Dahlan Iskan sepertinya Dahlan Iskan melupakan misi utama dari didirikannya BUMN yaitu untuk meyerap tenaga kerja yang tidak terserap oleh sector usaha swasta , seharusnya meneg BUMN tidak berkiblat pada neoliberalisme yang semata mata perusahaan dibuat hanya untuk mencari keuntungan belaka , sebaiknya pada BUMN BUMN yang merugi perlu dilakukan revitalisasi dan tidak perlu diberikan target target yang ambisius , lebih kepada target untuk tidak rugi dan mampu meningkatkan gaji pekerjanya itu sudah baik .

 

Ada beberapa langkah yang seharusnya cepat dilakukan oleh meneg BUMN jika ingin melakukan efisiensi dan efektifitas BUMN dalam mengahadapi pasar Global diantaranya dengan mengurangi jumlah komposisi komisaris komisaris di BUMN , dan biaya pengurangan posisi  komisaris komisaris di BUMN dapat dialokasikan untuk program pelatihan pegawai BUMN .langkah lainya adalah segera menganti para direksi yang kinerjanya tidak terlalau memuaskan serta direksi yang diindikasikan terlibat kasus korupsi .

 

Dahlan Iskan mungkin akan sulit sekali dikritisi atau  oleh stake holder BUMN sekalipun nantinya langkah langkah ataupun kinerja meneg BUMN kedepan tidak memuaskan alias gagal karena Dahlan Iskan tertolong posisinya diluar sebagi pemilik perusahaan media massa terbesar di Indonesia .tentu saja akan terjadi konflik of interest jika media massa ingin memberitakan ketidakmampuan Dahlan iskan atau kritik kritik dari stake holder BUMN seperti LSM, Serikat Pekerja BUMN ,DPR dan lain lain. []