Musashi. Sang pendekar kesohor yang mencapai puncak tertinggi dalam jalan pedang ternyata mengalami pasang surut semangat. Sebagaimana orang lain, ia pun mengalami konflik batin dan perasaan hampir putus asa dalam pencariannya tersebut.

Ini pengakuan jujur Musashi terhadap teman karibnya, Matahachi yang sedari kecil selalu bersama dan terjun dalam pertempuran antara dua daimyo di Sekigahara.

“Terus terang aku sendiri berhadapan dengan tembok. Ada masanya aku bertanya-tanya, apakah aku punya masa depan. Aku merasa sama sekali kosong. Rasanya seperti terkurung dalam rumah kerang. Aku benci pada diriku. Kukatakan pada diri sendiri, diriku ini sia-sia. Tapi dengan mendera diri sendiri, dan memaksa diri untuk jalan terus, aku berhasil menerobos rumah kerang itu. Lalu jalan baru terbuka di hadapanku.”

Meski didera rasa hampir putus asa, namun Musashi tetap melangkah. Ringan ataupun berat tetap dijalani. Pergulatan batin memang selalu terjadi sebagai godaan yang harus diatasi dalam mencapai cita-cita.

“Percayalah, kali ini sedang berlangsung perjuangan yang sesungguhnya dalam diriku. Aku menggelepar-gelepar di dalam rumah kerang, dan tak dapat melalukan sesuatu. Aku turun dari pegunungan karena teringat orang yang menurutku dapat menolongku,” sambungnya.

Musashi berkesimpulan dirinya mengalami disorientasi dan tak tahu apa yang mesti dilakukan. Karenanya ia berpikir perlu menemui seseorang, yaitu Takuan, guru yang pernah menyelamatkan dan membuka jalan hidupnya, untuk kembali meminta pencerahan.

Begitu bertemu, bukannya memberi arahan dan wejangan, Takuan yang saat itu telah berganti nama mendai Gudo mengacuhkannya. Musashi terus-menerus memohon dan mengikutinya pendeta Zen tersebut demi mendapatkan pencerahan. Hingga suatu hari, Takuan meminta kepada Matahachi agar diambilkan tongkat.

Merasa akan mendapat cambukan, Musashi berlutut dalam posisi siap dihukum. Akan tetapi bukannya mendera dengan tongkat perjalanan tersebut, Takuan hanya menggoreskan lingkaran mengelilingi posisi Musashi.

Usai melukiskan lingkaran, Gudo berlalu bersama Matahachi tanpa berkata-kata. Musashi hilang kesabaran dan memaki gurunya tersebut. Pikirnya, sia-sia mengemis pencerahan dari orang yang telah diikutinya dalam panas dan hujan tanpa kenal lelah itu, namun tetap saja dicueki.

Puas memaki, ronin dari provinsi Mimasaka yang nama kecilnya Takezo tersebut tersadar. Pelan-pelan emosinya surut. Ia menghayati makna lingkaran yang digariskan gurunya tersebut.

Lingkaran, jika diperbesar tak berhingga adalah semesta itu sendiri, tanpa ujung, dan jika diperkecil, ia menjadi satu titik, tempat jiwanya bersemayam. Dari satu titik itulah, segalanya bermula.

Unggul Karena Spirit

Berpuluh, bahkan ratusan pendekar telah Musashi taklukkan. Dengan pedang maupun dengan tangan kosong, dan sebagiannya tewas. Mulai dari perguruan Yoshioka, ronin-ronin jalanan, hingga musuh terberatnya, Sasaki Kojiro pada 1612 di Funashima. Kojiro adalah pendekar muda yang berhasil mengembangkan permainan pedang dengan gayanya sendiri, Ganryu, dan direkrut seorang daimyo untuk melatih para samurai.

Kekuatan fisik bukanlah segalanya dalam setiap penaklukan. Belajar dari banyak guru dan membaca buku-buku klasik termasuk karya Sun Tzu dan filsuf-filsuf Cina dan Jepang, serta dari pengalaman dan penghayatannya atas pengalamanya tersebut, Musashi sadar, kemenangan membutuhkan hal lain di samping kekuatan dan keahlian.

“Dalam hal kekuatan, dalam hal tekad tempur, Kojiro setingkat lebih tinggi dari Musashi. Justru karena itulah Musashi terpaksa mesti meningkatkan kemampuan dirinya sendiri, hingga bisa lebih hebat lagi dari Kojiro.

Kojiro meletakkan keyakinannya pada pedang kekuatan dan keterampilan. Musashi mempercayakan pada pedang semangat. Itulah satu-satunya beda di antara mereka,” tulis Eiji Yoshikawa, sang penulis legenda Musashi dengan terbitan mencapai 120 juta eksemplar tersebut. (Fathur)

Penulis: Fathurahman, Direktur LAPMI PB HMI