HMINEWS –  Tulisan ini terinspirasi oleh moderator di kelas meditasi Neo Self Empowerment Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB), “Latihan sempurnalah yang membuat sempurna, bukan latihan yang membuat sempurna.”  Awalnya saya kaget mendengar kalimat tersebut. Sebab biasanya latihanlah yang membuat sempurna, bukan latihan sempurna. Berikut ini saya ceritakan kenapa demikian.

Alkisah beberapa hari lalu (15/11). Pada Selasa itu moderator menceritakan ihwal Johnny Weismuller. Beliau seorang perenang berkebangsaan Amerika Serikat. Weismuller tak pernah terkalahkan. Bahkan ia sempat meraih medali emas berturut-turut. Ia juga langganan juara Olimpiade. Karena selalu menang, pelatihnya sampai harus menyarankan agar ia istirahat dari membuat rekor.Selain itu, ia dikenal sebagai aktor tampan dalam puluhan film. Bentuk tubuh Johnny Weismuller memang atletis. Alhasil, ia menjadi pujaan banyak wanita dari seluruh pelosok Amerika Serikat. Film seri yang dibintanginya antara lain: Tarzan the Ape Man, Tarzan and His Mate dan masih banyak lagi. Oleh sebab itulah, ia lebih dikenal dengan nama Tarzan.

Namun tak disangka-sangka, Tarzan yang begitu populer dan digandrungi para penggemar itu akhirnya harus terkalahkan. Ternyata ia takluk oleh seorang anak ingusan. Anak itu masih sekolah di bangku SMA. Si anak behasil mengalahkan rekor dunia Tarzan dalam sebuah lomba renang.

Sontak kekalahan tersebut membuatnya kaget. Pun seluruh rakyat Amerika terpana. Sebab, selama ini tidak pernah ada satupun atlet yang berhasil mengalahkan rekor dunia kecepatan renangnya. Uniknya lagi, yang mengalahkan Tarzan adalah seorang anak yang belum lulus SMA. Si anak biasa berlatih renang di sungai belakang sekolahnya. Peristiwa ini langsung menjadi headline di mana-mana.

Tatkala anak tersebut ditanya oleh para wartawan, “Apa rahasia kemenangannya?” Ia sempat terdiam sebentar,  lalu menjawab, ” Saya tidak pernah berfokus pada menang atau pun tekad mengalahkan Tarzan. Saya hanya berfokus pada gerakan kaki dan harus berapa kali kayuhan tangan saya, serta tak lupa mengambil nafas pada saat kayuhan yang kesekian.” Ternyata, anak SMA ini tidak memikirkan untuk mengalahkan siapapun. Ia hanya berfokus pada proses berenangnya agar meluncur dengan sempurna.

Lebih lanjut, ada sebuah penelitian ilmiah di Amerika Serikat. Para juara dari pelbagai cabang olahraga dikumpulkan. Lantas, mereka dibagi menjadi 2 kelompok. Pertama adalah kelompok medioker alias “rata-rata”. Kedua ialah kelompok para pemenang. Setelah itu, masing-masing orang diwawancarai satu-persatu.

Giliran para medioker, pertanyaannya, “Sebelum pertandingan Anda memikirkan apa?” Jawaban para medioker sama,  mereka semua memikirkan target tertentu. Misalnya, saya harus dapat nilai 100 poin.

Lalu, kelompok pemenang mendapat giliran menjawab pertanyaan serupa. Mereka ternyata tidak memikirkan poin, mereka hanya berusaha melakukan secara sempurna di setiap gerakan atau pada satu sudut tertentu.  Misalnya, seorang pemain basket juara NBA berbagi tip sederhana, “Saya hanya berusaha miring 45 derajat saat menembakkan bola ke arah keranjang.”

Jadi menurut kesimpulan saya yang bodoh ini, itulah rahasia sukses para juara. Lakukan latihan secara sempurna, bukan hanya sempurna pada saat pertandingan. Kenapa? Karena seperti layaknya hidup ini, semua ditentukan dalam kegiatan kita sehari-harinya, bukan pada saat kita tutup buku pada akhir usia.

Penulis teringat satu pesan dalam buku Karma Yoga (Anand Krishna, 2011), “Berkaryalah tanpa mengharapkan hasil, karna proses itulah yang penting.” Artinya, apabila kita menjalani latihan dengan sempurna dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya otomatis mengikuti, keberhasilan pasti mencium kaki kita dengan sendirinya.

Demikian corat-coret bisikan hati saya, semoga ada manfaatnya. Terimakasih telah menyempatkan diri membacanya. 

Penulis: Isti Astari, Editor: T. Nugroho