HMINNEWS, Yogyakarta – Banyak pasangan menikah pada Jumat (11/11/’11). Salah satunya adalah kontributor HMINEWS dari Yogyakarta, Tarsisius Nugroho Angkasa. Tarsisius menikahi Emiliana Mawarni, mereka berdua menerima Sakramen Perkawinan dari Romo FX. Murdi Susanto Pr di Gereja St. Petrus dan Paulus, Klepu, Jalan Godean pada jam 12.00-13.30 WIB.

Dik Bangun membacakan bacaan pertama. Diambil dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus (5:22-33). Judulnya, “Kasih Kristus sebagai dasar hidup suami-istri.” Isinya menandaskan bahwa suami harus mengasihi isterinya. Sama seperti ia mengasihi tubuhnya sendiri. Mengasihi isteri sama dengan mengasihi diri sendiri. Itulah kenapa laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersatu dengan sang isteri.

Selanjutnya dalam bacaan Injil, Romo Murdi mengingatkan inti ajaran Kristiani, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi. Seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada Kasih yang lebih besar dari Kasih seorang yang memberikan nyawa untuk sahabat-sahabatnya.”

Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba. Kenapa? karena hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya. Tetapi aku menyebut kamu sahabat. Mengapa? sebab Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (bdk, Yohanes, 15:12-17).

Bahtera

Pada sesi kotbah, Romo Murdi mengilustrasikan hidup (ber)keluarga ibarat mengarungi samudera kehidupan dengan bahtera. “Saat ini jangkar telah dilepaskan, saatnya kalian berlayar menuju pantai kebahagiaan abadi. Jadikan bintang Kasih sebagai pedoman sehingga kalian bisa mengatasi badai dan topan yang menghadang,” pesannya pada kedua mempelai.

Lantas, tibalah saat yang ditunggu. Yakni pengucapan janji perkawinan di hadapan Allah, Imam, saksi, keluarga, dan umat. Semuanya hadirin berdiri dan terdengarlah sebuah janji, “Saya Tarsisius Nugroho Angkasa menyatakan dengan tulus ikhlas bahwa Emiliana Mawarni mulai saat ini menjadi istri saya.”

“Saya berjanji akan setia  kepadanya dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit, dalam suka dan duka hidup bersama. Saya akan mencintai dan menghormatinya seumur hidup. Serta bersedia menjadi Bapak yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada saya,” ujar Nugroho sembari menempelkan tangannya di atas Alkitab. Setelah itu, giliran Emiliana yang berjanji setia.

Selanjutnya, prosesi pemberkatan cincin pernikahan. Kedua cincin menjadi lambang kesetiaan dan cinta. Sehingga dapat senantiasa mengingatkan mereka akan janji perkawinan suci ini. “Mas Nugroho, terimalah cincin ini sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaanku kepadamu,” ujar Emiliana sembari menyematkan cincin emas di jari manis tangan kanan Nugroho. Tentu sebelumnya, mempelai pria melakukan hal serupa kepada mempelai wanita.

T. Nugroho seorang Puja Kesuma (Putra Jawa kelahiran Sumatra) tepatnya dari Bandar Lampung. Ia salah satu kontributor HMINEWS. Nugroho suka menulis di rubrik Resensi Buku karena ia memang hobi membaca. Tapi selama setahun terakhir, Nugroho lebih banyak menulis di rubrik Jurnalisme Warga. Terutama terkait kasus Anand Krishna. Sebab, ia berkeyakinan kasus tersebut hanya rekayasa. Tak ada satu bukti pun. Bahkan menurut hasil visum RSCM, Tara Pradipta Laksmi masih perawan ting-ting.

Sedangkan, Emiliana Mawarni ialah putri kelahiran Jawa. Hobi Emi – begitu nama panggilannya – ialah memasak dan menyanyi. Keduanya berkenalan 2 tahun silam. Saat itu, Nugroho – yang merupakan Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta – memberikan les privat bahasa Inggris kepada dua keponakan Emiliana. Sejak saat itu benih cinta terus bersemi hingga kini.

Mengalah

Pak Tugiyo, seorang sesepuh desa, memberikan wejangan saat resepsi pernikahan di rumah. “Hidup berumah tangga itu mirip dengan mendaki gunung. Dari jauh terlihat begitu indah. Tetapi begitu kita mulai mendaki, banyak belukar, akar yang melintang di sepanjang jalan setapak,” ujar pensiunan PNS yang sehari-hari berprofesi sebagai petani organik.

Ayah 4 putra tersebut memberi solusi praktis, “Bila terjadi beda pendapat. Perlu ada salah satu pihak yang mau mengalah. Niscaya semua akan terselesaikan dengan baik.”

Petuah itu senada dengan lirik tembang Jawa Lungiting Asmoro. Para hadirin menikmati jamuan makan sore di tepi areal persawahan. Mereka ditemani semilir angin dan alunan langgam gubahan Sugeng TS dan Harrie S tersebut, “Ukuraning tresno dudu bondho nanging lungiting asmoro.” Terjemahan bebasnya kira-kira ialah,”Bila cinta dapat diukur, maka patokannya bukan harta, tapi cinta nan mendalam.” []