HMINEWS – Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, membuktikan ucapannya untuk ‘bernyanyi’ di hadapan Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sejumlah nama pun dia sebut sebagai makelar kasus.

Dalam keterangannya di hadapan Komite Etik, 8 September 2011, kata kuasa hukum Nazaruddin, Dea Tungga Esti, Nazaruddin menyebut keterlibatan petinggi Demokrat dalam sejumlah kasus.

Dea mengatakan, pada pertemuan Nazaruddin dengan Ade Raharja pada tahun 2009 di sebuah restauran Jepang di Apartemen Casablanca, Jakarta. Nazar bertemu dengan Johan Budi, Ade Rahardja dan Saan Mustofa.

“Pertemuan itu membicarakan mengenai Proyek Baju Hansip, e-KTP, Paket BOS, dan Wali Kota Bandung,” kata Dea dalam keterangannya, Senin (12/9/2011).

Perkara Wali Kota Bandung, Dada Rosada, kata Dea, adalah perkara yang dimakelari oleh Saan Mustofa.

Pertemuan dengan Saan yang lain terjadi kembali pada tahun 2009 di sebuah restoran Jepang di apartemen Casablanca atau beberapa bulan setelah pertemuan pertama. Pada pertemuan itu, tak hanya Saan, pertemuan juga dihadiri oleh Benny K Harman, Ade Rahardja, dan penyidik bernama Ronny Samtana, serta pengusaha berinisial A, beserta Ajudan Bupati Kutai Timur.

“Dalam pertemuan tersebut Pengusaha berinisial A menyerahkan sejumlah uang kepada Ronny Samtana atas perintah Ade Rahardja. Dalam pertemuan tersebut Ajudan Bupati Kutai Timur juga menyerahkan sejumlah uang kepada Ronny Samtana atas perintah Ade Rahardja,” kata Dea.[ian/oz]