HMINEWS –  Seekor bajing bernama Nacar baru saja tertangkap. Dialah biang keladi yang memusingkan banyak orang. Satu desa dibuatnya panik dan meradang, lantaran isi kebun-kebun kelapa habis tak membuahkan apa-apa. Bajing Nacar tidak hanya membocori buah-buah kelapa, memakannya di atas pohon, tetapi juga membawa kabur kelapa-kelapa itu, lalu menjualnya kepada tengkulak.

Warga yang sudah tidak tahan, berencana menggelar operasi besar-besaran menangkap jenis bajing Callosciurus Notatus itu. Mereka nekad bertindak sendiri, sebab pikir mereka, aparat desa tak mungkin diharap menuntaskan kasus semacam ini. Pengalaman yang sudah-sudah membuktikan kalau pamong desa acuh tak acuh dengan perilaku para bajing.

Mendapat kabar tentang rencana operasi itu, bajing Nacar langsung kabur. Ia menghilang seketika, entah ke mana. Bikin Geger Pak Kades nampak gelisah. Ia gelisah bukan karena ulah jahat Nacar, tapi justru oleh aksi warga yang bersikeras mengejar Nacar hingga ke ujung jagad sekalipun, sambil mengacung-acungkan parang, panah, dan tombak. Menurut Pak Kades, cara-cara yang ditempuh warga itu tergolong anarkis, serta berbahaya bagi stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan desa. Pak Kades lalu menggelar pidato di balai desa, meminta supaya Nacar sebaiknya pulang dan menyerahkan diri saja. Bagi Pak Kades, Nacar harus diringkus dengan cara-cara yang santun, beretika, dan sesuai prosedur hukum yang berlaku.
Bukannya memenuhi permintaan Pak Kades, dari tempat persembunyiannya Nacar malah menyebarkan selebaran gelap—disebut “gelap” karena alamat pengirimnya tidak diketahui. Sepertinya ia dongkol dengan pidato Pak Kades yang memintanya pulang. Nacar merasa tak sepenuhnya bersalah. Ia tak bisa menerima jika seluruh kesalahan ditimpakan padanya. Dalam selebaran gelap itu, Nacar membeberkan kalau sebagian kelapa hasil jarahannya justru ia serahkan kepada istri Pak Kades.

Apa? Gawat! Pak Kades panik. Ia segera menggelar pidato mengklarifikasi masalah ini. “Ini fitnah besar!” katanya dengan nada santun. Hari itu juga Pak Kades menyampaikan instruksi: “Oleh karena saudara Nacar tidak menunjukkan itikad baik untuk menyerahkan diri, maka dengan sangat terpaksa saya perintahkan kepada aparat Hansip untuk menangkap saudara Nacar dalam tempo yang secepat-cepatnya!”

Nacar sepertinya tidak gentar. Beberapa hari kemudian, datang lagi selebaran gelap darinya. Di situ Nacar mengutarakan: “Pelarian saya justru atas sokongan Pak Kades.”
Nah, lho. Seketika itu juga seluruh desa menjadi geger. Ini perkara yang tidak main-main. Pak Kades marah besar. Ia tak menyangka Nacar bicara seberani itu. Tak ada ampun lagi, Nacar harus ditangkap!

Untuk lebih mempercepat tertangkapnya Nacar, selain mengerahkan aparat Hansip, Pak Kades juga menggelar sayembara menangkap Nacar yang hadiahnya berupa 1 unit sepeda motor. Sejumlah warga desa yang sehari-hari berstatus sebagai penganggur, ikut bergairah mencari Nacar demi memenangkan hadiah.
Dari tempat persembunyiannya Nacar terus bersuara. Kali ini ia mengirimkan sebuah foto bergambar pertemuan dirinya dengan Pak Kades di suatu tempat. Dalam foto itu nampak bajing Nacar dan Pak Kades tengah bersalaman sambil senyam-senyum.

Geger di desa makin semarak. Pak Kades lagi-lagi menggelar pidato. Dalam pidato yang tetap bernada santun itu ia berkata: “Apa yang saudara-saudara lihat dari foto itu, jelas bukan kenyataan yang sebenarnya. Saya bisa pastikan kalau foto itu merupakan hasil rekayasa digital tingkat tinggi.”
Kelakuan bajing Nacar benar-benar membuat Pak Kades amarah. Ia lantas mengumumkan penambahan hadiah sayembara menjadi: 1 unit sepeda motor, ditambah 1 unit kulkas dua pintu, ditambah 1 unit setrika. Kekuatan Hansip ditambah. Mereka mulai dikerahkan hingga ke pulau seberang. Nacar harus ditangkap hidup atau mati!

