Ditahun 80an ketika kegiatan kemahasiswaan menjadi urutan pertama dalam berbagai aktifitas, saya  menjadi utusan KORKOM HMI Jayabaya untuk mengikuti Konfrensi HMI Cabang Jakarta, Konfrensi berjalan seru dan terjadi tarik menarik  pendapat yang tak jarang dihujani  Interupsi. Selama dua malam 3 hari konfrensi berlangsung di Gedung Juang Jakarta dan selama dua malam itu konfrensi berlangsung sampai subuh.

 

Tidak ada satupun kata sepakat dalam setiap pasal dan sering kali menjemukan dan meng ada ada, sesuatu yang tak layak diperdebatkan kadang dibahas berpanjang panjang hingga melelahkan, tak jarang kata kata yang menusuk terlontar dan membangun rasa ketersinggungan dari pihak lainnya. Gebrakan meja dan ketegangan bukanlah hal yang aneh tapi menjadi dinamika yang seolah menjadi tradisi. Bila ketegangan meningkat yang menjurus pada perkelahian maka ayat-ayat suci dilantunkan yang otomatis akan meredakan ketegangan yang sudah akut. Situasi seperti itu bukanlah hal yang aneh dan menakutkan akan tetapi seolah menjadi ajang latihan dan situasi rutin yang harus dihadapi didunia kemahasiswaan disaat itu, bahkan untuk forum komisariat pun ketegangan2 semacam itu sering terjadi yang disebabkan perbedaan pendapat dan ketidak halusan dalam merumuskan kalimat.

Ditengah konfrensi Cabang Jakarta yang pertama kali saya ikuti tersebut tampak seorang ibu duduk dipojokkan mengikuti terus menerus jalannya sidang, dia tidak ikut berbicara dalam forum tapi hanya mengamati saja. Saya tidak mengenal namanya dan tidak tahu siapa ibu itu, namun ketika sidang di skors berbagai peserta maupun peninjau mendatanginya untuk bersalaman ataupun mengajaknya bicara. Karena merasa tidak kenal saya hanya melihat dari kejauhan dan sungkan untuk menghampirinya, akan tetapi ketika waktu makan tiba ibu itu menghampiri saya dan tanpa saya mengenalkan diri dia langsung memanggil nama dan mengajak bicara, rupanya sang Ibu menghafal nama nama peserta ketika disebut dalam persidangan dan mengenalinya satu persatu.

 

Kemudian belakangan saya faham ibu itu adalah Umi Cia (Rusna Satrya Malik zain) Alumni HMI Cabang Bandung yang menjadi tempat pengaduan atau menjadi ibu dari semua aktifis HMI, Umi Cia tidak bergabung dengan partai politik tidak juga membuat LSM dia hanya menyukai dan  mencintai HMI beserta kader kadernya dengan ketulusan seorang ibu.  Setiap kader dari asal manapun dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Bukan hal yang jarang rumahnya dijadikan tempat persinggahan bagi para kader dari daerah yang datang menjelang kongres maupun setelah kongres.

 

Lalu disaat makan itu kemudian keluarlah berbagai nasehatnya pada saya dengan spontan  pada saat itu juga. “nak geis,  pendapat  kamu bagus umi seneng mendengarnya tapi tahanlah emosi sedikit, kalaupun pendapat kamu benar tapi dikemukakan dengan emosional maka orang lain sulit menerimanya. Umi Cia memberi pendapat atas perdebatan di forum tadi yang keras dan ujung2 nya menjadi tendensius.”  Saya terdiam dan agak gagap yang kemudian mencari cari alasan untuk menyalahkan orang lain sebagai pembenaran diri.  Umi Cia membenarkan tapi dengan penekanan untuk tetap mengendalikan kata kata.

 

Forum Konfrensi memang seringkali menjadi ajang perdebatan yang panas dan ketika situasi menegang seringkali retorika bukan lagi sebagai penyelesaian dan mencari solusi tapi untuk menyatakan kebodohan lawan berdebat.

 

Itu adalah konfrensi pertama dan terakhir yang pernah saya hadiri dan selama sekian tahun saya juga tidak pernah bertemu lagi dengan Umi Cia, akan tetapi dalam sekian tahun itu Umi Cia hampir tidak pernah absen dalam mengikuti setiap konfrensi dan selalu menyempatkan diri di setiap even even yang diadakan  oleh HMI.

20 tahun lebih kemudian terjadi Gempa di Padang dan melalui Yayasan yang saya pimpin saya mengirim relawan untuk berangkat ke kota itu, belakangan saya baru mengetahui kalau para relawan  itu menginap dirumah Umi Cia dan mereka mengabarkan bagaimana  hormatnya para birokrat di Padang  termasuk walikota ataupun bupati dalam menghadapi Umi Cia.Dan kemarin saya mendapat kiriman foto dari menantunya, Umi Cia yang sudah berumur  76 tahun sedang memberi sambutan dalam sebuah forum HMI, saya agak terkejut dengan foto itu bukan saja karena umurnya namun konsiistensi dan kecintaan yang luar biasa pada Himpunan Mahasiswa Islam dimana dia sebagai alumninya merupakan sesuatu yang luar biasa. Saya kira sudah selayaknya PKMN KAHMI maupun Persaudaraan Alumni HMI (PAHMI) ataupun PB HMI  memberikan penghargaan pada Umi kita bersama ini sebagai ibu yang  dalam kurun hidupnya mengikuti dan mendampingi “anak anaknya” tumbuh menjadi dewasa.  walaupun saya yakin Umi Cia tidak membutuhkan hal semacam itu.

 

Penulis: Geisz Chalifah, pimpinan Pemuda Al-Irsyad dan alumnus HMI Jakarta