Safia Aoude

Alexandria, Mesir – “Kita bisa menulis tentang apa saja sekarang!” kata seorang redaktur surat kabar Mesir Al-Ahram ke beberapa peserta dari Denmark di Kairo saat mereka tengah mengikuti rangkaian konferensi bertajuk “Peran Media bagi Masyarakat yang Tengah Berubah dan Demokrasi” yang diadakan di Alexandria baru-baru ini. Revolusi Mesir tentu telah menjadi katalisator kebebasan berpendapat dan perdebatan politik di media Mesir. Namun, suasana karut marut revolusi telah menimbulkan reaksi balik. Redaktur lain Al-Ahram memperingatkan bahwa media di Mesir sekarang berada dalam kebingungan politik, dan kadang bahkan bisa mengarahkan publik Mesir pada kekerasan sektarian dan informasi yang keliru.

Konferensi tersebut serta lanskap media yang sedang berubah menunjukkan pada semua peserta bahwa baik komunikasi media massa maupun dialog Muslim-Kristen, sangatlah penting di masa transisi Mesir sekarang. Para peserta menegaskan bahwa media punya potensi untuk mendorong dialog yang positif. Media baru, khususnya situs media sosial seperti YouTube, Facebook atau Twitter, telah menarik para partisipan baru ke ranah komunikasi massa dan menentang hegemoni media massa “lawas”.

Peserta dari Denmark, Peter Fisher-Nielsen, menyatakan bahwa meski pembatasan akibat sensor oleh negara telah melonggar setelah revolusi, namun tidak adanya batasan tentang apa yang bisa didiskusikan di media juga mengundang bahaya akan adanya lebih banyak konfrontasi. Itulah mengapa dialog langsung antara agama atau kelompok minoritas telah menjadi semakin penting ketimbang sebelumnya.

Konferensi tersebut diikuti oleh para aktivis dan tokoh Muslim dan Kristen yang berdialog tentang media keagamaan dan revolusi Mesir. Konferensi yang diselenggarakan bersama oleh Coptic Evangelical Organization for Social Services (CEOSS) Mesir dan organisasi Kristen Denmark Danmission ini diadakan oleh Forum for Intercultural Dialogue pada pekan pertama Oktober lalu.

Para peserta forum lintas budaya ini berasal dari Mesir dan Denmark. Muslim Denmark, yang mewakili minoritas di sebuah negara mayoritas Kristen, dan Kristen Mesir, yang mewakili minoritas di sebuah negara mayoritas Muslim, bertemu untuk membincangkan pengalaman mereka dan berbagi harapan akan masa depan.

Fokus utama dialog ini adalah mendiskusikan media dari sudut pandang organisasi keagamaan: apa peran media dalam proses demokratisasi Mesir, dan apa arti kebebasan pers dan penggunaan perangkat media sosial seperti YouTube dan Facebook, bagi iklim politik Mesir?

Para delegasi dalam dialog ini menjadi saksi langsung masalah-masalah terkait sektarianisme dan bagaimana sektarianisme ditampilkan di media sebagai kekerasan yang meletup antara orang Koptik yang ikut demonstrasi secara damai di Lapangan Tahrir dan militer.

Tapi masih ada harapan bagi media Mesir dan masyarakat sipil. Orang Koptik dan Muslim di konferensi ini berbincang tentang upaya-upaya mereka memerangi bias sektarian melalui aksi bersama, seperti Muslim yang mengamankan gereja, dan Kristen dan Muslim menyatukan suara di media demi persatuan dan kemakmuran Mesir. Salah satu contoh adalah pernyataan bersama oleh lima tokoh Koptik dan tujuh tokoh Gamaa (Jamaah) Islamiyah – organisasi Muslim yang dulunya militan – yang mendorong pemuda Muslim dan Kristen untuk mendengarkan suara nalar dan menghargai agama. Isu-isu penting yang kadang juga sensitif didiskusikan oleh para delegasi dengan sikap saling menghormati pandangan pihak lain.

