Bung Tomo : Singa Islam dari Surabaya

Hari pahlawan sejatinya mengenang jasa pahlawan. Sebab semangat juang mereka adalah teladan. Kita tidak dapat membayangkan anda mereka tidak mau merelakan nyawa untukIndonesia. Belum tentu, kita merasakan kemerdekaan dan hidup senyaman sekarang.

Kalau kita menarik sejarah jauh ke belakang, akar sejarah hari pahlawan berasal dari perjuangan rakyat Surabaya. Mereka dipimpin seorang pejuang revolusioner Soetomo yang dikenal dengan sebutan Bung Tomo. Tokoh ini sangat dikenal pemberani, intelektual dan matang spiritual.

Dalam sejarahnya, kisah perlawanan Bung Tomo sangat unik. Beliau ketika berjuang selalu mengumandangkan kalimat takbir dan merdeka. Keduanya  menyatu dan mengalir dalam tubuhnya sebagai penyemangat perjuangan. Ketika dalam kondisi sulit sekalipun, asma Allah selalu terucap dari mulutnya. Dengarlah kumandang suara  Bung Tomo ketika Inggris memaksa rakyat Surabaya menyerahkan senjata dan mengangkat bendera putih.

Saudara-saudara,,,kita pemuda – pemuda… Rakyat Indonesia disuruh dating membawa senjata kita kepada Inggris dengan membawa bendera putih tanda kita menyerah dan takluk kepada Inggris. Inilah jawaban kita, jawaban pemuda – pemuda …Rakyat Indonesia :Hai Inggris, selama banteng-banteng pemuda Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah putih…selama itu kita tidak akan menyerah …teman-temanku seperjuangan… Pemuda – pemuda Indonesia kita terus berjuang mengusir penjajah dari bumi kita Indonesia yang kita cintai. Sudah lama kita menderita, diperas dan diinjak-injak . Sekarang saatnya kita rebut kemerdekaan. Semboyan kita “Kita Merdeka atau Mati” Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…

               Itulah kobaran semangat bung Tomo. Tokoh muda Islam yang dirindukan rakyat. Setiap pidatonya berhasil mengobarkan semangat perlawanan dan menggentarkan nyali penjajah. Anak muda yang menyejarah, julukan yang pantas untuknya.

Di mana engkau Pahlawan Muda?

               Pasca kemerdekaan Indonesia, Indonesia seperti kehilangan pahlawan muda. Heroisme yang membahana mulai perlahan pudar diterjang zaman. Perjuangan pahlawan tidak lagi dimaknai upacara mengenang hari pahlawan. Kegiatan itu digantikan bermacam variasi yang repotnya kadang menodai hari pahlawan.

Kita tidak lagi mendapatkan Sukarno muda, yang menghabiskan waktu diskusi dan membaca buku revolusioner. Indonesia kehilangan Bung Hatta, intelektual muda yang lantang menyuarakan gagasan ekonomi kerakyatan. Bumi pertiwi mendambakan sosok militer nasionalis Jenderal Soedirman, berjuang di atas tandu dan keluar masuk hutan. Dirinya menyadari perjuangan membutuhkan pengorbanan baik harta dan nyawa.

Sungguh. Sekarang Indonesia berduka dan gelisah merindukan anak muda yang mampu meneruskan perjungan yang pernah digagas di Kota Pahlawan.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami

(Dari sajak Karawang – Bekasi karya Chairil Anwar)

 

Konser Musik : Noda Hari Pahlawan

Tapi peringatan hari pahlawan kehilangan makna ketika sebuah stasiun televisi swasta menayangkan konser musik. Mereka berlindung di balik momentum hari pahlawan. Tapi melihat konser musik yang penuh foya-foya. Kita pantas bertanya, dimana esensi pahlawan dalam konser musik?

Tidak berhenti sampai di situ, sang pembawa acara bangga menyebut musisi berpakaian minim sebagai “pahlawan musik Indonesia”. Aurat dibanggakan, dipertontonkan dan murah sekali dipamerkan ke publik. Nafsu syahwat memimpin sebagai panglima menggadaikan nilai moralitas.

Hati kecil saya terketuk. Tentu andai pahlawan Indonesia masih hidup mereka pasti menangis. Perjuangan berdarah-darah membebaskanIndonesiadinodai penerusnya. Perjuangan yang dijalani penuh kesungguhan dan pengorbanan. Setelah kemerdekaan direbut, makna kepahlawanan hilang tak berbekas.

Konser musik itu bukan saja merusak citra pahlawan. Tapi sekaligus menggambarkan mentalitas anak muda Indonesia. Orang tua dipaksa menangis melihat kelakuan anaknya. Sepanjang konser musik, penonton bergoyang dan terbuai syahdu lagu musisi.  Tak ada jiwa heroic ditampilkan. Sebaliknya lagu picisan kosong yang diciptakan. Dan itu dijalani sebagian besar anak mudaIndonesia. Mau di bawa kemana generasi penerus Indonesia?

Saya terdiam dan berbisik “Mau di bawa kemana generasi muda Indonesia? Apakah itu cara mereka memaknai hari pahlawan?

 

Penulis: Inggar Saputra, Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta 

email: genmuslim.100@gmail.com