HMINEWS, Banda Aceh – Ada pepatah bijak yang mengatakan “Jangan seperti keledai yang masuk ke lubang yang sama kedua kali”. Julukan keledai mungkin cocok ditujukan kepada PT Pupuk Iskandarmuda, Lhokseumawe karena telah berkali-kali “melepaskan” gas beracun amoniak. Kamis (22/9) kemarin amoniak PT PIM kembali memakan korban masyarakat sekitar. Tak ada tanda bahaya atau sinyal yang dikeluarkan oleh perusahaan provit ini sehingga masyarakat bisa waspada.

“Kali ini 90-an korban timbul dari masyarakat, syukurnya tidak sampai memakan korban jiwa. Bagaimana protokol perusahaan untuk menghindari bencana yang sama? Bagaimana peran pemerintah untuk mengawasi perusahaan nakal ini,? kata Direktur WALHI Aceh, Teuku Muhammad Zulfikar.

Sekitar pukul 19.30 WIB, katup amonia PT PIM Lhokseumawe kembali bocor, sehinggar sekitar 20-an warga Desa Tambon Baroh, Kecamatan Dewantara harus dilarikan ke rumah sakit. Gas beracun amoniak telah meracuni paru-paru mereka sehingga membuat sesak nafas.

Peristiwa bocornya amoniak menjelang malam ini mengingatkan kita pada kasus kebocoran gas di Bhopal India tahun 1984 yang menewaskan sekitar 3.500 orang. Kebocoran gas beracun yang terjadi menjelang pagi berasal dari sebuah pabrik yang berada disekitar pemukiman.  Warga yanga selamat pun mengalami masalah kesehatan yang parah hingga hari ini, 25 tahun setelah insiden terjadi.

“Yang kami sampaikan ini bukan hal yang berlebihan. PT PIM telah berkali-kali bocor, dan tanpa ada dilakukan penanganan khusus untuk mencegahnya. Apa mau tunggu Bhopal terjadi di Lhokseumawe?” ucap Teuku Muhammad Zulfikar.

Bocornya amonia dari PT PIM rutin terjadi setiap tahun, terutama saat start-up mesin, sebuah masa yang genting dalam proses pengaktifan mesin-mesin di pabrik. Seharusnya, berkaca pada pengalaman yang lalu-lalu, jika start-up hendak dimulai harus dilakukan persiapan yang memadai. Mulai dari pemberitahuan kepada masyarakat akan  resiko bahaya, penyiapan tenaga emergency yang stand by dan penanganan secara teknologi yang mumpuni untuk mencegah kebocoran gas.

Tahun lalu, pada tanggal 28 April, terjadi kebocoran amonia yang menyebabkan puluhan warga harus dirawat di rumah sakit perusahaan, di samping 12 orang dirujuk ke Kesrem Lhokseumawe karena kondisinya tergolong gawat akibat terpapar amonia. [] lk