HMINEWS, Tehran – Konferensi internasional pertama tentang kebangkitan Islam (International Conference on Islamic Awakening) diselenggaraan di Tehran, Iran (Sabtu, 17 September 2011). HMINEWS berkesempatan pergi ke Tehran untuk menjadi pengamat acara tersebut. Berikut adalah liputan sekilas acara yang dihadiri oleh para tokoh Islam terkemuka dunia tersebut.

Konferensi selama dua hari tersebut dihadiri oleh lebih dari 600 pemikir dari 80 negara-negara Islam, Eropa dan Amerika Serikat. Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamanei menjadi salah satu pembicara kunci dalam pembukaan acara. Seminar merupakan bagian dari respons terhadap perkembangan dunia Islam akhir-akhir ini. Sebaimana diketahui, selama beberapa bulan terakhir, proses perkembangan di dunia Islam terutama di Afrika Utara dan Timur Tengah menarik perhatian dunia.

Gelombang revolusi di wilayah tersebut, yang meletus setelah seorang pemuda di Tunisia melakukan protes dengan membakar dirinya, dengan cepat menyapu seluruh negara-negara regional Arab dan mengguncang dasar dari rezim diktator.

Diktator Tunisia, Zain al-Abidin-ben Ali, setelah menghadapi orang tekanan rakyatnya, akhirnya harus meninggalkan negerinya. Setelah peristiwa Tunisia, warga Muslim dan Mesir mempelopori kampanye anti pemerintah despotik Hosni Mubarak dan akhirnya bisa menggulingkan rezim yang didukung dukungan AS dan Zionis

Selanjutnya, di Libya, Bahrain dan Yaman, rakyat bangkit melawan para diktator yang berkuasa atas negara mereka. Diktator Libya Muammar Gaddafi, meskipun beberapa bulan berusaha bertahan, akhirnya harus melarikan diri dari negerinya sendiri. Terakhir, rezim Al-e-Khalifa di Bahrain dan Ali Abdullah Saleh di Yaman, sepertinya sedang di ambang keruntuhan.

Perkembangan yang berturut-turut tersebut tentunya menjadi bahan analisis oleh kalangan politik dan media. Seberapa jauhkah pengaruh akar Islam dalam pemberontakan Muslim terhadap para penguasa diktator tersebut?

Negara-negara Barat melalui propaganda media yang parsial mencoba melakukan manipulasi perhatian dunia terhadap gerakan revolusi tersebut. AS dan beberapa negara barat lainnya, yang gerah melihat maraknya gerakan revolusioner ummat Islam yang berakibat pada kolaps-nya para sekutu mereka, mencoba untuk menggambarkan diri mereka sebagai pendukung dari rakyat revolusioner tersebut. Mereka mencoba ‘membajak’ prestasi kaum Islam revolusione tersebut dengan melakukan kampanye seakan-akan mereka turut membantu menumbangkan rezim-rezim despotik tersebut.

Media yang berafiliasi ke Barat berusaha untuk mengarahkan bahwa akar revolusi rakyat di Afrika Utara dan Timur Tengah adalah semata karena masalah ekonomi dan kurangnya kebebasan sosial.

Dalam pidato pembukaannya, pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyid Ali Khamenei menyampaikan bahwa seungguhnya akar revolusi yang terjadi adalah oleh kekuatan prinsip-prinsip Islam yang otentik. Imam Khamenei menyampaikan bahwa gerakan rakyat tersebut didasari oleh semangat revolusioner Islam di negara mereka. Imam menyampaikan bahwa hal tersbeut merupakan kelanjutan dari gerakan revolusi Islam rakyat Iran 1979 untuk menyongsong “kebangkitan Islam.”