HMINEWS.COM

 Breaking News

Sri Mulyani dan Masa Depan Indonesia

August 21
04:50 2011

HMINEWS – Baru diusung partai yang bahkan masih harus berjuang untuk lolos verifikasi sebagai syarat mengikuti Pemilu 2014, yakni Serikat Rakyat Independen (SRI), Sri Mulyani Indrawati (SMI), mantan Menteri Keuangan (Menkeu) yang sekarang menjadi Managing Director di World Bank, sudah diganjal dan menuai kontroversi dari banyak pihak. Para pengganjal itu pada umumnya menuding SMI sebagai antek asing, serta orang yang masih terpaut kasus Bank Century.

Nalar Jernih

Dari berbagai pernyataan di media, atau tulisan-tulisan yang pada intinya berupaya mengganjal dan menyudutkan SMI, terlihat nada kecurigaan yang sangat berlebihan. Tulisan Bambang Soesatyo (BS), anggota DPR sekaligus wakil bendahara umum Partai Golkar, misalnya, di sebuah harian nasional bahkan tegas meminta SMI sebaiknya mundur pelan-pelan serta mencurigai dan menudingnya akan menggadaikan negara kepada asing. Sebagai orang Golkar, ini bisa dimaklumi. Kita ingat, saat ramainya kasus Century dipersoalkan Pansus DPR, terjadi ‘perang’ antara SMI dengan Aburizal Bakrie karena tiga perusahaan di bawah payung bisnis Grup Bakrie, yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Bumi Resources Tbk, dan PT Aruitmin Indonesia, menunggak pajak hingga Rp2 triliun.

Jadi, tudingan BS lebih terlihat sebagai serangan politis sporadis ekstrem membabi-buta, persis seperti dilakukan para politisi Golkar yang menggalang kekuatan di parlemen untuk menurunkan Presiden Gus Dur dari jabatan presiden di tengah jalan. Tudingan yang tentu saja masih sebatas ‘kemungkinan’, karena sama sekali tidak pernah dapat dibuktikan apakah SMI akan menggadaikan negara kepada asing. Ini budaya politik yang tentu saja buruk dan tidak mendidik bangsa. Bisa-bisa berujung pada fitnah dan pembunuhan karakter yang luar biasa jahat. Mestinya, yang diserang BS adalah pemikiran SMI tentang ekonomi Indonesia dan prospek ke depannya, sehingga terjadi debat pemikiran, bukan hal-hal lain di luar ini, apalagi hanya tudingan-tudingan yang mengawang.

Naluri politisi—lebih tepatnya: nafsu politik—memang terkadang bisa mengalahkan pikiran jernih dan sehat. Apalagi, ketika figur baru yang muncul itu dianggap sebagai ancaman bagi kepentingan tertentu, dalam hal ini kepentingan politik. Biasanya, figur yang terlalu banyak diserang secara politis dengan berbagai tudingan adalah figur yang sangat potensial dan ‘membahayakan’ kepentingan penyerang. SMI bukan seorang politisi, tapi seorang intelektual-ekonom jenius yang bahkan oleh majalah Forbes dinobatkan sebagai wanita ke-23 di dunia yang paling berpengaruh pada 2008, dan oleh majalah Globe Asia dinobatkan sebagai wanita ke-2 paling berpengaruh di Indonesia pada 2007. Di World Bank sendiri, dialah wanita pertama Indonesia yang menduduki jabatan prestisius, yakni bertanggung jawab atas operasional ekonomi di tiga kawasan: Amerika Latin dan Karibia; Timur Tengah dan Afrika Utara; serta Asia Timur dan Pasifik.

Terkait dengan ganjalan keterlibatan SMI dalam soal bail-out Bank Century senilai Rp6,7 triliun, tidak ada keputusan hukum apa pun dari pengadilan maupun KPK terhadap SMI bahwa ia bersalah dan melakukan tindakan kriminal. Jadi, secara hukum, dia tidak bermasalah dan tidak bersalah. Yang menjadi masalah adalah ketika semua itu kemudian digoreng lagi dan digunakan oleh orang-orang yang nalurinya adalah politik sehingga nalar jernihnya hilang untuk mendiskreditkannya. Publik harus bersikap waspada serangan-serangan politik semacam itu, karena berisi tuduhan-tuduhan ataupun tudingan-tudingan yang tidak berdasar kenyataan.

SMI dan Harapan

Diusungnya SMI sebagai calon presiden 2014 oleh SRI menjadi kabar menggembirakan bagi kita. Akhirnya, kita disuguhi calon pemimpin dari kalangan intelektual, bukan dari politisi praktis ataupun pengusaha. Memori kita kemudian melayang sewaktu kita juga dipimpin oleh kalangan intelektual seperti Presiden Gus Dur, Habibie, dan Sukarno. Sukarno bahkan menjadi sosok yang cukup lengkap, karena selain seorang intelektual dan salah satu pendiri bangsa yang sangat penting, ia juga seorang politisi. Kita ingat bagaimana dengan perpaduan intelektual dan kemampuan politiknya, selain kharismanya tentu saja, ia berani mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang membubarkan parlemen dan menyatakan kembali kepada UUD 1945 yang awal.

SMI membawa angin harapan yang cukup dengan kemampuan intelektual dan manajerialnya di World Bank saat ini yang membawahi banyak negara di dunia. Ini pengalaman dan modal yang sangat berharga untuk bisa memosisikan Indonesia ke depan di kancah internasional tanpa mengorbankan kepentingan negara kepada pihak asing. SMI bukan orang bodoh atau orang yang mudah disetir kepentingan politik, apalagi itu politik asing. Indonesia di masa depan akan berada dalam kancah globalisasi perdagangan atau pasar bebas yang sangat ketat, karena harus bersaing dengan negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik. SMI memiliki kemampuan membaca itu dan bagaimana menangani Indonesia dengan keberadaannya sekarang di World Bank.

Kehadiran SMI di bursa calon presiden 2014 dalam konteks ini menjadi istimewa. Selain itu, publik diberi pilihan lebih banyak calon dengan latar belakang yang berbeda-beda. Tidak melulu berlatar belakang politisi murni (praktis), militer, atau pengusaha. Mungkin juga nanti akan bermunculan dari latar belakang budayawan, seniman, ilmuwan, dan seterusnya. Sudah saatnya para politisi berpikir ke depan, untuk Indonesia saat ini dan nanti, di kancah ekonomi politik global, dengan mendorong lebih banyak lagi calon-calon presiden yang berkualitas, baik itu secara intelektual maupun manajerial pengelolaan negara yang itu dapat dilihat dari track-record atau pengalaman dan kemampuannya yang sudah terbukti. Jika belum apa-apa sudah dituding macam-macam, kita khawatir stigma negatif justru akan disematkan pada para politisi kita: anti pemimpin yang intelek dan jenius!

Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta, tinggal di Depok

Artikel ini juga dimuat di okezone.com

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.