HMINEWS –  Salah satu aktivis muslim di BEM UGM Yogyakarta, Bhima Yudhistira, mendapatkan kesempatan berkeliling negara-negara Asia Tenggara dalam rangka penyelenggaraan International Seminar on Youth Leader di UGM dan untuk mempromosikan terbentuknya jaringan organisasi kemahasiswaan intra kampus di se-ASEAN. Dalam kesempatan tersebut Bima juga berkesempatan untuk mengamati aktivitas kepemudaan Islam di negara-negara ASEAN. Berikut adalah sekilas reportasenya.

================================================================

Gerakan Mahasiswa Islam di Asia Tenggara

oleh Bhima Yudhistira Adhinegara

Menjadi aktivis mahasiswa Islam di luar negeri terutama ketika kaum muslim menjadi minoritas membutuhkan strategi serta arahan yang cukup menarik untuk dipelajari. Perbedaan budaya yang ekstreem antara Islam dan Hedonisme-urban atau sering disebut budaya post-modernisme memiliki efek tersendiri pada keahlian dakwah aktivis mahasiswa Islam, terutama di Bangkok dan Singapura. Berikut merupakan catatan harian penulis ketika berkunjung ke beberapa negara di Asia Tenggara beberapa bulan yang lalu.

Melihat hiruk pikuk kegiatan mahasiswa muslim di Thailand memang tidak jauh berbeda dengan kegiatan mahasiswa Islam di Indonesia, bangun pagi untuk sholat berjamaah atau belajar bersama di sekretariat ketika masa ujian tengah semester dimulai. Namun ada beberapa hal yang sangat menarik untuk dikaji lebih jauh, yaitu positioning mereka diantara mahasiswa lain yang mayoritas beragama Budha. Hal ini memberikan suatu pelajaran yang berkaitan dengan strategi mereka dalam melakukan dakwah di dalam kampus serta dilingkungan sekitarnya. Suatu modifikasi strategi yang memerlukan kurun waktu 10 tahun hingga menemukan formulasi yang tepat dalam men-syiarkan Islam di beberapa kampus serta lingkungan sekitar mereka. Sebagai contoh di Kasetsart University (semacam IPB di Thailand), seorang mahasiswa muslim pernah disangka melakukan ritual aneh ketika melakukan sholat di kampus. Alhasil, banyak penjaga keamanan yang mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak relevan seputar ibadah yang ia jalankan. Bahkan sempat disebut sebagai kegiatan praktik Budha sesat. Hal inilah yang menjadikan semangat mereka dalam mem-populerkan Islam ke dalam kampus, sehingga timbul beberapa ide kreatif tentang Festival Muslim yang kini diadakan rutin tiap tahunnya, terutama dalam menyambut mahasiswa baru, sehingga mahasiswa non-muslim dapat memahami Islam secara komprehensif, bukan sekedar simbolik.

Ada beberapa Muslim Club yang cukup menonjol di Thailand, seperti Thai Muslim Student Association dan Thammasat Muslim Club, dengan gerakan-gerakan yang cukup variatif. Sebagai contoh Thammasat Muslim Club berusaha untuk bergabung dengan Thammasat University Student Senate atau semacam BEM Universitas di Thamamsat University. Mereka aktif menggelar dialog antar agama, bahkan turut serta dalam mengambil kebijakan-kebijakan sentral di dalam organisasi mahasiswa, sehingga eksistensi mereka cukup diakui oleh organisasi-organisasi mahasiswa lainnya.

Penulis di kampus Mahidol University, Thailand

Kamboja memiliki situasi sosial yang cukup berbeda dibandingkan dengan Thailand, mahasiswa muslim di Kamboja tengah berjuang keras dalam memperbaiki tatanan ekonomi umat muslim, terutama di daerah pantai. Hal ini dikarenakan perlakuan diskriminasi yang tidak hanya bersifat parsial, seperti di Thailand, namun bersifat secara struktural ekonomi. Ketika di Thailand orang memakai kerudung dianggap tidak sesuai dengan budaya mereka, sedangkan di Kamboja cukup berbeda, warga muslim menjadi korban diskriminasi sosial karena tingkat perekonomian mereka yang dibawah rata-rata. Strategi dakwah yang dilakukan oleh mahasiswa muslim, sebagai contoh Cambodian Muslim Student Senate pun memiliki keunikan tersendiri, seperti bakti sosial secara ekspansif, melakukan pengajuan label makanan ‘halal’, serta membantu proses penyebaran Al-Qur’an berbahasa Khmer (bahasa asli Kamboja).