Pelan tapi pasti, warga mulai terpengaruh dengan isi selebaran-selebaran gelap Nacar selama ini. Beberapa warga bahkan sudah berani bicara tentang wacana mempertimbangkan kedudukan Pak Kades. Sebagian yang lain bahkan sudah menghembuskan isu tentang penumbangan Pak Kades dari kursinya.
Isu, desas-desur, serta wacana itu terang saja membuat Pak Kades waswas. Maka ia pun (lagi-lagi) menggelar pidato demi menenangkan warga: “Saudara-saudara, insya Allah dalam waktu yang tidak lama lagi Nacar pasti akan tertangkap. Para Hansip sudah mengendus lokasi persembunyiannya. Kami mohon doa warga sekalian supaya operasi penangkapan ini berjalan sukses. Amin.”

Dan akhirnya, benarlah kata pepatah: “Sepandai-pandainya bajing meloncat, ia pasti akan jatuh juga!” Setelah dilakukan pengejaran berbulan-bulan, bajing Nacar akhirnya berhasil diringkus di suatu café di pulau seberang ketika sedang menikmati es jus kelapa muda.  Pasti Bisa

Berita tentang tertangkapnya Nacar cepat meluas. Warga desa yang penasaran, bergerombol mendatangi balai desa, hendak memastikan berita yang berhembus. Di saat-saat seperti ini, pidato Pak Kades menjadi peristiwa yang paling ditunggu-tunggu.
“Syukur alhamdulillah, bajing Nacar sudah tertangkap!” kata Pak Kades dalam pidatonya.
Horeeee. Warga ramai bertepuk tangan, ada yang meniup terompet seperti pada perayaan tahun baru. Namun sebagian warga yang lain nampak saling berbisik. Suatu hal penting tengah mereka perbincangkan.
Tak lama kemudian, seseorang mengacungkan tangan, bertanya: “Pak Kades, bagaimana dengan bajing Nuhun yang terkait skandal itu, yang katanya hilang ingatan, yang sampai kini belum juga ditangkap? Juga bagaimana dengan bajing-bajing Belbei yang dahulu kala memiskinkan desa kita? Apa mereka dapat juga Bapak ringkus?”

“Ya, benar, Pak. Kalau bajing Nacar bisa diringkus, masak bajing-bajing yang lain tidak bisa diringkus? Bapak juga serius kan, mau menangkap mereka? Tapi kok selama ini tidak ada tindakan berarti dari Bapak untuk memburu bajing-bajing bermasalah yang pada kabur itu?”
“Aaah, jangan-jangan Bapak hanya bersikeras menangkap banjing Nacar saja, supaya Bapak bisa membungkam mulut Nacar biar tidak bicara lagi soal keterlibatan Bapak dan keluarga dalam perbuatan Nacar.”
Wajah Pak Kades mulai merah.
“Kalau begitu adanya, berarti Bapak hanya menangkap bajing yang punya kaitan politis dengan Bapak, atau yang Bapak bisa politisasi. Lalu, yang tidak ada kaitannya sama sekali, Bapak biarkan lenyap begitu saja.”
“Bapak ini kok aneh, yah?”
Para warga serentak bersorak, lagi-lagi ada yang meniup terompet. Kemudian, rentetan pertanyaan keluar dari mulut mereka.
“Pak, sebenarnya bajing yang bersembunyi di neraka sekalipun dapat diringkus, kalau saja Bapak mau. Iya, kan!? Bapak ini punya segala-galanya untuk bertindak semacam itu. Bapak punya kekuasaan yang besar, punya pasukan Hansip yang cakap-cakap, punya teknologi yang canggih, punya cukup anggaran. Apa lagi Pak yang kurang?”
“Betul!”
“Satu-satunya yang Bapak tidak punyai hanyalah, keberanian!”
“Yang tegas dong, Pak! Jangan ragu melulu.”
“Setuju! Bekas Hansip kok loyo!?”
“Sebenarnya, masalahnya justru ada sama Bapak.”
“Atau, jangan-jangan, Bapaklah yang sesungguhnya merupakan sumber dari segala sumber masalah, sehingga pada gilirannya menjadi sumber dari segala sumber bencana? Wah!”

Pak Kades membiarkan warganya terus bicara. Ia tak mau memasung suara warga demi menjaga citra sebagai Kades yang demokratis. Ia tetap duduk di kursinya, mencatat satu per satu omongan warga yang kadang-kadang kurang ajar itu. Ia berusaha tenang, meskipun jauh di dasar hatinya amarah sedang menyala-nyala. Demi menjaga predikat sebagai Kades yang santun dan lemah lembut, maka ia berusaha tampil dengan raut wajah (seolah-olah) penuh kesabaran. Ia tidak sadar kalau sikap yang semacam itulah yang justru membuat warga kian bingung dan putus asa; yang menyebabkan bajing-bajing semakin merajalela. []

Penulis: Alto Makmuralto, Ketua Umum PB HMI 2011/2013