HMINEWS – Bertempat di aula Yayasan Paramadina di kawasan Pondok Indah (16/8/2011), Nusantara Raya Institute menyelenggarakan acara diskusi “mengenang 500  jatuhnya Malaka ke tangan penjajah”. Acara tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh seperti budayawan  Radhar Panca Dahana, pengusaha Sutrisno Bakhir, tokoh pergerakan Yogyakarta Awalil Rizky, intelektual muda Siti Zubaidah dan para mahasiswa dari berbagai kampus. Berikut adalah teks orasi peradaban oleh direktur eksekutif Nusantara Raya Institute Dr. Ahmad Suryadi Nomi.

Suryadi Nomi, direktur Nusantara Raya Institute

ORASI PERADABAN

RENUNGAN 500 TAHUN JATUHNYA MALAKA:

Titik Balik Kebangkitan Peradaban Melayu Nusantara Raya[1]

Oleh Ahmad Suryadi Nomi[2]

———————————————————————————————————————————-

“Kejatuhan Malaka merupakan peristiwa amat simbolik

bagi perubahan drastis sejarah umat manusia”

(Nurcholish Madjid, 2003)



  1. A. KEJATUHAN MALAKA: TRAGEDI KEMANUSIAAN

Tidak banyak ilmuan dan sejarawan lokal, regional, maupun internasional yang memberikan catatan penting atas jatuhnya Malaka ke tangan Portugis.  Sekitar 500 tahun lalu, tepatnya tanggal 15 Agustus 1511, Pelabuhan Malaka sebagai pusat perdagangan Nusantara Raya direbut oleh Portugis, perintis kolonialisme di kawasan Nusantara Raya.  Adalah Nurcholish Madjid yang memberi catatan penting bahwa jatuhnya Malaka sebagai peristiwa amat simbolik bagi perubahan drastis sejarah umat manusia, sebagai titik permulaan kekalahan seluruh dunia Islam dan kemenangan bangsa Eropa.  Suatu ironi besar bagi dunia Islam pada umumnya dan Peradaban Islam Nusantara Raya pada khususnya bahwa bangsa Eropa Barat akhirnya mampu mengungguli bangsa-bangsa Muslim setelah mereka berusaha keras selama sekitar 6 abad  dengan terlbih dahulu mempelajari ilmu pengetahuan Islam (Nurcholish Madjid, 2003).  Sejak saat itu,  derita panjang dan gejolak sosial politik berlangsung pada bangsa-bangsa di kawasan Nusantara Raya sebagai bangsa jajahan Eropa selama 4-5 abad.  Bersamaan dengan itu, seluruh jejaring dan pilar-pilar peradaban Nusantara Raya menjadi porak-poranda yang sudah dibangun lama ketika bangsa-bangsa Eropa masih  berada dalam era kegelapan (the Dark Ages).  Kerusakan berikutnya adalah hilangnya  nilai, identitas, tradisi, dan karakter bangsa dan masyarakat Nusantara Raya. Nilai dan identitas sosial mulai  diganti dengan nilai-nilai “adopsi” dan “bawaan” bangsa penjajah atas nama kemajuan dan “baju” modernisme.

Kesadaran kolektif dan reaksi atas kejatuhan Malaka telah ditunjukan oleh tokoh dan pemimpin di kawasan Nusantara Raya ini. Beberapa pemimpin kerajaan dan kesultanan di kawasan Nusantara Raya mencoba melakukan perlawanan  terhadap pendudukan Malaka oleh Portugis. Pada tahun 1512 Kerajaan Demak bersama dengan Kerajaan lain untuk mengirim pasukan sekitar 5.000 sampai 15.000 prajurit dan 100-200 kapal perang  untuk merebut kembali Malaka dari Portugis,  meskipun tidak berhasil. Kesadaran peradaban yang ditunjukkan oleh Pati Unus dari Kerajaan Demak untuk merebut Malaka dapat menjadi teladan bagi para pemimpin di kawasan Nusantara Raya ini. Jauh sebelum konsep politik regional atau global saat ini, “kesadaran peradaban”  dan semangat kebersamaan sebagai sesama warga Nusantara Raya telah ditunjukan oleh Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor alias Yat Sun (Slamet Muljana, 1968). Semangat kebersamaan atas nama bangsa dan peradaban Melayu-Nusantara Raya saat ini sepertinya masih belum ditemukan pada tokoh atau pemimpin negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini,  meski sudah ada ASEAN.