Konferensi dialog tersebut menunjukkan bahwa debat terbuka dan sipil antara berbagai kelompok yang berbeda tidak saja mungkin dilakukan, tetapi memang benar terjadi.

Selama diskusi dalam tur lapangan ke piramida Giza, seorang aktivis Koptik mengatakan pada delegasi Denmark: “Bagian berbahaya dari revolusi Mesir bukanlah keragaman agama. Kami semua orang Mesir. Bahayanya berasal dari ketidakmampuan sebagian kelompok kepentingan untuk menyadari bahwa kami semua orang Mesir. Tugas kami adalah membuat orang bicara satu sama lain.”

Para peserta mengakhiri konferensi dengan mengeluarkan deklarasi bersama tentang pentingnya dialog dan kebebasan media: “Kami tidak boleh membiarkan hidup kami disetir oleh ketakutan dan bias,” kata Samira Luca, Direktur Dialog di Coptic Evangelical Organization for Social Services, salah satu organisasi terbesar di Mesir yang memberi bantuan pada masyarakat miskin di bidang pengembangan ekonomi, layanan kesehatan dan pendidikan. “Kerja berlanjut kami untuk dialog dan koeksistensi damai bukanlah cuma kerja, tetapi itu misi kami.”

Bicara tentang rakyat Mesir, seorang delegasi Mesir lainnya di salah satu sesi dialog menyatakan, “Jika Anda tidak berkomunikasi, Anda tidak ada!” Pernyataan ini melambangkan tidak saja inti persoalan dalam revolusi Mesir, tetapi juga masa depan koeksistensi Muslim-Kristen di Mesir.

###

* Safia Aoude ialah seorang pengacara dan penulis yang tinggal di Copenhagen yang tengah menempuh studi master di bidang jurnalisme di Universitas-Denmark Selatan. Ia juga mempelajari kajian Islam dan Balkan di Universitas Copenhagen.

Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 28 Oktober 2011, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh izin publikasi.

**********

Perempuan di Musim Semi Arab: masalah mereka masalah setiap orang
Natana J. Delong-Bas

Boston, Massachusetts – Penangkapan dan pembunuhan mantan pemimpin Libya, Muammar Qaddafi, demonstrasi yang terus berlangsung untuk menggulingkan rezim opresif Ali Abdullah Saleh di Yaman dan Bashar al-Assad di Suriah, serta pemilu baru-baru ini di Tunisia menunjukkan bahwa ada satu hal yang tidak berubah di Musim Semi Arab – yakni perubahan itu sendiri. Di Arab Saudi sekalipun, di mana tuntutan akan reformasi tidak mencakup seruan akan pergantian rezim, perubahan terbukti tidak terelakkan seiring meninggalnya Putra Mahkota Sultan dan adanya berbagai pertanyaan tentang akan ke arah mana negara ini nantinya dibawa oleh putra mahkota yang segera akan ditunjuk.

Perhatian dunia tidak hanya tertuju pada perubahan politik di negara-negara ini – tetapi juga apa arti perubahan ini bagi perempuan di kawasan.

Saya dan teman sekaligus kolega saya, antropolog budaya Mesir, Yasmin Moll, baru-baru ini berbincang seputar kekecewaan kami terhadap bagaimana isu-isu dilihat karena tampaknya mengesankan bahwa arti perubahan-perubahan ini bagi perempuan berbeda dari artinya bagi laki-laki, bahwa perempuan hanyalah tambahan dalam pengalaman laki-laki, dan bahwa revolusi digerakkan dan didominasi laki-laki, sedangkan perempuan hanya, paling bagusnya, berperan sebagai pendukung.

Fokus pada “hak-hak perempuan” dan “isu-isu perempuan” menunjukkan bahwa perempuan adalah kategori sosial yang terpisah, tidak terkait dengan isu-isu nasional. Ketika isu-isu dimaknai sebagai hanya terkait dengan perempuan, banyak laki-laki menyimpulkan bahwa mereka tidak punya alasan untuk peduli dengan isu-isu ini dan bahwa mereka tidak punya sesuatu untuk disumbangkan ataupun didapatkan.

