HMINEWS – Minggu sore (18/9) agak mendung, beberapa mahasiswa datang mengendarai motor matic. Mereka tampak kikuk dan tersenyum-senyum sendiri. Barangkali yang terbersit di pikiran mereka, “Bener gak ya ini tempatnya?” Ternyata setelah diusut, mereka sempat tersesat, sebelum sampai di Perum Dayu Blok P.17, Yogyakarta. Memang mereka sudah ditunggu oleh panelis dan para peserta diskusi lainnya.

Selamat datang di kelanjutan World Class Citizen Series. Acara ini rutin diadakan setiap bulan. Pada episode kedua diskusi, One Earth Integral Education Foundation selaku penyelenggara mengulas sosok berinisial M.G. Diskusi sebelumnya mengangkat tokoh berinisial M.J – Michael Jackson.

Diskusi bertajuk “Gandhi dan Sumbangsihnya bagi Perdamaian” dibuka penjelasan Ketua Lembaga Studi Islam dan Politik (LSIP), M. Subkhi Ridho. Menurut Mas Ridho, sapaan akrabnya, Gandhi sebagai sosok Mahatma, tidak luput dari bibit, bebet, serta bobot-nya. Ia putra seorang pegawai pemerintahan di Gujarat, sehingga Gandhi memiliki potensi untuk menjadi seseorang yang “besar”.

Lantas, Ridho menyoroti sejarah kehidupan Gandhi sejak masa sekolahnya. Sewaktu ia masih di India hingga Gandhi menuntut ilmu ke Inggris dan hijrah ke Afrika. Ridho juga masih mengingat kenangan saat duduk di bangku sekolah. Tetapnya dalam pelajaran IPS, guru sejarahnya memberi pelajaran mengenai sosok Gandhi. Lengkap dengan prinsip-prinsip yang terkenal, yaitu Satyagraha, Ahimsa, Swadesi, dan Sarvodaya.

Ia juga menggarisbawahi, usia Gandhi saat menuntut ilmu di Inggris masih relatif muda. Walau jauh dari keluarga dan tanah kelahirannya, itu tidak membuat Gandhi muda terlena dan mengikuti pergaulan yang salah. “Di Inggris, Gandhi tetap bertahan dengan pola hidupnya yang vegetarian, tidak minum alkohol dan tidak terseret ke pergaulan bebas”, ujar alumnus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini.

“Namun begitu, meski Gandhi strict dengan tradisi, ia juga menyempatkan untuk belajar dansa selama di Inggris”, tambahnya. Bagi Ridho, apa yang dilakukan Gandhi selama di Inggris menjadi inti dari pluralisme. Dalam pluralisme, kita diajarkan untuk saling menghargai dan beradaptasi satu dengan lainnya. Nampak beda, namun kita tidak fokus pada perbedaan, kita lebih melihat kesamaan yang mempersatukan kita.

Hal positif lain yang Ridho kagumi dari Gandhi adalah kemampuan menjaga keseimbangan jiwa dan moralitasnya. “Di luar sana, seringkali kita jumpai orang-orang justru menyalahkan globalisasi sebagai biang dari keterpurukan kita sekarang.”

Menurut Ridho, justru seharusnya, daripada fokus ke masalah, lebih baik fokus pada, bagaimana dengan adanya globalisasi tadi, justru kita bisa bergerak pada isu perdamaian yang diterjemahkan pada karya nyata. “Salah satunya membuka lapangan pekerjaan,” ujar lulusan Pasca Sarjana, Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta tersebut.

Salah satu pendiri Aliansi Jogja untuk Indonesia Damai (AJI Damai) ini juga berpendapat, “Membuka lapangan pekerjaan berarti juga memberi keadilan distributif kepada seluruh rakyat untuk memperoleh penghidupan layak, dan jika semua rakyat sudah cukup akses pendidikan, terpenuhi akses kebutuhan dasarnya, maka takkan ada lagi pembunuhan, pembakaran dan aksi anarkis lainnya,”

Suara Mahasiswa

Giliran mahasiswa Hubungan Internasional UGM memberi tanggapan. Menurut Annisa, Mahasiswa HI angkatan 2010, ada salah satu mata kuliah mereka yang mengkaji sosok Gandhi. Prinsip ahimsa sangat ditekankan di sana. Sehingga Gandhi mampu menjadi inspirasi dan contoh nyata pergerakan tanpa kekerasan di dunia.

