HMINEWS.COM

 Breaking News

Memahami 11 September

September 11
08:29 2011

Oleh: Pangeran El Hassan bin Talal

Amman, Yordania – Dalam sepuluh tahun terakhir, telah banyak yang ditulis untuk memahami apa yang terjadi pada 11 September 2001. Ini hal yang sulit. Menelaah kejahatan tidaklah mudah. Buat akal sehat, teror itu tidak masuk akal. Yang jelas, bagi jutaan orang Amerika dan dunia, kejadian hari itu tidak saja menjadi kenangan, tetapi terus menjadi sesuatu yang melekat dalam diri mereka hingga akhir hayat.

Dasawarsa terakhir bukanlah dasawarsa yang membahagiakan – bukan pula dasawarsanya “Amerika”. Kemerosotan ekonomi, kemandegan sosial, depresi kultural dan seni, dan hilangnya kesempatan bagi rakyat biasa, semuanya memberi andil pada masa depan yang tampak tidak lagi dipenuhi kemungkinan. Optimisme telah menjauhi kita. Faktornya banyak dan alasannya kompleks – tetapi karena tumbuh besar di sebuah kawasan yang penuh gejolak, saya hanya bisa meyakini bahwa hingga tingkat tertentu, situasi ini adalah akibat apa yang disebut “perang melawan teror” – perang yang tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Sudahkah perjuangan melawan orang-orang yang mencoba memonopoli kebenaran di pihak mana saja membuat Barat dan dunia Muslim semakin dekat?

Selama beberapa tahun terakhir, sering dirasa seolah-olah sikap saling salah mengerti bisa semakin memburuk. Minoritas Kristen di Timur Tengah menghadapi banyak kesulitan. Sementara di banyak negara Barat, komunitas Muslim telah dimarjinalkan untuk memuaskan ideologi-ideologi yang bersaing dan untuk membuat surat kabar laku.

Namun, sejak seorang pemimpin tidak bertanggung jawab lari dari Tunisia dan rezim yang berkuasa 30 tahun digulingkan dalam 30 hari di Mesir, ketakutan alamiah manusia terhadap “orang lain” dan “satu sama lain” itu tampaknya telah tergantikan oleh sesuatu yang lain. “Hantu” ekstremisme keagamaan – kendati benar-benar ada – tidak lagi memiliki gaung seperti sebelumnya.

Stereotipe-stereotipe yang telah sangat lama menggambarkan kawasan ini sebagai kawasan yang tidak tercerahkan kini bersaing dengan narasi-narasi harapan. Semakin sedikit orang Amerika yang tampak puas hanya dengan menghakimi Timur Tengah – mereka ingin memahaminya. Ini hal yang berani sekaligus tidak terduga. Dan inilah yang tidak diinginkan oleh al-Qaeda.

Faktanya adalah, meski orang Amerika dan orang Timur Tengah berjauhan, nasib mereka saling terkait. Mengatakan bahwa anak muda di Yordania, Tunisia, Mesir, Bahrain, atau Iran benci pada Amerika Serikat berarti menyederhanakan suatu hubungan yang kompleks. Anak-anak muda di Yordania dan seluruh Timur Tengah memperhatikan situasi di Palestina.

Mereka telah biasa kecewa, dan bisa diandalkan untuk tidak henti-hentinya menunjukkan setiap ketaksesuaian antara kata dan perbuatan. tetapi perasaan semacam itu sering pula bercampur dengan kekaguman – pada film-film dan budaya Amerika, pada ide-ide seperti kebebasan dan individualitas, pada oportunitas dan meritokrasi. Ini boleh jadi tidak wajar tetapi nyata. “Hak untuk meraih kebahagiaan” adalah sebuah resep yang diinginkan dan dimengerti oleh orang di mana pun. tetapi itu tidak mudah diwujudkan.

Di Timur Tengah, rakyat-biasa tengah membayar mahal demi hak untuk memiliki hak. Aksi protes jalanan di dunia Arab telah dibenturkan dengan aparat keamanan negara modern. Hasilnya sering kali adalah represi, kekerasan, intimidasi dan kebrutalan besar-besaran.

Pada saat yang sama, ke mana pun Anda melihat, mayoritas yang dulu dibungkam tengah menginginkan hal yang kira-kira sama: martabat, kendali atas nasib mereka sendiri dan akses pada kesempatan. Berbagai pergolakan telah berlangsung merata, dan akan berakhir merata. Namun, pergolakan ini juga akan bersifat revolusioner sekaligus evolusioner karena menyertakan dua pesan pokok.

Yang pertama, Timur Tengah bisa berbeda. Yang kedua, Timur Tengah sedang berubah, dan berubah dengan cepat.

Seperti kita lihat di kawasan ini, berdamai dengan masa lalu serta mengatasinya tidaklah mudah. Serangan 11 September merupakan sebuah upaya yang terencana sekaligus pengecut untuk menciptakan jurang perpecahan peradaban yang menganga lebar. Proyek besar dan berliku ini telah sering tampak hendak berhasil. Kita tidak boleh membiarkan itu terjadi.

Penerimaan terhadap perbedaan, yang juga berarti keterbebasan dari rasa takut, tentulah hal yang paling ditakuti oleh setiap teroris. Alih-alih berjuang untuk melawan “teror”, kita semestinya berjuang untuk optimis dan memiliki harapan.

###

* Yang Mulia Pangeran El Hassan bin Talal ialah pendiri dan Ketua Arab Thought Forum (ATF) dan West-Asia North-Africa (WANA) Forum.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews)

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Facebook Kami

Dapatkan update berita kami

Terimakasih sudah berlangganan

Terjadi kesalahan.

About

Hminews.com adalah website media pergerakan anak muda masa kini. Kami mewartakan berita dan opini dari anak muda dari berbagi pergerakan mahasiswa. kirim artikel anda ke redaksi at hminews.com.