New York, New York – September ini, perhatian orang akan tertuju pada peringatan sepuluh tahun tragedi 11 September, dan para pengamat akan mengutarakan pandangan mereka tentang arti penting kejadian tragis ini. Satu hal yang semua orang akan setuju adalah bahwa inilah hari yang mengubah pemahaman kita tentang Islam.

Sebelum 11 September, banyak orang Amerika tidak tahu tentang Islam. Setelah 11 September, setiap orang bisa punya pandangan tentangnya. Sayangnya, banyak di antaranya didasarkan pada pernyataan yang tidak sepenuhnya benar dan klaim yang tidak berdasar yang memandang masa lalu, masa kini dan masa depan Islam selalu berbalut kekerasan. Ini membuat kita memiliki kebutuhan dan tantangan besar untuk membentuk kembali pemahaman masyarakat kita tentang Islam di Amerika.

Upaya ini akan membutuhkan lebih dari sekadar penyebaran informasi yang akurat dan adil. Yang menyedihkan, banyak orang cenderung hanya mengonsumsi atau meyakini informasi yang sesuai dengan keyakinan atau pendapat mereka. Jadi, meskipun informasi itu bagian yang penting dan niscaya dari solusi, hal ini membuat pengubahan karakterisasi tidak adil hanya melalui penyebaran informasi sangatlah sulit, dan ini bisa menjadi jalan buntu untuk menggerakkan perubahan.

Namun, dua kecenderungan yang sedang tumbuh mengungkap faktor-faktor lain yang penting bagi adanya perubahan yang nyata. Kecenderungan pertama adalah tumbuhnya jumlah tokoh Kristen penginjil yang berkomitmen melakukan pendekatan dengan kaum Muslim. Melihat sepintas jumlah tanggapan Kristen penginjil terhadap “A Common Word” (www.acommonword.com), sebuah surat yang ditulis oleh sejumlah tokoh Muslim terkemuka yang menjabarkan ajaran-ajaran yang sama dalam kitab suci Muslim dan Kristen, menjadi bukti akan hal ini. Ini luar biasa karena belum lama ambisi-ambisi kaum evangelis tampak masih dipersamakan dengan upaya merusak agama orang lain. Selain itu, sangatlah sulit untuk menemukan orang dari kelompok ini yang mau secara terbuka mendukung kerjasama lintas agama.

Bagaimanakah posisi yang berurat akar seperti itu berubah? Itu belum tentu karena orang-orang punya informasi yang lebih baik tentang Islam, walaupun ini penting. Orang-orang telah mengatasi bias dan mengubah pandangan karena hubungan mereka dengan Muslim. Melalui wajah orang lain, dan bukan fakta tentang mereka, kita dipaksa untuk mempertimbangkan kembali posisi kita. Saat jumlah orang yang berhubungan dengan Muslim meningkat, meningkat pulalah kejujuran dan respek mereka terhadap Islam.

Kendati saya benar-benar ingin melihat kecenderungan ini berlanjut, saya tidak berpikir kalau kecenderungan ini akan membuat perubahan berskala besar dalam pemahaman masyarakat kita tentang Islam. Pikiran bahwa “setiap orang butuh seorang teman Muslim” adalah penting tapi, seperti informasi, interaksi dengan Muslim juga tidak mewakili keseluruhan solusi.

Saya kira ada kecenderungan yang lebih penting yang telah dipandang remeh: meningkatnya iliterasi agama. National Study of Youth and Religion(NSYR) membuktikan bahwa di Amerika Serikat, meskipun mayoritas anak muda terbuka pada agama, mereka memperlihatkan sedikit sekali pemahaman tentang tradisi agama mereka. Ketidaktahuan Amerika tentang semua hal terkait agama tengah meningkat, dan sedikit sekali tokoh agama yang menyebut-nyebut kabar ini.

Namun, ada sisi positif dari perkembangan ini. Pemuda Amerika kini punya jejaring sosial yang luas, termasuk para penganut agama lain, dan dengan ini muncullah sikap yang lebih positif terhadap agama lain. Ini merupakan peluang besar untuk membentuk kembali pemahaman masyarakat kita tentang Islam. Alih-alih mencoba melawan pandangan-pandangan yang secara kuat dianut – yang seperti saya kemukakan di awal sangat sulit dilakukan – kita bisa melihat anak muda sebagai model, yang bisa mendekati agama pada umumnya, dan Islam khususnya, dengan tidak banyak bias dan lebih banyak sikap terbuka.

Saat saya memikirkan apa yang akan dilakukan sepuluh tahun mendatang dalam upaya pendekatan kita dengan Islam, saya pikir jawabannya sangat tergantung pada dari mana anak-anak muda mendapatkan informasi. Jangan salah, seseorang akan mengajari mereka.

Ini seharusnya menjadi sebuah seruan untuk beraksi demi memastikan bahwa mereka punya akses informasi yang berdasarkan realitas. Dan dalam melakukan itu, kita akan perlu memikirkan kembali bagaimana kita memberi tahu orang tentang Islam. Anak muda kita terpapar dengan berbagai komponen Islam yang berlainan dan tidak akan langsung menerima generalisasi luas semata ataupun pesan pokok semata bahwa Islam adalah agama damai – mohon tidak menganggap saya sedang menentang ini sebagai cita-cita Islam.

Pemuda ingin tahu bagaimana menyesuaikan unsur-unsur seperti Islam dan kesetaraan jender, Islam politik, dan penolakan pemahaman militan, ke dalam pemahaman yang lebih koheren dan lengkap tentang Islam. Peluang untuk mendidik pemuda diiringi tugas untuk menemukan cara untuk memberi pemahaman yang lebih warna-warni tentang Islam tanpa membuatnya terlalu menakutkan.

Para pemuda kita siap.

Pertanyaannya, apakah kita siap?

###

* Michael S. Bos ialah Pendeta Senior di Gereja West End Collegiate, New York City, dan mengajar Islam di Collegiate School. Dulunya Bos adalah Direktur Al-Amana Centre, sebuah pusat studi hubungan Muslim-Kristen di Kesultanan Oman.

Artikel ini kerjasama HMINEWS dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).