Gerakan-gerakan mahasiswa Muslim tersebut cukup inklusif dalam artian tidak memberikan doktrin tertentu kepada para anggotanya. Kebebasan inilah yang memberikan suatu gambaran terhadap arah gerakan mereka yang cukup solid, namun tidak menutup aliran-aliran Islam selain yang mereka yakini tergabung. Seperti Jamaa’ah Tablig yang cukup banyak ditemukan di Thailand, terutama Thailand Selatan (Pattani), serta Syiah bahkan Ahmadiyah di Phnom Phen, Kamboja.

Pengalaman lain adalah pertemuan dengan seorang Ahmadi (sebutan untuk penganut aliran Ahmadiyah) di Phnom Phen, ketika hadir dalam acara gathering Duta Besar Indonesia di Kamboja. Berdasarkan pemaparan penganut Ahmadiyah tersebut, ada beberapa aliran Ahmadiyah yang berbeda di setiap negara, khususnya di Asia tenggara. Sebagai contoh, ketika Ahmadiyah di Indonesia di anggap sesat, golongan Ahmadiyah di Kamboja merasa bahwa mereka termasuk golongan orang-orang yang memiliki tauhid sama dengan muslim lainnya. Sehingga ketika muncul stigma kesesatan Aqidah Ahmadiyah, mereka mengakui bahwa aliran Ahmadiyah di Indonesia berbeda dengan Kamboja. Perdebatan tentang aqidah ini cukup menarik, hanya saja pada waktu itu acara resmi di Duta Besar Indonesia untuk Kamboja membatasi waktu penulis untuk berdiskusi lebih jauh.

Singapura memiliki hal yang cukup unik, sementara kondisi mushola ataupun masjid di beberapa kampus Thailand seperti di Kasetsart University, Mahidol University mulai mengakomodir mahasiswa muslim dalam melakukan ibadah nya, kondisi beberapa kampus di Singapura yang sempat ditemui cenderung berbeda. Ada beberapa fasilitas mushola, tapi luasnya tidak cukup besar dari kamar mandi. Hal ini pun diakui oleh beberapa rekan aktivis muslim Singapura sebagai bentuk perjuangan panjang untuk merenovasi dan terus memperluas mushola-mushola yang ada di kampusnya. Untuk hal-hal yang bersifat ideologis atau pemikiran Islam, mahasiswa muslim Singapura memiliki ketertarikan yang cukup kuat terhadap dinamika aliran-aliran Islam yang ada di Indonesia. Tidak kalah menariknya ketika berdebat seputar Muhammadiyah, NU, serta beberapa aliran yang menurut mereka merupakan sumber dari pemikir-pemikir besar di Asia Tenggara. Namun terlepas dari itu, kritik-kritik tajam juga mereka lontarkan ketika film-film di Indonesia tidak mencerminkan budaya muslim. Satu pertanyaan penting dari mereka untuk dikaji adalah, ‘apakah Islam di Indonesia hanya bersifat parsial? ketika pemikiran-pemikiran Islam tumbuh subur di Indonesia namun tidak diikuti oleh akhlaq dari umatnya, inikah yang disebut sebagai negara dengan mayoritas berpenduduk Islam?

Perjalanan ini hanyalah refleksi dari keberadaan kita sebagai pewaris sejarah dari peradaban Islam di Asia Tenggara yang kini sudah mulai menuju ke arah kebangkitan secara perlahan dalam hal pemikiran maupun pergerakan. Mampukah mahasiswa Islam di Indonesia sebagai kader-kader brilian memimpin perubahan tersebut? Ditengah pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar dari aktivis mahasiswa muslim di Malaysia, Thailand, Singapura dan Kamboja akan bangkitnya peradaban Islam di Asia Tenggara, siapakah yang akan memimpin kebangkitan baru ini atau mereka sebut sebagai new revival?

Semoga refleksi dari sebuah catatan perjalanan ini mampu menginspirasi pergerakan mahasiswa Islam yang kini menuju arah internasionalisasi gerakan.

 

Penulis: Bhima Yudhistira Adhinegara, Menteri Riset dan Pengembangan BEM UGM 2011 dan Sekretaris Umum HMI Komisariat Ekonomika dan Bisnis UGM