Sebenarnya tidak demikian. Kenyataannya, “isu-isu perempuan” sebetulnya jugalah isu setiap orang. Perempuan bukanlah minoritas. Separo penduduk adalah perempuan. Karena itu, hak dan tanggung jawab perempuan bukanlah masalah kecil, tetapi masalah nasional. Bagaimana perempuan diperlakukan di mata negara dan hukum adalah urusan ke-warga-an, bukan ke-perempuan-an. Memastikan bahwa perempuan disertakan sebagai warganegara memerlukan dukungan dan aktivisme tokoh-tokoh publik laki-laki.

Analisis tentang revolusi-revolusi yang terjadi menunjukkan bahwa perempuan telah memainkan peran penting sebagai pemimpin dan penggerak, sekaligus demonstran dan penyedia dukungan teknis dan logistik.

Organisasi-organisasi non-pemerintah di Mesir memperkirakan bahwa 40 persen demonstran di Lapangan Tahrir adalah perempuan.

Di Yaman, seruan damai dilengserkannya rezim Saleh selama bertahun-tahun oleh Tawakkul Karman, membuatnya memenangi Hadiah Nobel Perdamaian 2011.

Revolusi Libya dimulai oleh sekelompok pengacara perempuan.

Para perempuan Suriah memulai demonstrasi menentang al-Assad dengan memblokir jalan raya.

Para perempuan Saudi mendapat hak untuk memilih, maju sebagai kandidat dalam pemilihan dan menjadi anggota penuh Majelis Syura dengan membuktikan kecakapan mereka sebagai profesional, pekerja, pelajar dan aktivis, serta istri dan ibu.

Contoh-contoh tentang para perempuan Musim Semi Arab semestinya dilihat tidak sebagai kejadian abnormal atau istimewa, melainkan sebagai cara normal dan sah bagi perempuan dari semua kalangan untuk muncul dan berpartisipasi di ruang publik, dan menangani isu-isu nasional. Kalangan sekuler dan aktivis Islam politik, yang berjilbab ataupun yang tidak, yang konservatif ataupun liberal, yang profesional ataupun ibu rumah tangga, telah turun ke jalan, dan membuktikan bahwa isu-isu ini tidak hanya milik satu kelompok, ideologi atau pandangan tertentu.

Membatasi capaian perempuan dan akses mereka pada kekuasaan dan pembuatan kebijakan tidak hanya menghilangkan suara separo penduduk suatu negara, tetapi juga membatasi visi setiap orang tentang seperti apa negara ini seharusnya, dan bagaimana negara semestinya berfungsi.

Jika ada satu pesan jelas dari Musim Semi Arab, tentulah pesannya adalah – orang-orang, baik laki-laki maupun perempuan, tidak lagi mau berdiam diri. Mereka adalah agen perubahan yang aktif yang tahu hak-hak mereka dan tidak takut untuk menuntut, berjuang dan bahkan mati demi hak-hak itu. Mereka mudah-mudahan akan terus berdiri bersama ketika pemerintahan yang baru mulai berkuasa. Jangan sampai ada yang membajak suara-suara dan sosok-sosok yang ikut membentuk negara.

Saya dan Yasmin sama-sama berharap bahwa media akan memberi perhatian yang pantas pada peran kuat yang telah – dan akan terus – dimainkan perempuan tidak saja dalam revolusi, tetapi juga dalam usaha keras membangun negara yang terbentang di depan. Kita perlu terus melihat perempuan sebagai agen perubahan dan partisipan dalam menjalankan negara sehingga kita bisa terus meyakini bahwa kedua hal itu mungkin dan diharapkan.

###

* Dr. Natana J. DeLong-Bas ialah Pemimpin Redaksi The [Oxford] Encyclopedia of Islam and Women dan pengarang Wahhabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad. Ia mengajar perbandingan agama di Boston College.

Artikel ini kerja sama HMINEWS dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 28 Oktober 2011, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh izin publikasi.