HMINEWS.COM

 Breaking News

Syawalan HMI-MPO: Penghargaan untuk Lima Alumni HMI Pejuang Kemasyarakatan

September 25
01:07 2011

HMINEWS, Jakarta –  Lima orang mantan aktivis HMI mendapatkan award dalam bidang perjuangan kemasyarakatan dari Panitia Keluarga Besar Alumni HMI-MPO (24/9/2011). Penghargaan tersebut diberikan sebagai wujud penghargaan atas dedikasi dan perjuangan mereka dalam pengabdian dan perjuangan kemasyarakatan.

Pengharaan diberikan dalam sebuah acara Syawalan Akbar alumni HMI-MPO di Hotel Bidakara, Kuningan, Jakarta, 24 September 2011. Adapun mereka yang mendapatkan award adalah Abdullah Hehamahua (Jakarta), Ibu Shofiatun (Yogyakarta), Saad Suharto (Jakarta), Sulhan Anwar (Makassar), dan Sujarwo (Yogyakarta).

Abdullah Hehamahua

Abdullah Hehamahua mendapatkan penghargaan atas kegigihan dan konsistensinya dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Abdullah Hehamahua, atau biasa dipanggil dengan Bang Dul, dianggap telah menjadi tauladan bagi HMI sebagai sosok yang idealis dan sederhana. Pernah menjadi ketua umum PB HMI pada periode pemaksaan asas tunggal oleh rezim Suharto, Bang Dullah saat ini menjadi idla kader-kader muda yang gandrung akan penyelenggaraan negara yang bebas korupsi.

Sementara Ibu Shofiatun adalah mantan HMI-wati yang konsisten selamalebih dri 20 tahun membina komunitas-komunitas pinggiran dan menjadi ibu bagi anak yatim di Yogyakarta. Perjuangannya yang tanpa kenal lelah dan langsung berhubungan dengan grass root menjadikannya sebagai sosok yang patut dicontoh sebagai kader HMI ideal. Beliau adalah seorang perempuan dan aktif dalam membina masyarakat kelas bawah. Berbeda dengan kebanyakan kader HMI, beliau tidak pernah tergoda untuk masuk dalam pusaran politik atas yang seringkali menggiurkan.

Pemenang ketiga adalah Sulhan Yusuf, mantan ketua HMI Cabang Makassar dan kini aktif dalam gerakan mencerdaskan anak-anak muda di kota Makassar. Semenjak awal tahun 90-an, Sulhan mempelopori pendirian toko buku yang didalamnya semua orang boleh baca meskipun tidak membeli. Toko buku yang dibinanya lebih merupakan wahana baca bagi kaum muda dari pada sekedar toko buku komersil. Atas perjuangannya yang konsisten, saat ini gagasan bacanya telah berkembang menjadi banyak dalam bentuk rumah baca ‘Boeta Ilmoe’ yang bertebaran di pinggiran kota Makassar.

Pemenang ke-empat, Saat Suharto, tokoh micro finance syariah yang berani melawan arus ketika gerakan ekonomi syariah pada awal tahun 90-an banyak dicibir oleh kalangan aktivis dan intelektual. Selepas dari kepemimpinannya di HMI Cabang Yogyakarta, Saat pulang kampung di Wonosobo, Jawa Tengah, untuk membuka BMT (Baitl Mal Wattamwil) TAMZIZ. Bermodalkan awal hanya 5 juta rupiah, BMT tersebut kini sudah memiliki cabang lebih dari 20 dengan aset milyaran rupiah. Sukses mendirikan BMT TAMZIZ, Mas Saat (biasa dipanggil) saat ini membina sebuah perhimpunan permodalam BMT yang beranggotakan lebih dari 180 BMT se-Indonesia. Menggunakan strategi Sun Tzu, Desa Mengepung Kota, Saat yang memulai karir membina ekonomi syariah dari pedesaan di Wonosobo, saat ini beliau telah berkantor di sebuah kawasan elit, pusat bisnis Jakarta. Saat adalah pelopor gerakan ekonomi mikro syariah di Indonesia.

Saat Suharto

Penerima award ke-lima adalah Priyono, mantan aktivis HMI UGM Yogyakarta yang saat ini aktif membina anak jalanan di Yogyakarta. Beliau sejak lebih dari 15 tahun yang lalu konsen pada pembinaan anak-anak terlantar yang cenderung dilupakan dalam kehidupan masyarakat kota. Atas pembinaan dari beliaulah banyak anak jalanan di Yogyakarta yang bisa hidup dengan lebih baik dan tersentuh nafas agamanya. Terhadap para anak jalanan  yang tidak punya legalitas KTP tersebut, Pak Priyono berhasil menikahkan lebih dari 700 pasangan secara Islam. Sampai saat ini kepeduliannya pada masyarakat kelas bawah tidak luntur, baru-baru ini beliau mendirikan sebuah pesantren di tengah lokasi pelacuran di Yogyakarta.

Saat menyerahkan plakat penghargaan kepada para pemenang, ketua panitia Syawalan Awalil Rizky menyampaikan bahwa pemberian penghargaan tersebut tidak diberikan berdasarkan tingkat popularitas penerimanya di mass media, melainkan didasarkan kontribusi kongkretnya dalam masyarak, terutama masyarakat yang kurang beruntung. []

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.