Salah satu ciri globalisasi ialah eksistensi jejaring internet. Inovasi teknologi ini memudahkan komunikasi antar manusia. Jarak, ruang, dan waktu tak lagi menjadi penghalang. Terlepas dari ekses negatifnya, internet dapat meningkatkan kualitas hidup manusia modern.

Universitas berkaliber dunia seperti Harvard sudah meluncurkan program online. Bahkan 70% Perguruan Tinggi (PT) di Amerika dan Eropa memiliki program serupa. Sebenarnya, program online memberi harapan bagi negara dunia ketiga seperti Indonesia. Sehingga tidak ada lagi satu orang pun penduduk yang buta huruf.

Selain itu, program pendidikan jarak jauh menyediakan keuntungan bagi para praktisi pendidikan, masyarakat umum, maupun kaum profesional yang memiliki kesibukan padat. Sebab jadwal belajar online relatif  lebih fleksibel. Biayanya pun lebih murah ketimbang program pendidikan konvensional. Kualitas hasil e-learning pun tidak kalah dibanding pembelajaran via jalur formal

Oleh karena itulah, Yayasan One Earth Integral Education bekerja sama dengan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) mencanangkan program pembelajaran online pada Jumat (9/9/2011) di Ruang Yustisia UC, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bentuknya berupa pendidikan Online One Earth College of Higher Learning (www.oneearthcollege.com).

Pada awal kelahirannya e-learning yang digagas Anand Krishna ini membuka 3 fakultas:

1. Transcendental Approach to Comparative Religions/Interfaith Studies, yakni pengkajian terhadap kitab agama dan kepercayaan manusia. Sebagai wujud saling apresiasi terhadap perbedaaan yang ada. Sehingga para peserta dapat memahami esensi dari ajaran agama dan kepercayaan di dunia.

2. Spiritual Transpersonal Psychology, yakni penggalian jiwa manusia. Sebagai proses pencarian jati diri. Sehingga para peserta dapat melampaui ego pribadi dan berkerjasama dengan siapa saja demi kepentingan yang lebih mulia.

3. The Ancient History and Culture of The Indonesian Archipelago, yakni pembelajaran sejarah. Sebagai bentuk penghargaan terhadap leluhur kita. Dengan mempelajari dinamika peradaban terdahulu, para peserta dapat mengetahui kesalahan masa lampau dan memperbaikinya demi masa depan yang lebih cemerlang.

Dalam kesempatan ini, Ketua One Earth Integral Education Foundation, Wayan Suriastini mengatakan, “Kebutuhan penyebarluasan pendidikan integral. Pendidikan yang tidak hanya menyentuh aspek fisik dan intelek saja, tapi juga aspek mental, emosional, dan jiwa sangatlah mendesak.” Yayasan One Earth Integral Education merupakan “adik” dari One Earth School di Denpasar, Bali, yang berdiri pada 2008 silam.

Secara lebih mendalam, Dr.Sayoga dari Bali, selaku Direktur Eksekutif Yayasan Anand Ashram menandaskan, “E-learning ini merupakan kesinambungan upaya yang dilakukan Anand Ashram sejak 20 tahun silam, yakni dalam mewujudkan visi One Earth, One Sky, One Humankind (Satu Bumi, Satu Langit, Satu Umat Manusia).”

Seminar Spiritual Transpersonal Psikologi sekaligus Peluncuran Progmam Studi Online ini dimoderatori oleh Tunggul Setiawan. Menghadirkan 3 pembicara kunci, yakni Hendro Prabowo S.Psi, Dosen UGM, Dra. Nadiroh As Sariroh aktivis perempuan dan pluralisme, serta Anand Krishna, sebagai penggagas program.

Akademisi transpersonal psikologi Hendro Prabowo menyebutkan bahwa ada upaya-upaya agar hasil pendidikan menjadi buruk dan terpuruk seperti yang terjadi sekarang ini. Lebih dari itu, telah terjadi pula pembusukan. Sehingga pendidikan akan lebih mudah dijadikan sebagai lahan bisnis atau industrialisasi.

Dra. Nadiroh As Sariroh dari Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY) membagikan pengalamannya. Praktisi pendidikan di Sanggar Sekolah Alam ini berpendapat, “Keberagaman yang ada di Indonesia merupakan berkah. Seperti falsafah Bhineka Tunggal Ika, kebhinekaan kita diikat oleh kebersamaan. Kita perlu saling mengapresiasi agama yang berbeda sejak dari pendidikan anak-anak usia dini.” Nadiroh mendukung proses pembelajaran e-learning ini sebagai wujud kegiatan pendidikan partisipatif dua arah.

Anand Krishna menyampaikan bahwa akar masalah  edukasi saat ini adalah kapitalisme. Anak-anak dihadapkan lebih pada kompetisi untuk mengejar angka, namun tidak menyentuh pikiran dan rasa. Padahal sejatinya pendidikan dapat membuat orang lebih bertanggungjawab terhadap sesama dan orang lain, bukan semata mengejar sukses untuk dirinya sendiri.

Animo para peserta cukup tinggi. Beberapa orang yang walaupun telah lanjut usia tak mau ketinggalan mendaftar kelas online. Salah satunya, Susilowati, pensiunan dosen Fakultas Ekonomi UNS Solo, ia mengakui, “Program pendidikan lewat internet ini baik sekali, karena memfasilitasi kita mendalami nilai-nilai universal yang terkandung dalam setiap agama dan kepercayaan. Memang akhir dari proses pendidikan bukanlah selembar kertas ijasah, melainkan perubahan karakter. ” (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Fasilitator Bahasa Inggris di PKBM Angon Yogyakarta)