Oleh: Arafah*

Cinta merupakan sumber dari hubungan antara Tuhan dengan makhluk ciptaan-Nya, yakni manusia dan alam semesta. Dalam tasawwuf, cinta mengungkap hubungan antar Tuhan dengan makhluk ciptaan-Nya tersebut. Ibnu Arabi pernah berkata tentang cinta, yaitu: “Orang yang mendefinisikan cinta, berarti ia belum tahu arti cinta. Orang belum meminum anggur dari cawan, maka ia belum mengetahui rasanya. Orang yang berkata: aku telah merasakan isi cawan, dimana cinta adalah anggur, maka ia belum mengetahuinya jika belum meneguknya.” Jika seseorang belum mencinta maka ia belum tahu rasanya cinta. Perjalanan cinta adalah perjalanan yang tidak ada akhir dan manusia tidak akan sampai kepada akhir dan rasa hausnya terhadap cinta tidak akan pernah hilang.

Pada akhir abad ke-9 dan 10 M, muncul tokoh-tokoh terkemuka seperti Hasan al-Nuri, Bayazid al-Bisthami, dan Mansur al-Hallaj yang mempopulerkan istilah “ ’Isyq ” yang menurut Ibnu Sina menjelaskan bahwa puncak dari cinta sejati ialah persatuan mistikal (rahasia) dengan Dia yang dicintai. Dalam pengalaman cinta yang bersifat transendental seseorang juga belajar mengenal dan mengetahui lebih mendalam yang dicintainya, dengan demikian cinta juga mengandung unsur kognitif . bentuk pengetahuan yang dihasilkan oleh cinta ialah ma;rifat dan kasfy, tersiingkapnya penglihatan bathin. Seorang ahli tasawwuf telah mencapai hakekat dan melihat bahwa hakekat yang tesembunyi di dalam segala sesuatu sebenarnya satu, yaitu wujud dari Pengetahuan, Keindahan dan Cinta-Nya.

Menurut jalaluddin al-Rumi, ‘isyq ialah mahabbah dalam peringkat yang lebih tinggi dan membakar kerinduan seseorang sehingga bersedia menempuh perjalanan jauh menemui Kekasihnya.  Dalam Mantiq al-Tayr karangan Fariduddin ‘Attarmenggambarkan secara simbolik bahwa jalan kerohanian dalam tasawuf ditempuh melalui tujuh lembah (wadi), yaitu: lembah pencarian (talab), cinta (‘isyq), makrifat (ma’rifat), kepuasan hati (istighna), ke-esa-an (tauhid), ketakjuban (hayrat), kefakiran (faqr), dan fana (fana’). Namun ‘Attar menganggap bahwa keseluruhan jalan tasawuf itu sebenarnya jalan cinta, dan keadaan-keadaan rohani yang jumlah tujuh itu tidak lain adalah keadaan-keadaan yang bertalian dengan cinta. Misalnya jika seseorang memasuki lembah pencarian , cintalah yang sebenarnya mendorong seseorang tersebut melakukan pencarian. Adapun kepuasan hati, perasaan atau keyakinan akan keesaan Tuhan, serta ketakjuban dan persatuan mistik merupakan tahapan keadaan berikutnya yang dicapai dalam jalan cinta.

Banyak orang yang berpendapat bahwa para sufi mengingkari pentingnya akal dan pikiran dalam menjawab soal-soal kehidupan. Pernyataan ini tidak benar sama sekali. Syah Nikmatullah Wali dalam menerangkan bahwa akal dan cinta merupakan dua sayap dari burung yang sama, yaitu jiwa. “Akal dipakai untuk memahami keadaan manusia selaku hamba-Nya, Cinta untuk mencapai kesaksian bahwa Tuhan itu satu”.

Pengakuan akan keesaan hanya diperuntukkan bagi Allah SWT sedangkan makrifat diperuntukkan orang yang telah mencapai hakikat. Cinta adalah penghubung atau pengikat antara kita dengan-Nya. Jadi, cinta ialah pengikat, penghubung, laluan, tangga naik menuju tauhid. Di mana saja cinta menjelaskan bahwa tujuan hanya satu, yaitu kemutlakan dan kebenaran yang hak.

*Penulis adalah Ketua Komisariat PTIQ-IIQ HMI MPO Cab. Jakarta Selatan dan mahasiswa Institut Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an (IPTIQ) Jakarta.