HMINEWS – Mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Syiah Kuala Banda Aceh menggelar Diskusi Film Perubahan Iklim, Selasa (13/9). Diskusi tersebut dilaksanakan atas kerjasama dengan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh.

“Walhi berterima kasih banyak terhadap sumbangsih Fakultas Teknik Unsyiah khususnya Jurusan Arsitektur, dengan adanya diskusi dan pemutaran film perubahan iklim ini,” ujar Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Aceh Muhammad Nizar ketika membuka acara diskusi tersebut. Pemutaran film dilakukan di laboratorium Perencanaan Kota, jurusan Arsitektur Unsyiah. Sekitar 50-an mahasiswa serta dosen ikut menghadiri acara ini.

Dia mencontohkan seperti yang tergambar dalam film perubahan iklim tersebut, misalnya adanya danau Aralsk mengering yang terjadi di Kazakhstan serta kesulitan untuk mendapatkan air seperti yang terjadi di Nairobi-Kenya. Juga masyarakat di Bangladesh yang harus berpindah-pindah rumah akibat banjir yang selalu menerjang pemukiman mereka serta naiknya permukaan air laut.

“Ancaman seperti itu bisa saja terjadi di Aceh, kalau kita tidak mengantisipasinya dari sekarang,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan, tidak cukup hanya dengan kampanye dan sosialisasi yang di lakukan ke masyarakat tapi juga harus ada bukti nyata atau aksi di lapangan. “Kita harus mulai dari hal-hal kecil untuk mencegah perubahan iklim itu,” himbau Muhammad Nizar.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Walhi Aceh, TM Zulfikar mengatakan, gaya hidup masyarakat saat ini juga berpengaruh besar terhadap perubahan iklim. “Kita belum terlalu ramah dengan lingkungan. Ibu-ibu juga membuang sampahnya masih sembarangan. Hal-hal kecil seperti itu juga mengganggu lingkungan,” katanya.

Pemanasan Global, lanjut TM Zulfikar, juga menjadi bagian dari kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini. Perubahan iklim terjadi tidak dengan sendirinya tapi akibat adanya campur tangan manusia seperti adanya perubahan kebijakan yang terkait dengan lingkungan. “Banda Aceh beberapa hari yang lalu juga mengalami kekurangan air. Ini fenomena yang harus kita waspadai,” sebut TM Zulfikar.

“Negara-negara maju merupakan salah satu penyumbang karbon dan energi terbesar. Kalau di tempat kita rumah yang memakai AC kan masih belum begitu dominan. Perubahan iklim juga bisa terjadi karena perubahan gaya hidup,” tandas dia.

TM Zulfikar berharap, dengan adanya acara diskusi seperti itu bisa memberikan pencerahan yang cukup baik tentang perubahan iklim dan kehidupan manusia secara keseluruhan. Dia menghimbau, Kalangan akademisi, mahasiswa dan pegiat lingkungan serta masyarakat harus bersinergi dan bersatu- padu dalam hal menjaga lingkungan agar terbebas dari perubahan iklim tersebut.[]