Tragedi dan ironi kejatuhan Malaka dalam sinyalemen Nurcholish Madjid menjadi benar adanya ketika kolonialisme merajalela sesudahnya.  Sejak itu kejatuhan Malaka tersebut, Perang regional di kawasan Nusantara antara kerajaan-kerajaan Nusantara (Kerajaan Melayu, Samudra Pasai, Banten, Demak, Gowa, Tidore, dll)  dengan kolonialisme Eropa (Portugis, Inggris, dan Belanda)  terus berlanjut hingga abad ke-20 dan sampai terbentuknya negara-bangsa (nation-state) yang berlandaskan pada semangat nasionalisme. Alih-alih memberikan solusi sosial dan kesejahteraan masyarakat di kawasan Nusantara Raya ini,  yang terjadi malah munculnya semangat “nasionalisme naif dan sempit” yang saling meniadakan rasa kebersamaan sebagai komunitas warga Peradaban Nusantara Raya.  Konflik dan sengketa  perbatasan  sering memicu gejolak sosial-politik regional antara negara-bangsa di kawasan ini.

Tanpa harus meniadakan dan menafikan keberadaan dan fungsi negara-bangsa, tentunya perlu dirumuskan kembali nilai dan identitas serta karakter masyarakat Nusantara Raya, sebagai konsep peradaban. Nilai dan identitas peradaban yang diwarisi dari tradisi sejarah panjang peradaban Nusantara Raya sebelum era kolonialisme Eropa di kawasan ini. Sejarah agung  Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, dan “persemakmuran” Islam di bawah koordinasi Kesultanan Demak dan Samudera Pasai mestinya menjadi inspirasi dan motivasi baru bagi gerakan pengembangan Peradaban Nusantara Raya yang diikat dan ditransformasi melalui bahasa Melayu sebagai linguafranca-nya.

  1. B. MENEMUKAN KEMBALI MELAYU-NUSANTARA RAYA

Selat Malaka merupakan jalur perdagangan laut internasional yang sangat penting dan strategis sepanjang sejarah.  Sebelum masuknya kolonialisme (Eropa) di wilayah ini, perairan Selat Malaka telah menjadi “rebutan” dan sekaligus “pertemuan” sejumlah kepentingan kerajaan atau kesultanan  di wilayah Nusantara Raya. Pelabuhan Malaka menjadi pusat perdagangan “rempah-rempah” yang merupakan komoditas primadona yang sangat dibutuhkan oleh setiap bangsa di belahan bumi lainnya. Pelabuhan Malaka memiliki jaringan dengan perairan dan pelabuhan-pelabuhan di sejumlah pulau yang terbentang dari Maluku wilayah Timur Nusantara hingga Ujung Selat Malaka di wilayah Barat Nusantara. Secara regional, sejumlah kerajaan besar di kawasan ini seperti Sriwijaya, Majapahit, Demak, Samudera Pasai, dan beberapa Kerajaan Melayu dan dari kawasan China, India, dan Persia melakukan “perebutan” pengaruh di Selat Malaka ini.  Berbagai peristiwa perdagangan dan peperangan regional antar kerajaan di wilayah Nusantara Raya ini menjadi dinamika sosial ekonomi dan politik yang menyimpan kekayaan dan misteri sejarah yang patut digali dan diteliti.

Sebelum masuknya kolonialisme Eropa, kawasan Nusantara Raya telah memiliki sistem kebudayaan atau peradaban yang hemispheric yang meliputi hampir seluruh “dunia timur”  (Nurcholish Madjid, 2004). Sejumlah imperium telah lahir di kawasan Nusantara Raya yang mampu mempersatukan wilayah yang sangat luas bahkan lebih luas dari ASEAN. Setidaknya ada 3 imperium besar yang mampu menguasai jaringan kekuasaan di kawasan Nusantara Raya yaitu: (1)  Kerajaan Sriwijaya yang menjadi pusat pemerintahan abad ke-7 yang berlandaskan pada nilai dan tradisi budhisme; (2) Kerajaan Majapahit yang mampu mempersatukan Nusantara Raya seluas wilayah ASEAN bahkan lebih, yang berlandaskan pada nilai dan tradisi Hindu; Sumpah Palapa dan Gajah Mada menjadi tokoh penting jaringan kekuasaan Majapahit;  (3) Jaringan Persemakmuran kerajaan atau kesultanan Islam yang dikoordinasi oleh Kerajaan Demak, Samudera Pasai, Malaka, Palembang, dan Johor.  Semua imperium itu membangun sistem sosial peradaban berdasarkan nilai-nilai spiritual sebagai landasan utamanya.  Jaringan kesultanan atau kerajaan (Islam) menjadi pengendali utama dan terakhir dalam perdagangan dan pengelolaan di kawasan Nusantara Raya, sebelum kedatangan kolonialisme Eropa. Jauh sebelum dikenal ekonomi kawasan (regional), model jejaring kesultanan ini telah berhasil mengendalikan perdagangan rempah-rempah, yang menjadi komoditas unggulan saat itu. Itulah Nusantara Raya klasik yang dibangun atas dasar jejaring kesultanan Islam di seluruh Nusantara Raya yang saat ini wilayahnya hampir sama dengan kawasan Asia Tenggara.

