HMINEWS, Palu – Kasus Penembakan Aparat Kepolisian terhadap masyarakat sipil di Pulau Tiaka, Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Senin 22/08) sampai saat ini bertambah menjadi 2 orang. Sementara korban luka yang dirawat di Rumah Sakit Umum Luwuk sebanyak 6 orang. Dan 23 orang ditangkap akibat kerusakan dan sudah dibawa ke kantor Polda sebagai tersangka.

Dari 2 orang korban tewas tersebut adalah Yurifin (19) dan Marten Datu Adam alias Ateng (35), keduanya adalah mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang sedang melakukan aktivitas akademisnya yakni KKN di Morowali. Sementara korban luka adalah Andri M. Sondang(35) sebagai Korlap terluka tembak dibahu kanan, Taslim(28) tertembak dilengan kanan, fahrudin(15) tertembak dikaki kanan, Zein(31), Alun(23) tertembak di Paha kanan,  dan Khalik(20) tertembak dibetis kiri. Sementara dari 23 orang yang dijadikan tersangka, ada 4 orang yang tertembak dan sementara dirawat di RSU Bhayangkara Palu.

Situasi di Pulau Tiaka sampai saat ini masih mencekam. Pangkalan TNI AL Palu membantu Kepolisian memback-up pengamanan dengan menggeser KRI Hiu ke sekitar perairan Morowali. KRI Hiu yang berawak 70 personil sudah melakukan pengamanan disekitar perairan TKP.

Sementara situasi di Kecamatan Mamosalato dan Bungku Utara juga mencekam pasca kejadian penembakan. Salah satu korban, Andri M Sondang memastikan rakyat akan terus melakukan perlawanan hingga aktivitas (Joint Operating Body /JOB) Pertamina-Medco E&P berhenti.

“Kami akan terus melawan  dan menghentikan segala aktivitas tambang PT.MEDCO ini. Bila perlu kami akan bergerilya. Kami sudah mati, Pak Kapolda. Kapolda harus bertanggung jawab atas aksi penembakan yang dilakukan kepada rakyat. Kata Andri M Sondang yang juga Mahasiswa Pasca sarjana Universitas Gajah Mada (UGM) Jogyakarta.

Sementara itu, Kapolda Sulteng, Brigjen Pol Dewa Parsana mengaku akan mengevaluasi terjadinya insiden penembakan oleh anggotanya. “kita lihat dulu apakah anggota sudah benar melakukan penembakan terhadap warga atau malah salah. Kalau sudah sesuai dengan prosedur tetap (Protap) Polri, maka tindkan penembakan itu tidak bisa diberikan sanksi, tetapi jika tidak sesuai maka kita tindak tegas.” Tandasnya. Bahkan untuk menyelidiki kasus itu, kapolda mengaku akan segera membentuk tim independen.

Di Palu, Aksi Tuntun MEDCO Ditutup

Sementara itu sekelompok masyarakat di Ibu Kota Sulawesi Tengah, Palu, juga menuntut agar PT. MEDCO segera ditutup. Kondisi yang selama ini yang terjadi dimasyarakat sudah sangat memprihatinkan. Masyarakat kecewa karena kesejahteraan mereka belum terangkat sejak JOB Pertamina-Medco beropreasi mulai tahun 2005. Padahal pihak manajemen perusahaan telah berjanji akan mensejahterakan masyarakat dengan Comudity development, pemberdayaan masyarakat local, tenaga kerja petani dan nelayan, serta membantu dalam dunia pendidikan.

Sementara Direktur Yayasan Pendidikan Rakyat (YPR), Dedi Irawan, yang juga tergabung dalam Forum mengatakan bahwa Kepolisian daerah Sulawesi tengah yang dikomandoi oleh Brigjen Pol Dewa Parsana telah gagal membawa misi keamanan di daerah ini. Kepemimpinan beliau mulai dari Wakapolda sampai menjadi Kapolda, kekerasan yang terjadi di Sulawesi Tengah malah terus meningkat.” Katanya.

Dengan keberadaan MEDCO, masyarakat bukan bertambah sejahtera, melainkan bertambah miskin dan hidup dibawah garis kemiskinan. Masyarakat tidak punya penghasilan lagi, karena potensi perikanan dan kelautan malah dikapling oleh perusahaan PT. MEDCO. [] Mahadin