Kartika Yurlisa

HMINEWS – Palestina tak padam semangat, setelah belum mendapatkan progress yang cukup baik di perjuangan medan perang, kali ini Palestina mencoba jalur diplomasi melalui keanggotan Perserikataan Bangsa-Bangsa (PBB). Ada apa dengan Palestina? Bagaimana tanggapan negara-negara lain terhadap Palestina?Dan sampai dimana perjuangan diplomasi Palestina?

Sejarah Konflik Israel-Palestina 

Sebelum mendiskusikan tentang konflik Israel-Palestina dalam tulisan ini, sedikitnya kita harus mengetahui gambaran sejarah tentang konflik Israel-Palestina tersebut. Konflik Israel-Palestina bukanlah sebuah konflik yang sederhana, seakan-akan seluruh bangsa Israel (atau seluruh orang Yahudi yang berkebangsaan Israel) memiliki satu pandangan yang sama, sementara seluruh bangsa Palestina memiliki pandangan yang sebaliknya. Konflik dimulai pada tanggal 2 November 1917. Inggris mencanangkan Deklarasi Balfour, yang dipandang pihak Yahudi dan Arab sebagai janji untuk mendirikan ”tanah air” bagi kaum Yahudi di Palestina. Kemudian dilanjutkan dengan deklarasi pembentukan Negara Israel pada tanggl 14 Mei 1948.

Secara sepihak Israel mengumumkan diri sebagai negara Yahudi. Kemudian Inggris hengkang dari Palestina. Mesir, Suriah, Irak, Libanon, Yordania, dan Arab Saudi menyatakan perang melawan Israel. Itulah asal mula terjadi perang berkepanjangan antara Palestina dan Israel, dan sempat terhenti sementara selama 7 tahun oleh gencatan senjata yang berdasarkan Perjanjian Oslo, disusul dengan KTT kamp David. Walaupun pada akhirnya Israel kembali memicu perang dengan membangun tembok pertahanan pada tahun 2002 di Tepi Barat, kejadian ini dijawab Palestina dengan serangkaian serangan bunuh diri, dan dimulailah kembali konflik antara Israel-Palestina hingga sekarang. Konflik berkepanjangan ini telah memberikan banyak korban, baik di pihak Israel, maupun pihak Palestina sendiri.

Upaya Diplomatis Palestina melalui PBB

Setelah sekian lama berjuang mencapai kedaulatan negaranya melalui tindakan militer maupun berkonfrontasi langsung dengan pihak Israel,  Palestina memulai merintis jalur diplomatis melaui PBB. Palestina percaya pengakuan simbolis yang besar sebagai anggota penuh PBB akan membantu Palestina untuk mempertahankan kedaulatan maupun integritas negaranya, tentunya dengan bantuan pihak internasional. Perjuangan diplomatis ini dimulai sejak Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, mengajukan keanggotaan negaranya ke badan dunia itu, pada 23 September. Upaya Palestina itu lahir dari putus asa yang membuncah atas kebuntuan usaha perdamaian. Baik Israel maupun Palestina tidak mengadakan pembicaraan langsung untuk memecahkan kemelut puluhan tahun itu dalam lebih dari setahun.

Palestina tetap bersikeras menjadi anggota badan dunia lain, kendati mendapat penentangan dari Amerika Serikat (AS) dan Israel di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Setelah suara UNESCO pada pekan ini menerima keanggotaan Palestina, lebih dari selusin badan lain PBB dan lembaga antar bangsa masuk dalam daftar Palestina, dengan keanggotaan penuh di PBB sebagai tujuan utama.

” Jika kita bergabung dengan badan seperti itu, bergabung dengan kemanusiaan untuk hal baik, apakah itu radikalisasi? Siapakah yang kami sakiti?” kata Riyad Mansour, utusan Palestina di PBB, yang menyebut tindakan balasan Israel pada pekan ini adalah radikalisasi.
Dewan Keamanan PBB segera memutuskan yang harus dilakukan tentang permintaan keanggotaan penuh, yang diajukan Presiden Palestina Mahmud Abbas pada 23 September. Panitia keanggotaan dewan itu bersidang lagi pada Kamis dan harus menghasilkan laporan akhir untuk pertemuan pada 11 November.

