HMINEWS.Com, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) didesak lebih greget lagi. Tidak hanya mengurusi kasus kecil dan menangkapi koruptor kelas teri, akan tetapi KPK harus berani pula merambah sektor pertambangan dan energi. Sebab di situlah terjadinya korupsi yang paling memiskinkan.

“KPK harus masuk di sektor mafia tambang dan mafia perminyakan, jangan hanya menangkapi jaksa yang korupsi 50-60 juta saja. Benar itu (korupsi jaksa) memang termasuk korupsi juga, tapi harus ada skala prioritas,” ujar Ahmad Yani, anggota Komisi III DPR dalam diskusi Universitas Al Azhar Indonesia, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (26/11).

Anggota fraksi PPP tersebut juga mempertanyakan mengapa harga jual gas dari Pertamina ke Cina lebih murah dibanding ke PLN. Yani menuding ada mafia yang bermain di balik itu dan orangnya itu-itu saja dari dulu. Ia juga menyoroti kasus Kereta Api Indonesia yang tidak disubsidi.

Dalam dialog bertajuk “Koreksi Pemberantasan Korupsi di Era Susilo Bambang Yudoyono” itu, hadir juga pembicara lain yaitu Bambang Soesatyo (Golkar), seorang pembicara dari Mabes Polri, KPK, Noviar Saleh, serta ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Al Azhar Indonesia.

Bambang Soesatyo menilai masalah utama dalam pemberantasan korupsi adalah pada itikad baik dan keberanian dari pemimpinnya. Korupsi yang ada sekarang justru dikemas dalam kesantunan, sehingga mengecoh masyarakat. “Pemimpin sekarang pintar berpidato, menawan dalam penampilan dan santun dalam korupsi,” kata Bambang.

Persiapan Aksi 9 Desember

Dialog digagas Front Aksi Mahasiswa Indonesia dengan Universitas Al Azhar Indonesia dan Universitas Indonesia sebagai panitianya. Dihadiri FAM Banten, President University, Trisakti, Usahid dan kampus lainnya. Selain refleksi pemberantasan korupsi, usai dialog acara dilanjut dengan konsolidasi gerakan menyambut hari anti korupsi sedunia, 9 Desember nanti.

“Ini juga sekaligus konsolidasi untuk tanggal 9 Desember nanti,” terang Ikhwan, seorang panitia dari FAM UI. (Fathur)