HMINEWS.COM

 Breaking News

Pelajar Timur Tengah belajar bahwa sejarah bisa mempersatukan

August 20
12:20 2011
   
 
Amman – Setelah bergabung dengan para pelajar sekolah menengah atas dari Yordania dan Malta yang belajar tentang pentingnya memelihara warisan budaya bagi generasi mendatang, saya pun sadar bahwa walaupun narasi-narasi sejarah sering memperparah konflik, sejarah dalam artian umumnya juga bisa mempersatukan orang.Para pelajar itu adalah peserta program ELIACH (Educational Linkage Approach in Cultural Heritage) dari Euromed Heritage 4 Uni Eropa, sebuah program yang terbilang baru yang selama setahun terakhir menghimpun para remaja dari beberapa negara Mediteranea guna menanamkan rasa cinta universal terhadap situs-situs bersejarah – terlepas di mana situs itu kebetulan berada.Pertemuan pelajar Yordania dan Malta itu terjadi bulan lalu di Yordania. Para pelajar itu belajar teknik-teknik pemeliharaan dan pelestarian dari para konservasionis, arkeolog, arsitek sejarah dan pakar terkemuka di kawasan Mediteranea lainnya.

Program ini adalah ide dari Profesor Dr. Anna Lobovikov-Katz, peneliti dan dosen senior di Technion – Israel Institute of Technology. Saya diutus untuk mengamati dan menulis tentang tujuan-tujuan program ini.

Namun, di tengah konflik Arab-Israel yang masih terjadi, dan sadar akan tumbuhnya gerakan anti-normalisasi di Yordania, para penyelenggara pun khawatir kalau mereka menyebutkan adanya keterlibatan Israel, itu akan berdampak buruk bagi program ini dan mengecilkan tujuan besarnya menyatukan orang-orang untuk melindungi situs-situs warisan budaya agar bisa dinikmati generasi mendatang.

Tentu karena orang-orang Israel memimpin program ini, tidak lama informasi ini pun sampai ke para pelajar itu. tetapi sungguh mengejutkan, kehadiran orang Israel tidak tampak menghalangi keberhasilan lokakarya ini.

Di akhir lokakarya empat hari itu, saya benar-benar terkesan dengan tanggapan para remaja 15-16 tahunan ini, yang dengan cepat memahami konsep bahwa cinta sejarah bisa dengan mudah melintasi batas-batas wilayah untuk menyatukan orang-orang, terlepas dari adanya ketegangan di tingkat politik.

“Ketika para peserta [dari Yordania] pertama kali tahu kalau orang-orang Israel terlibat, mereka tidak mengerti mengapa mereka harus berada di sini,” kata seorang fasilitator dari Yordania kepada saya di perjalanan. “Saya menerangkan kepada mereka bahwa warisan budaya bukanlah sebuah isu politik dan sama pentingnya bagi semua orang.”

“Tujuannya adalah menumbuhkan rasa sama-sama memiliki di kalangan pelajar sehingga mereka akan lebih merasa bertanggung jawab untuk merawat sejarah dan budaya di sekitar mereka,” jelas Christophe Graz, yang ditugasi Uni Eropa untuk mengawasi perkembangan dan implementasi program tersebut.

Namun, ia mengakui bahwa tidaklah mudah untuk menghimpun semua negara dalam program ini karena isu keikutsertaan Israel bagi sebagian negara sangatlah sensitif secara politik. Namun, akhirnya, semua yang terlibat sadar bahwa perhatian pada pemeliharaan sejarah haruslah melampaui batas-batas negara dan konflik.

“Program ini menawarkan sebuah kesempatan unik untuk mendorong dialog antarbudaya internasional di antara para peserta program dalam bidang perlindungan warisan budaya,” tegas Lobovikov-Katz, yang dalam program ini bermitra dengan tim pakar luar biasa dari berbagai universitas di Athena, Antwerp, Venicia dan Malta.

Saat bercakap-cakap dengan para pelajar, khususnya yang dari Yordania, saya sadar betapa cepatnya konsep ini bisa menjadi kenyataan jika anak-anak muda belajar mengapresiasi sejarah demi sejarah, dan tidak diajari bahwa itu hanya demi memperkuat narasi sejarah negara mereka sendiri.

Salah seorang pelajar dari Malta, Martina Bugelli, 17 tahun, dengan ekspresif mengungkapkan: “Sejarah bukan milik negara tertentu; sejarah adalah warisan dunia dan saya pikir setiap orang memang seharusnya belajar bagaimana generasi dulu hidup.”

Bugelli, yang juga mengunjungi situs sejarah paling terkenal di Yordania, Petra, kota Nabatea berusia 2.000 tahun, menambahkan: “Ini sebuah tetenger unik dan tidak tergantikan milik kita semua, seluruh manusia, dan kita harus mencoba merawat dan melindunginya selama yang kita bisa.”

###

* Ruth Eglash ialah wartawan senior The Jerusalem Post. Tahun lalu ia menjadi penerima pertama anugerah X-Cultural Reporting dari PBB untuk sebuah cerita yang ia tulis bersama seorang jurnalis Yordania.

Artikel ini kerja sama HMINEWS dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.