Dukungan Negara-Negara Lain terhadap Palestina di PBB

Seorang diplomat di PBB, yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan Inggris, Prancis dan Kolombia telah menyampaikan kepada anggota Dewan Keamanan PBB bahwa mereka akan abstain dalam pemungutan suara yang akan menentukan keanggotaan Palestina di PBB. Namun sejauh ini ketiga negara itu masih belum mengeluarkan pernyataan resmi untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Jika benar maka keputusan ini akan memukul harapan Palestina yang mencoba memenangkan dukungan dari negara-negara Eropa.Dia juga mengatakan bahwa Jerman memutuskan untuk tidak mendukung permohonan Palestina, namun dia tidak bisa memastikan apakah Jerman memilih abstain atau menolak dalam pemungutan suara nanti.Keputusan negara-negara ini sebenarnya memang tidak terlalu banyak betrpengaruh dalam proses keanggotaan Palestina di PBB, karena Amerika telah menyatakan akan menggunakan hak vetonya untuk mengagalkan upaya Palestina.

Namun secara politis dan moral dukungan dari negara-negara Eropa tadi sangat membantu Palestina. Dukungan ini oleh Palestina bisa digunakan untuk menunjukan bahwa sikap Amerika hanyalah minoritas di DK PBB. Namun dengan adanya kabar terakhir soal posisi sejumlah negara besar di Eropa, harapan Palestina ini tampaknya tidak bisa terwujud.
Prancis dan Inggris sendiri secara prinsip mendukung keberadaan negara Palestina. Namun mereka khawatir upaya pencalonan Palestina sebagai anggota PBB dapat merusak kemungkinan menghidupkan kembali pembicaraan proses perdamaian dengan Israel. Mereka juga khawatir konfrontasi Palestina dengan Amerika tentang masalah ini bisa memicu kekerasan baru di Timur Tengah.

Info lain juga mengatakan bahwa Jerman dan Portugal memutuskan tidak mendukung permohonan Palestina, namun dia tidak bisa memastikan apakah Jerman dan Portugal memilih abstain atau menolak dalam pemungutan suara nanti. Sebagian diplomat PBB percaya Palestina akan mendapatkan delapan suara, dari Rusia, China, Brasil, India, Lebanon, Korea Selatan, Gabon dan Nigeria. Hanya Bosnia yang belum mengungkapkan tanggapan terhadap permintaan Palestina.

Sebenarnya, seberapa pun dukungan atas Palestina tidak menjadi soal. Karena pada akhirnya, keputusan Dewan Keamanan akan diveto oleh Amerika Serikat, yang sejak awal berniat menjegal rencana Palestina di PBB.

Namun, dari sisi politis, dukungan atas Palestina yang sedikit dapat merusak rencana Mahmoud Abbas memperoleh suara mayoritas, membuat AS dan Israel tanpa kawan. Sedikitnya dukungan atas Palestina juga dapat mengubah persepsi dukungan negara-negara anggota PBB atas Palestina.

Melihat respon beberapa negara untuk menolak keanggotaan Palestina yang semakin terlihat,  pemerintahan Abbas tetap maju berupaya menjadi anggota PBB. Saat ini pembahasan keanggotaan Palestina masih terus digodok di komite Dewan Keamanan PBB. Setidaknya komite ini akan bertemu sembilan kali sampai ke proses pemilihan. Semoga kali ini yang benar akan terlihat benar, bukan sebaliknya. Apapun hasilnya, kami tetap mendukung upaya Palestina untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas negaranya. Tetap maju Palestina, Viva Palestine!

Oleh : Kartika Yurlisa, staf Komisi Hubungan Internasional PB HMI