HMINEWS – Agama adalah satu system credo (tata keimanan atau tata keyakinan) atas adanya sesuatu Yang Mutlak di luar diri manusia dan satu system ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya Yang Mutlak itu serta sistemnorma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan sesame manusia dan hubungan manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan.

               Seiring dengan rumusan Endang Saifuddin Anshari, seorang sarjana Barat John R. Bennet, menjelaskan “religion” dalam arti luas didefinisikan sebagai: penerimaan atas tata aturan daripada kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi daripada manusia itu sendiri.

Dari batasan tersebut di atas, dipahami bahwa dalam agama, tersimpul tiga hal, yaitu (1) adanya keyakinan tentang Yang Mutlak yang berada di luar diri manusia; (2) adanya tata peribadatan manusia kepada Yang Mutlak, dan (3) adanya norma atau kaidah yang mengatur hubungan sesame manusia, alam sekitar berdasarkan tata keimanan dan tata peribadatan yang ditujukan ke Yang Mutlak. Dengan demikian, dalam kehidupan beragama, manusia sebagai pemeluk agama dituntut untuk mensinergikan keiga hal tersebut dalam kehidupan mereka.

Manusia sebagai khalifah di muka bumi ini mengemban anamah untuk memakmurkan bumi. Dalam mengemban amanah tersebut, manusia pada dasarnya telah membangun peradaban, sebab aktifitas mereka bertumpu pada tiga wujud kebudayaan, yang di dalamny telah menghasilkan peradaban. Hasil yang mereka peroleh tidak lepas  dari potensi diri yan g dimilikinya yaitu anugerah dari Tuhan berupa akal pikiran dan agama. Kedua hal ini merupakan ciri khas manusia yang sekaligus membedakannya dengan makhluk lain.

Dengan potensi akal pikiran manusia, jika digunakan secara optimal membuka untuk menjawab tantangan yang dihadapinya. Kendati demikian, realitas menunjukkan, banyak manusia gagal dalam menapaki kehidupannya untuk memakmurkan bumi, lantaran akal pikiran yang diharapkan memberikan panduan untuk menemukan jati dirinya, ternyata menjadi boomerang, karena hasil olah piker mereka, yang telah melahirkan ilmu dan teknologi yang membuat manusia terpenjara oleh ilmu dna teknologi itu sendiri. Manusia hanya menjadi bagian dari mekanisasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Di lain sisi, ditemukan juga realitas bahwa ada diantara manusia, memberikan prosi yang lebih banyak pada aktifitas keagamaan dan kurang mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi, mengantarkan mereka kepada situasi yang tidak seimbang. Padahal menurut Albert Einstein (1897-1917) “Ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa jika manusia ingin memperoleh kehidupan yang layak di dunia, perpaduan yang harmoni antara akal pikiran (yang menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi) dan agama menjadi satu keniscayaan.

 

Oleh: Puspita Siti HajjarPenulis adalah Kader HMI MPO Jakarta Selatan dan Mahasiswi Institut Ilmu Qur’an (IIQ) Semester 5, Jurusan Tafsir Hadis, Fakultas Ushuluddin, Institut Ilmu Qur’an (IIQ) Jakarta.