Oleh: Larry Derfner

Modi’in, Israel – Setiap kali situasi di Israel memburuk, dan setiap kali saya berpikir kalau negara ini telah dipenuhi dengan ketakutan dan agresi sehingga tidak pernah siap menjalin perdamaian, saya mengingatkan diri saya: bila kita ini tengah berjalan menuju suatu tembok penghalang, suatu kali kita akan menabrak tembok itu. Setelah rasa sakit berkurang dan kita kembali bersiap-siap, kita akan mengerti bahwa tembok itu masih ada di situ. Dan saat itu, kita akan tidak punya pilihan selain mengubah arah.

Tembok penghalang di tengah jalan itu adalah pengucilan internasional sampai ke titik kasta terendah, bersamaan dengan berlanjutnya eskalasi ancaman keamanan dan tidak adanya harapan untuk mengatasinya dengan kekuatan militer.

Pekan lalu di PBB, Israel mengambil satu lagi langkah besar menuju tembok itu. Dengan meneguhkan sikap Israel yang menentang permintaan status kenegaraan Palestina di PBB, Amerika Serikat, tampak telah melepaskan pengaruhnya pada konflik Israel-Palestina, dan bahkan mungkin juga di Timur Tengah secara keseluruhan.

Pemerintah Israel, yang didukung oleh Partai Republik, Kristen Amerika sayap kanan, dan Yahudi Amerika sayap kanan, kali ini terlalu keras menekan Presiden AS Barack Obama. Dengan menghalangi upaya Palestina mendapatkan kenegaraan, ia tidak lagi bagus buat Israel. Ia telah kehilangan kepercayaan bahkan dari seorang pemimpin moderat Palestina seperti Mahmoud Abbas. Sehingga ia pun tidak bisa menekan orang Palestina untuk lebih bisa berdamai, seperti sebelumnya.

Bisa dipertanyakan apakah ia punya banyak pengaruh tersisa di Mesir, Turki dan Yordania, yang dulu biasa diandalkan Israel sebagai benteng melawan musuh-musuh radikalnya.

Ini tidak bagus buat Israel. Dan jika Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berpikir seorang tokoh Partai Republik di Gedung Putih akan bisa datang menyelamatkannya, saya ragu kalau kandidat Partai Republik siapa pun akan bisa memiliki lebih banyak kawan dan pengaruh bagi pemerintah Israel ini daripada yang Obama kini bisa – dan saya, tentu, mengecilkan masalah.

Ada sebuah peribahasa Ibrani, “Tafasta meruba, lo tafasta” yang bisa diartikan: “Jika Anda terlalu serakah, Anda tidak akan mendapatkan apa-apa.” Ini, saya kira, adalah apa yang terjadi pada pemerintahan Netanyahu dan sekutu-sekutunya di Amerika – mereka tidak saja ingin melunakkan tekanan Obama pada Israel, mereka juga mendesaknya mengikuti petunjuk Netanyahu.

Dan dengan berbuat demikian, pemerintah Israel, yang didukung oleh para pendukung fanatiknya di Amerika Serikat, boleh jadi tidak akan mendapatkan apa-apa – dalam wujud, Amerika yang tidak bisa lagi mempertahankannya secara diplomatik. Dan bagi Israel, khususnya sekarang, Amerika adalah negara yang paling dibutuhkan.

Namun, hal luar biasa muncul dari pengalaman ini: rakyat Palestina melihat bahwa nirkekerasan dan diplomasi berhasil. Mereka bersorak gembira saat Abbas menyampaikan pidato kemenangannya di New York dan Ramallah – dan menegaskan kembali bahwa perjuangan Palestina akan berlanjut tanpa kekerasan.

Gerakan ini, yang dipimpin oleh orang-orang Palestina dan juga diikuti oleh para aktivis asing termasuk dari Israel, bermula dari aksi protes terhadap pengambilalihan lahan di desa-desa Tepi Barat dan tindakan membujuk para penghuni permukiman Syekh Jarrah di Yerusalem untuk menjual tanah. Namun, Abbas, telah menyerukan strategi nasional nirkekerasan selama satu dasawarsa terakhir, dan tampaknya caranya telah ditangkap oleh rakyat. Inilah apa yang ditunggu-tunggu oleh semua pencinta perdamaian di Timur Tengah, termasuk orang Palestina dan Israel, dan kini itu telah tiba.

Apa yang akan terjadi tidaklah mudah bagi Israel, bagi Amerika ataupun bagi kekuatan-kekuatan Eropa yang berupaya membawa Abbas dan Netanyahu ke meja perundingan. Tanpa komitmen dari Netanyahu untuk mengakui hak rakyat Palestina atas Teritori Terduduki, di samping hak Israel atas teritori pra-1967, serta pembekuan pembangunan permukiman di Tepi Barat, Abbas tidak akan berunding. Sementara itu, Abbas akan terus kembali ke Dewan Keamanan dengan tuntutannya agar Palestina diakui sebagai negara, memaksa Obama untuk mempertahankan posisi Netanyahu, dan akan hanya memperparah pengucilan dan permusuhan terhadap Amerika dan Israel di Timur Tengah.

Hanya ada satu jalan untuk membalikkan arah – dengan mengakhiri pendudukan Israel dan membuka jalan bagi Palestina yang merdeka dan berdaulat. Cepat atau lambat, saya yakin itu akan terjadi. Status quo tidaklah statis. Di suatu titik, biaya pendudukan bagi Israel dan Amerika Serikat akan terlalu tinggi untuk ditanggung lagi. Dan kemudian orang Palestina – juga orang Israel – akan bebas.

###

* Larry Derfner ialah seorang jurnalis dan kolumnis Amerika-Israel yang telah menulis untuk banyak surat kabar termasuk US News & World Report, The Jerusalem Post, dan The Sunday Times London. Ia kini menulis untuk +972 Magazine.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews).