HMINEWS.COM

 Breaking News

Refleksi Kependidikan Seorang Guru

September 26
10:38 2011

“Para siswa mengingat apa yang dilakukan oleh guru karena gurulah yang menjadi saksi hidup dengan keteladanan yang diberikan.” – Hans Kolvenbach

St. Kartono terhenyak saat menghadiri pemberkatan pengantin di gereja. Sebait doa dari kedua mempelai ialah untuk para gurunya. Barangkali mereka menyimpan kenangan indah selama belajar. Sampai-sampai dalam sakramen pernikahan jasa sang guru dimuliakan. Bagi semua guru yang pernah mendidiknya, mereka berdua mengucapkan terima kasih. Sebab telah menghantar kedunya memasuki kehidupan berkeluarga.

Ayah 2 putri tersebut memaknai ucapan terima kasih sebagai penanda relasi saling menghargai. Pun menjadi ungkapan hormat. Kolomnis pendidikan yang mengkorankan 400 artikel lebih di media massa tersebut mengulasnya dalam subbab, “Membiasakan berterima kasih” dalam buku Menjadi Guru untuk Muridku.

Dinamika di dalam kelas menjadi sumber inspirasi dosen bahasa Indonesia dan jurnalistik di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Misal ketika membagikan kertas ujian, pekerjaan rumah (PR), atau masuk kelas setelah meminta ijin ke toilet, ia selalu menunggu ucapan terima kasih meluncur dari bibir murid/mahasiswanya.

Jangan harap menerima kertas ujian, hasil PR, ataupun dapat masuk ke kelas jika abai mengucapkan mantra: terima kasih. Sebaliknya, penulis buku Menabur Benih Keteladanan (2001) ini mengapresiasi setiap murid/mahasiswa yang selesai menjawab atau mengungkapkan jawaban lisan. Terutama pembelajaran dalam forum yang bersifat diskusif.

Intinya, ia berupaya menjadikan setiap kesempatan sebagai sarana mengingatkan para murid betapa penting rasa syukur. Dalam dunia kesehatan, penyakit yag paling berbahaya di masa datang bukanlah jantung atau kanker, tetapi depresi dan stres. Suatu penyakit yang muncul dalam diri pribadi yang tidak bisa berterima kasih.

Kendati demikian, menurutnya, mengucapkan terimakasih mesti dari hati. Bukan sekedar lips service alias baik di bibir saja. Kita pun musti berani berterimakasih kepada orang yang menegur dan menunjukkan kesalahan kita. Ia mengisahkan kesaksian seorang mantan siswa, “Bahkan sampai sekarang ketika sudah bekerja, setiap kali makan pasti saya habiskan…” (halaman 23).

Sang alumni mengenang pengalaman saat mengikuti masa orientasi siswa (MOS) baru di SMA dulu. Terngiang bentakan keras gurunya mengingatkan bahwa setiap bulir nasi yang disediakan sekolah bagi seluruh siswa, merupakan makanan yang dibiayai oleh  orang tua mereka. Padahal uang itu diperoleh dari tetesan keringat dan kerja keras ayah-ibunya.  Menyia-nyiakan makanan sama saja  tidak menghargai orang tua.

Tapi secara khusus bagi siswa kelas menengah, para guru wajib menjelaskan signifikasi ungkapan terimakasih. Agar menuntun murid sampai pada pemahaman bahwa nilai-nilai yang menyertai ucapan syukur itu masuk akal.

Ia mengutip pendapat Anand Krishna. Terima dan kasih sinonim dengan menerima dan memberi. Berbeda dengan orang Inggris yang membalas ucapan terimakasih dengan “your welcome atau never mind”, orang Indonesia lazimnya membalas ucapan terima kasih dengan kembali kasih, terima kasih juga, sama-sama, atau sami-sami (halaman 209).

Referensi

Membaca buku ini ibarat sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui. Sidang pembaca belajar banyak hal. Fakta ini membuktikan keluasan bacaan St. Kartono. Ia menjadikan buku-buku pendidikan dan penelitian ilmiah sebagai referensi teoritis serta pijakan refleksi.

Dari Reflection for Newlyweds (2005) karya Abraham Maslow; Effective Teaching (1996) karya Richard Dunne; penelitian Carl Glikman (1991) seputar sesat pikir pengelompokan siswa berdasar kemampuan akademis semata; teori mutakhir Stephen R. Covey ihwal Habits (kebiasaan-kebiasaan) yang terbentuk dari pertemuan 3 irisan: kemauan, pengetahuan, dan ketrampilan;  serta kunci rahasia sukses John Mc Grath (2006) yang menegaskan rasa tertekan tak perlu dipamerkan, heroisme justru merupakan  kemampuan menangani banyak hal dalam kehidupan tanpa merasa tertekan, dan masih banyak sumber lainnya.

Khusus terkait standar profesionalitas, St Kartono bersepakat dengan Victoria (1999). Seorang guru mensyaratkan 5 aspek penting: 1) tanggung jawab: menunjukkan nilai-nilai tingkah laku yang sesuai dengan praktik pembelajaran yang ideal, secara kritis mengevaluasi praktik mengajar pribadi untuk peningkatan yang terus berkembang; (2) isi pembelajaran: pemahaman akan kurikulum, pengetahuan struktur kurikulum sekolah yang mencakup perencanaan, implementasi, dan evaluasi; 3) praktik pembelajaran: memotivasi dan melibatkan siswa dalam proses belajar selama menggunakan gaya, strategi, serta teknik pembelajaran yang sesuai dengan konteks pembelajaran; 4) penilaian dan laporan proses belajar siswa: memberikan umpan balik yang terus-menerus kepada performa siswa sedemikian rupa sehingga terbangun kepercayaan; 5) hubungan dengan sekolah dan komunitas yang lebih luas: bekerja dalam hubungan pertemanan yang terbuka, saling mendukung serta produktif.

Selain itu, penulis buku ini menyerap pula inspirasi dari tontonan publik. Pidato kematian (obituari) putri  almarhum Michael Jackson diulasnya dalam subbab ke-2, “Aku hanya ingin bilang, guruku…” Kesaksian Katherine Jackson (11 tahun) di depan peti mati mega bintang pop sejagat itu memang mengharukan, “Sejak aku lahir, Daddy adalah ayah terbaik yang tidak pernah bisa kalian bayangkan. Aku hanya ingin bilang, aku mencintainya…amat sangat!”

Dalam konteks ini, secara kreatif Kartono mengajak para guru untuk membayangkan apa yang akan diucapkan para siswa ketika gurunya meninggal. Akibatnya, para guru berusaha sekuat hati menyampaikan proses pembelajaran – bukan sebagai formalitas transaksional belaka – tapi sebagai persembahan terbaik bagi para murid. Niscaya, dengan takzim setiap muridnya kelak akan menyitir kalimat putri MJ, “Saya hanya ingin bilang, guruku adalah orang yang terbaik yang kujumpai dalam hidupku!”

Tak berhenti sampai di situ,  ia menjadikan facebook sebagai sumber inspirasi menulis juga. Pada berada FB seorang guru menulis: “Masih pagi sekali, seorang murid menghampiri mejaku di kelas minta tanda tangan untuk buku yang baru dibelinya di toko buku. Dia telah membaca satu bab dari tiga bab. Tidak ada kata lain, aku terharu! Betapa malaikat kecil pagi ini datang dalam wujud muridku yang antusias. Dan, setiap murid dipercayakan padaku adalah malaikat…” Sebagai catatan kecil, buku itu ialah karya guru itu sendiri.

Tanggapan beruntun diterima dari sharing tersebut. Salah satu diantaranya: “Andai semua guru menganggap bahwa muridnya adalah “malaikat” kecil, alangkah cerahnya masa depan anak-anak kita. Kenyataannya tidak sedikit guru yang menganggap murid sebagai objek yang harus nurut dan tunduk dengan kata guru.” Anak-anak kita dianggap sebagai pasar alias relasi jual-beli yang terjadi di sekolah. Ironisnya lagi, murid cenderung dijadikan sebagai objek. Entah itu sasaran, kemarahan, kekesalan, kedongkolan, maupun pelampiasan karut-marut permasalahan pribadinya di rumah.

Tips Menulis

Buku ini dipilah menjadi 3 bagian. Pertama: Membangun Mimpi Menjadi Guru. Kedua:  Menghidupi Nilai, Mengasah Keterampilan Mendidik. Ketiga: Perjumpaan dengan Murid. Setiap bab memuat sejumlah refleksi keguruan Kartono. Buah pena ke-7nya ini terlahir setelah beberapa karya tulis. Antara lain Menebus Pendidikan Yang Tergadai (2002), Reformasi Pendidikan (2003, dkk), Seri Pendidikan Budi Pekerti (2003-2004, dkk), Sekolah Bukan Pasar (Juni, 2009), dan Menulis Tanpa Rasa Takut (Juli, 2009).

Tips sederhana agar dapat menulis dengan lancar dibagikan juga lewat buku ini. Tatkala melawat di pesisir utara tengkuk kepala burung bumi Papua tersebut, St. Kartono pernah ditanya oleh seorang murid bernama Paul, “Pak guru, saya sudah mencoba menulis, tetapi sering tersendat atau berhenti, bagaimana usaha mengatasi itu?” Paul berasal dari daerah pedalaman, desanya berjarak 7 hari jalan kaki dari asrama sekolah.

Lantas, Pak Guru menjawab, “Paul, menulis tersendat itu karena bahan di kepala kita habis. Bisa juga pikiran tidak mampu mengaitkan masalah yang kita bahas dengan lentur.” Senada dengan pendapat Romo Baker, baginya menulis ibarat membongkar tabungan berupa bacaan di kepala. Entah kepala kita itu ditumbuhi rambut keriting seperti Paul, atau lurus seperti rambut teman sebelah yang bukan asli Papua. Semuanya harus diisi dengan bekal bacaan. Bahkan seorang ahli lain mengatakan bahwa menulis ialah saudara kembar membaca.

Ghalibnya, kebuntuan proses menulis itu tak hanya dialami oleh para siswa di Nabire, Papua. Tapi juga dirasakan oleh sejumlah guru di daerah Kulon Progo, Yogyakarta. Salah seorang peserta pelatihan menulis yang diampu Kartono bertanya, “Pak, bagaimana mengatasi kemacetan ketika menulis? Tapi jangan disarankan agar saya membaca lho!”

Sang guru yang notabene seprofesi dengan Kartono tahu bahwa membaca adalah cara jitu menemukan ide. Bedanya, Paul dan anak-anak sebaya di Papua musti membaca dan menulis pada malam hari diterangi lampu darurat. Di sana listrik acapkali mati. Sedangkan, oglangan alias mati lampu jarang terjadi di Jawa. Sungguh ironis, pasca 66 tahun RI merdeka, data terakhir Greenpeace menyatakan bahwa 35 % penduduk (80 juta) di Indonesia belum menikmati fasilitas penerangan listrik secara memadai.

Menghargai Proses

Lebih lanjut, buku ini menyajikan pula inspirasi bagi para murid dan juga orang tua untuk belajar dan bekerja lebih keras. Ia menyarikan buku Outliers, The Story of Success (Malcolm Gladwell, 2009). Mengisahkan perjuangan band  legendaris The Beatles. Sebelum meroket pada 1964, John Lenon (gitar ritem, vokal), Paul McCartney (gitar bass, vokal), George Harrison (gitar utama, vokal), dan Ringo Starr (drum, vokal) biasa bermain di sebuah klub malam minimal 8 jam setiap malam.

Selama 270 malam diperkirakan mereka telah naik panggung sebanyak 1.200 kali. Pengalaman ini ibarat blessing in disguise, berkah terselubung. Band asal Liverpool Inggris itu terbiasa bermain tak kurang dari 8 jam per malam. Mereka pun harus mempelajari  banyak lagu, termasuk lagu-lagu dari band lain. Bukan hanya rock and roll, tapi juga sedikit jazz. Pengalaman ini membuat mereka semakin disiplin dan kompak. John Lenon sendiri mengakui, “Kami menjadi lebih baik dan memiliki rasa percaya diri yang lebih besar. Di Hamburg kami harus bermain selama 8 jam lamanya, jadi kami benar-benar harus menemukan cara baru untuk memainkan musik kami.”

Pengalaman The Beatles dapat menjadi pembelajaran dalam dunia pendidikan kita. Terutama untuk membongkar cara berpikir generalis dan serba instan para pejabat Depdiknas. Alih-alih membuat soal pilihan ganda semacam UN (Ujian Nasional) melulu, St. Kartono membagikan pengalamannya di sini, “Proses pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa untuk berburu pengetahuan lebih luas biasanya menyajikan ujian yang mengharuskan siswa memberikan uraian sekaligus pemaparan pikiran. Betapa sebagai pendidik ia merasa takjub tatkala membaca paparan siswa melebihi dari yang telah disajikan di kelas.

Sayangnya, karena buku ini merupakan antologi esai, saat membacanya terasa tanggung. Ibarat celana panjang yang dipotong menjadi ¾ bagian. Kartono terlalu cepat menuntaskan satu subbab dalam setiap refleksi. Namun hal itu dapat dimaklumi, mengingat ke-70 esai pendek tersebut sebelumnya diperuntukkan bagi harian lokal (Juni 2008-April 2011). Redaktur tentu mempertimbangkan jumlah karakter agar sesuai dengan besaran kolom di koran tersebut.

Buku ini menyiratkan kebanggaan dan rasa syukur. Karena berhasil menjalani ziarah keguruan selama 20 tahun terakhir. St. Kartono mengakui segala prestasi yang diraih bukan melulu berkat usahanya sendiri. Tetapi ada peran dan campur tangan pihak lain, entah itu manusia atau Hyang Membuat Hidup. Guru SMA Kolese De Britto, Yogyakarta tersebut menandaskan, “Bunga rampai ini didedikasikan bagi ribuan rekan guru nan heroik dan para mahasiswa calon guru, yang meyakini bahwa aktor  perubahan pendidikan di negeri ini hanya guru. Tentu saja setelah guru itu berubah.” (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru Bahasa Inggris di PKBM Angon, Yogyakarta)

Judul: Menjadi Guru Untuk Muridku
Penulis: St. Kartono
Penerbit: Kanisius
Cetakan: I/April 2011
Tebal: 271 halaman
Harga: Rp 35.000
ISBN: 978-979-21-3018-8

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.