HMINEWS.COM, Jakarta – Jangan heran jika pembangunan bangsa ini terkesan jalan di tempat, bahkan di sejumlah bidang dapat dibilang mundur. Hal itu karena elitnya bingung dan tidak punya konsep yang jelas, serta pendirian yang lemah dan rawan intervensi asing.

“Jika kita tanya rakyat negara tetangga, Filipina misalnya, bahkan hingga sopir taksinya pun tahu arah pembangunan bangsanya. Mereka tahu mau jadi seperti apa negaranya dalam dua puluh tahun ke depannya. Namun di Indonesia, jangankan rakyat, elit politiknya pun masih bingung,” kata Catur Sapto Edi dalam orasi Mimbar Kebudayaan 83 Tahun Sumpah Pemuda di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Rabu (26/10/2011) malam.

Sedangkan mengenai kuatnya indikasi intervensi asing, lanjut Catur, terjadi di berbagai segi, terutama dalam kebijakan. “Tidak ada bangsa lain yang tidak iri dengan kemajuan Indonesia, makanya campur tangan itu demikian kuat,” sesalnya.

Hal itu diperparah dengan ketidakpedulian elit bangsa, seperti terlihat dari pengerukan sumber daya alam Indonesia oleh asing tanpa kontrol. Royalti penambangan emas PT Freeport di Papua, misalnya, Indonesia nerimo hanya dibagi royalti yang hanya 1 persen. Catur memandang, pemerintah harus berani merenegosiasi tambang tersebut untuk kesejahteraan rakyat. Namun, lagi-lagi semua terkendala ego masing-masing. “Kalau sudah di atas, untuk saling ketemu aja susah,” ujarnya.

Sekjen PB HMI, Agus Thohir menambahkan, penguasaan sumber daya alam oleh asing makin menjadi-jadi. Bahkan sampai sumber-sumber air bersih yang dikuasakan kepada swastra (privatisasi).

“Padahal, sesuai amanat Undang-undang, bumi, air dan kekayaan alam dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat,” tegasnya.

Sumber bagi kesejahteraan rakyat juga dikuasai asing seperti Energi, perbankan, ritel dan sebagainya yang kini bukan lagi milik Indonesia.

Politisi muda PDI Perjuangan, Maruarar Sirait yang hadir dalam Mimbar Budaya tersebut menandaskan, hal itu makin diperparah dengan langkanya konsistensi di negeri ini. “Amat langka yang tetap pada garis perjuangannya ketika mereka sudah duduk di kursi DPR, menjadi bupati atau walikota,” kata Maruarar.

Karenanya, semangat kaum muda masih relevan untuk mengangkat bangsa ini dari keterpurukan seperti pada momen Sumpah Pemuda dan proklamasi kemerdekaan 1945.

“Kesejahteraan hanya dimiliki segelintir orang, karenanya, kita tidak boleh lelah melanjutkan perjuangan, karena kitalah pemilik sah negeri ini,” kata Ketua Umum IMM, Ton Abdillah menambahkan dalam orasinya. (Ftr)