Oleh: Kara Hadge dan Marc Scheuer

Washington, DC/New York, New York – Satu dasawarsa setelah tragedi 11 September, sebuah jajak pendapat yang diadakan belum lama ini oleh Pew Global Attitudes Project menunjukkan bahwa 48 persen orang Amerika terus berpikir bahwa hubungan antara Muslim dan Barat tidaklah baik. Di negara-negara mayoritas Muslim, angkanya lebih tinggi lagi, menurut penelitian yang sama. Data ini mengungkapkan adanya ketakutan, persepsi keliru dan stereotipe di antara Muslim dan non-Muslim.

Menyangkut stereotipe dan mitos tentang Muslim, data dan informasi yang menyanggah persepsi keliru tersebut sudahlah ada. Masalahnya adalah data dan informasi tersebut tidak selalu menjangkau publik luas, khususnya di Barat.

Menimbang bahwa sebagian besar orang tidak membuka-buka penelitian ilmiah, tentulah penting untuk membuat informasi tentang Islam dan Muslim tersedia dalam bentuk yang bisa dengan mudah diakses oleh mereka.

Sebuah serial baru video klip dua menitan yang dinamai 100 Questions about Islam (100 Pertanyaan tentang Islam) bertujuan mengisi celah arus informasi ini dengan menggunakan salah satu perangkat media baru paling efektif, yakni video internet. Video-video ini memuat berbagai wawancara dengan para sarjana dan jurnalis yang meruntuhkan berbagai stereotipe tentang Muslim dengan menyoroti temuan-temuan penelitian opini publik mutakhir dan mengklarifikasi fakta-fakta tentang berbagai tema mulai dari syariat Islam hingga jilbab.

Serial video unik ini adalah buah kerja bareng antara proyek Our Shared Future British Council, sebuah program yang bertujuan memperbaiki percakapan publik tentang Muslim dan hubungan antarbudaya di Amerika Serikat dan Eropa, dan Aliansi Peradaban PBB serta School of Journalism, University of Missouri.

Di salah satu video, misalnya, Jen’nan Read – seorang Kristen Libya dan guru besar sosiologi di Duke University – mengungkapkan ciri penting komunitas Arab dan Muslim di Amerika Serikat yang berseberangan dengan persepsi umum. Ia mengatakan, “Meski benar bahwa sebagian besar orang Arab di seluruh dunia adalah Muslim, sebagian besar orang Arab di Amerika Serikat adalah Kristen – dan bukan orang yang pindah ke Kristen, melainkan orang-orang dari Kristen Ortodoks Timur.” Mengingat anggapan keliru yang umum seperti ini, tidaklah mengejutkan kalau banyak orang Amerika mengatakan bahwa mereka tidak punya kenalan Muslim.

Fakta lain yang jarang diketahui menyangkut komunitas Muslim di Amerika Serikat adalah betapa suksesnya mereka telah mengintegrasikan diri ke beragam bidang sebagai orang-orang yang ikut aktif dalam ekonomi dan sistem politik Amerika. Guru besar agama Georgetown University, John Esposito menyatakan, “Sebagian besar orang tidak benar-benar menyadari apa yang kita tahu sekarang dari data yang solid: bahwa Muslim secara ekonomi, pendidikan dan politik terintegrasi dengan Amerika,” dan menambahkan bahwa dalam hal tingkat capaian pendidikan, “Muslim adalah yang kedua setelah orang Yahudi dalam soal integrasi.”

Ada banyak wilayah lain di mana fakta dan opini publik berbeda. Dalam dunia politik, sebagian besar orang yang mengkhawatirkan pengaruh syariat Islam tidak tahu kalau tidak ada yang namanya gerakan menegakkan syariat Islam di Amerika Serikat, kata Esposito. Di tingkat yang lebih pribadi, Sarah Joseph, CEO dan redaktur pendiri majalah gaya hidup Emel, menegaskan bahwa orang-orang yang mempertanyakan jilbab serta busana penutup kepala dan tubuh lainnya lupa bahwa praktik ini juga ada dalam tradisi agama mereka sendiri. Misalnya, sebagian gereja Kristen tradisional masih mendorong perempuan menutup kepala selama kegiatan kebaktian.

Lalu, mengapa begitu penting kita memerangi berbagai miskonsepsi ini? Melody Moezzi, seorang pengacara dan penulis yang diwawancarai untuk serial 100 Questions ini, berpendapat bahwa segala diskriminasi terhadap minoritas membahayakan budaya imigran yang telah menjadi fondasi masyarakat Amerika: “Islamofobia mengancam saya sebagai orang Amerika, bukan sebagai Muslim Amerika … karena setiap kali minoritas didiskriminasi atau dibenci tanpa alasan yang benar, dan hukum dibuat untuk menyudutkan minoritas, hal itu melukai perasaan saya selaku orang Amerika.”

Terkadang cara terbaik untuk melawan miskonsepsi tentang suatu isu, tidak hanya isu Islam dan Muslim, adalah dengan memberi kesempatan bicara pada orang-orang yang bisa menjelaskan fakta-fakta sebenarnya. tetapi dialog tidak harus selalu digelar di situs atau di surat kabar. Seperti komentar Esposito, “Semakin kita pluralistik di ruang terbuka publik, dalam interaksi kita, dan dalam [lingkungan tetangga] kita … semakin saya berpikir kalau perubahan yang kita butuhkan – yakni meluasnya pandangan pluralistik kita – akan terjadi.”

Mari sadari bahwa menggali data tentang hubungan lintas masyarakat barulah titik awal: kita juga perlu melihat ke sekeliling kita dan menjalin hubungan kita sendiri.

###

* Kara Hadge ialah Kepala Bagian Media Digital di British Council Amerika dan ikut bekerja dalam program Our Shared Future (www.oursharedfuture.org). Marc Scheuer ialah Direktur Aliansi Peradaban PBB (www.unaoc.org). Anda bisa melihat 100 Questions about Islam di http://www.vimeo.com/groups/100questionsaboutislam.

Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).