Selain itu, hampir senada dengan mas Ridho, Ndaru mahasiswa HI UGM angkatan 2009 tergelitik untuk mengetahui lebih anjut, “Kenapa seorang Gandhi mampu memiliki pemikiran yang sosialis?” Padahal Inggris salah satu tempat Gandhi menuntut ilmu adalah negara yang terkenal dengan paham kapitalisnya. Ndaru baru saja menjadi donor darah dalam aksi sosial di kampus, ia langsung meluncur ke tempat diskusi.

Beberapa peserta diskusi termasuk Ridho sepakat bahwa pengendalian diri dan kemampuan Gandhi menjaga keseimbangan jiwa menjadi resep utamanya. Itu merupakan bekal didikan dan tradisi dari tanah kelahirannya. “Kalau jaman sekarang justru mereka yang pernah menuntut ilmu di Amerika atau Inggris malah jadi ke-Inggris-inggrisan atau ke-Amerika-amerikaan, justru tidak demikian dengan Gandhi.”

Ridho mengaitkan pula kondisi tersebut dengan pluralisme. Ajaran pluralisme yang ada kini tidak bermaksud mencerabut kita dari akar budaya sendiri. Mereka yang jadi ke-Inggris-inggrisan atau ke-Amerika-amerikaan, adalah orang yang telah tercerabut dari akar budayanya sendiri. Gandhi memberi contoh bagaimana kita bisa persistence dengan tradisi atau nilai luhur yang ia peroleh dari tanah kelahirannya.

Kondisi tersebut juga tidak luput dari sistem pendidikan kita yang salah arah. Tidak terfasilitasinya pendidikan yang seharusnya integral, membangun seluruh aspek pikiran, mental/emosional, jiwa dan fisik anak, disunat hanya melulu berkenaan dengan perolehan angka dan intelek saja, menghasilkan generasi yang “pincang” dan mudah terombang ambing oleh keadaan.

Pendidikan yang integral, membangun seluruh aspek fisik, mental/emosional, jiwa dan pikiran, tidak mungkin tidak akan menghasilkan generasi yang berperikemanusiaan. Sehingga tidak ada lagi orang yang hanya melulu peduli dengan kemajuannya sendiri, dan mengabaikan kepentingan masyarakat, bangsa, negara, dunia, bahkan semesta.

Sebagai gong penutup, Rahma selaku Moderator memberi penjelasan bahwa apa yang kita kagumi dari sosok Gandhi, sesungguhnya bisa kita peroleh juga. Kita pun bisa menjadi “besar” seperti Gandhi asal kita mau mengasah potensi yang telah kita miliki.

Jalan pertama yang harus dilakukan adalah seperti slogan Gandhi yang terkenal “Be The Change You Want To See in This World”. Dan cara mengolah potensi itu, terangkum apik dalam: 10 Prinsip Ahimsa Gandhi yang dituangkan dalam buku “Be The Change” karya Anand Krishna.

Pak Anand penulis buku yang produktif. Ia kini juga menjadi Program Creator E-learning One Earth College, http://www.oneearthcollege.com/ tokoh humanis linta agama ini memiliki semangat dan tujuan yang sama seperti yang menjadi fokus Gandhi dalam membela kepentingan rakyat India. Bagaimana kita bisa belajar dari kesalahan yang lalu dan dengan penuh kesadaran berkarya nyata memperbaiki kesalahan tersebut menuju betterment of society, masyarakat yang lebih baik.

Selain buku “Be The Change”, bagi teman-teman yang ingin mendalami sosok Mahatma Gandhi secara lebih lanjut, disarankan untuk menonton film “Munabhai” dan “The Making of Gandhi.”

Masih ada sekuel lain dari World Class Citizen Discussion Series kita. Pada kesempatan selanjutnya, kita akan mengulas sosok Mahatma dari “rumah” kita sendiri, yakni Bung Karno. Sampai ketemu… (Reporter: Amira Fawzia, Fotografer: Wayan Suriastini, Editor: T. Nugroho)