HMINEWS –  Islam telah hadir dimuka bumi sebagai agama Rahmatan Lilalamin, rahmat bagi seluruh alam semesta, sebagai pijakan konseptual mengenai pengesaan Tuhan yang pada muaranya melahirkan pergaulan yang manusiawi bahwa tak ada yang membedakan manusia yang satu dengan yang lain kecuali dalam hal ketakwaan. Ketakwaan itulah yang diwujudkan oleh manusia dengan melakukan perintah perintah Tuhan, mengorbankan apa yang dimiliki demi mencapai ridho ilahi.

Selain pijakan konseptual itu, islam juga memiliki ibadah – ibadah yang dianjurkan sebagai jalan menuju Tuhan dengan manifestasi kecintaan pada makhluknya. Salah satunya adalah ibadah Qurban yang dilaksanakan pada idul adha. Ibadah Qurban melampaui nalar akal manusia yang hanya berkutat pada pandangan materialistik , mampu memberi serta mengungkap makna makna kemanusiaan sepanjang sejarah kehidupan manusia dikala nilai kemanusiaan tertimbun oleh sikap individualisme.

Sesungguhnya pada sejarah sejarah masa lalu itu terdapat tanda tanda bagi orang yang berfikir ( yusuf 111)

Allah memerinthakan manusia untuk mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi pada masa lampau, terkhusus sejarah yang diabadikan dalam kitab-nya sebagai peringatan dan kabar gembira bagi manusia manusia berakal.

Sejarah  Qurban dalam AlQur’an dimulai pada pada masa Habil dan Qabil (al maidah 127)., setelah itu digambarkan secara terperinci atas ujian yang dialami oleh ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Seorang manusia mulia yang diangkat oleh Tuhan sebagai imam dalam al Quran .

Peristiwa besar dalam sejarah hidup nabi ibrahim, ketika ia mendapat perintah dari tuhan lewat mimpi untuk menyembelih anaknya. Meskipun hanya dalam mimpi namun beliau telah menganggap bahwa dibalik itu ada rahasia yang ingin diungkapkan kepadanya. Sehingga beliau melakukannya, ia menuruti perintah Allah yang lewat mimpi itu. Namun berkat keimanan beliau Allah menggantikan anaknya dengan seekor kibas. Dari sulbi beliaulah lahirlah nabi – nabi sampai baginda Nabi Isa AS dan  Muhammad SAW yang memancar dari mereka sinar ilahiyah.

Kehidupan materialistik sekarang ini didominasi oleh lahirnya pemimpin pemimpin yang enggan untuk berkorban demi tujuan mulia manusia dimuka bumi. Sejarah Qurban telah diabadikan dalam Al- Quran. Dengan demikian maka kita seyogyanya menjadikannya sebagai sejarah yang bisa didialogkan dengan kondisi masyarakat saat ini. Nabi Ibrahim rela untuk menyembelih anaknya atas mimpi yang ia peroleh.meskipun hanya dalam mimpi namun beliau melaksanakan apa yang mimpikan itu, padahal beliau telah lama mendambakan seorang anak yang pada akhirnya juga ia rela untuk menyembelihnya.

Sesungguhnya telah engkau turuti   mimpi itu, begitulah kami membalas orang orang yang berbuat baik  ( Assyafaat 105)

Pelaksaanaan mimpi itu memiliki makna bahwa beliau adalah orang orang yang telah berbuat baik sebagai ketaatan atas apa yang ia pahami. Jika Nabi Ibrahim telah melaksanakan mimpinya, apakah pemimpin sekarang melaksanakan pesan yang  tertulis di Negara kita yang diamanhkan oleh konstitusi Negara Indonesia yang bukan lagi sekedar mimpi yang diperoleh saat tertidur.

Pemimpin saat sekarang ini mendapat amanah untuk melakukan perbaikan tatanan sosial tidak lewat mimpi tetapi benar benar telah dipesankan oleh Tuhan lewat Kitab-Nya, telah mendapatkan amanah dari Undang Undang Dasar 1945, serta telah diserahi amanat oleh rakyat  namun yang menjadi pertanyaan adalah jika Ibrahim AS melaksanakan mimpi yang ia dapatkan maka kebanyakan pemimpin hari ini apakah telah melupakan pesan pesan yang sudah jelas diperintahkan baik agama ataupun pesan yang diamantkan konstitusi.

Qurban : Amanah undang undang 1945

Fakir miskin dan anak anak terlantar dipelihara oleh negara (UUD 1945 pasal 34    )

Saat hari raya Qurban ummat islam memotong hewan  sebagai Sunnah Ibrahim. Penyembelihan hewan Qurban ini dilakukan dengan membagi bagikan daging kepada orang yang tak mampu. Ini dimaksudkan agar manusia membangun serta memiliki rasa empati sosial terhadap sesamanya yang tak memiliki kelebihan harta. Oleh karena itu pelaksanaan Qurban adalah bagian dari bentuk amanah UUD 1945 dinegara ini.

Potret kondisi masyarakat miskin serta anak anak jalanan yang terlantar tampa dipelihara negara telah menjadi pandangan yang biasa dinegara ini. Sementara pembangunan sarana prasarana seperti persiapan pelaksanaan SEA Games sedemikian megahnya. Sementara perhatian terhadap masayarakat miskin, anak anak jalanan yang hidup dibawah kolong jembatan, yang hidup dipinggir rel kereta api dilupakan. Negara telah melupakan amanah Undang Undang Dasar 1945 pasal 34. Bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara.

Qurban merupakan hari dimana amanat Undang-undang itu dilaksanakan, tetapi bukan dilaksanakan oleh negara tetapi dilaksanakan oleh ummat Islam. Dari Qurban sekarang inilah pemimpin dinegara ini harus melihat bahwa amanat itu harus dilakukan. Qurban saja yang dillakukan oleh individu individu atau kelompok sosial  memberi kebahagiaan diwajah masyarakt miskin apa lagi jika Negara benar benar mau dan konsisten menjalankan amanah UUD 1945 Pasal 34.

 

Penulis: Hajaruddin Alfarisy, email: hajar.alfarisy@yahoo.com