Kawasan Nusantara Raya (era prakolonial) atau Asia Tenggara  (pascakolonial) merupakan wilayah yang memiliki budaya dan karakteristik yang unik dan layak dinyatakan sebagai entitas peradaban dunia. Kehidupan sosial ekonomi, politik, dan pertahanan wilayah Nusantara Raya sudah tertata dan memiliki jejaring yang baik antar para penguasa wilayah yang bentuknya masih kerajaan dan/atau kesultanan. Wilayah Nusantara Raya ini terkenal sebagai penghasil dan lumbung rempah-rempah dunia. Lewat berbagai jejaring pelabuhan di setiap pulau-pulau besar di kawasan kepulauan ini bisnis rempah-rempah dapat dikendalikan dengan baik dan harmonis hingga awal abad ke-16.  Pelabuhan Sunda Kelapan, Samudera Pasai, Makasar, Demak,  dan Malaka  hingga pelabuhan di Campa, India, China, Persia, hingga Eropa terjalin dinamis sebagai  jejaring “the ocean road” tataniaga rempah-rempah dan berbagai produk lainnya.

Bahasa Melayu sebagai linguafranca telah berhasil mempersatukan tatanan sosial masyarakat Nusantara Raya yang bersifat kepulauan dengan ratusan suku dan bahasa yang beraneka ragam. Bahasa Melayu telah digunakan secara luas oleh penduduk di kawasan Nusantara dalam praktik tataniaga dan perdagangan pada era prakolonial (klasik) dan kemudian bertransformasi dan kemudian terfragmentasi menjadi bahasa “negara” di era pascakolonialisme atau modern — dalam format nation state — menjadi bahasa Indonesia (di Indonesia) dan bahasa Melayu (di Malaysia, Brunei Darussalam, dan Patani-Thailand). Sebelum era penjajahan Eropa, kawasan Nusantara Raya menjadi pusat perdagangan penting dan paling sibuk di dunia sebagai pusat rempah-rempah dunia. Meskipun secara geografis dan topografis kawasan Nusantara terdiri dari berbagai pulau besar dan kecil dengan ratusan suku bangsa yang mendiami pulau-pulau tersebut, namun dapat dipersatukan baik melalui penaklukan maupun jaringan kerja sama antar penguasa saat itu. Dengan semangat kosmopolitanisme dan universalisme serta bhineka tunggal ika, kerajaan Sriwijaya (bertradisi Budha), Majapahit (bertradisi Hindu), dan Kasultanan Aceh, Kasultanan Demak (bertradisi Islam) telah memberi  bukti sejarah tentang kuatnya persatuan dan kesatuan peradaban  Nusantara. Kekuasaan dan jaringan wilayah Nusantara  Raya menguasai seluruh wilayah Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Campa, dan bahkan jaringan kerja sama antar kerajaan Islam Nusantara waktu itu sampai juga ke Formosa, Madagaskar dan Capetown di Afrika. Sungguh, Nusantara Raya merupakan sebuah kekuatan peradaban dunia pada masa jayanya, yang luput dari pengakuan masyarakat internasional dan gagal menjadi kebanggaan warganya.

Kehidupan sosial, ekonomi, dan politik wilayahan Nusantara Raya mulai terganggu ketika kedatangan para pedagang Eropa. Mereka berambisi menemukan  langsung pusat rempah-rempah di wilayah Nusantara Raya ini. Akhirnya, pada tanggal 15 Agustus 1511 Bangsa Portugis berhasil merebut pelabuhan Malaka, sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dan produk lainnya di wilayah Nusantara Raya (http//www.wikipedia.com).  Inilah awal kolonialisme di kawasan ini yang mengakibatkan hancurnya tatanan peradaban Nusantara Raya. Portugis terus menyebar ke wilayah Nusantara Raya lainnya, kemudian diikuti oleh Belanda dan Inggris  yang melanjutkan misi perdagangannya menjadi misi penjajahan. Perlawanan dan peperangan terus dilakukan untuk merebut kembali Malaka. Atas nama solidartitas Nusantara Raya sejumlah kerajaan di wilayah Nusantara Raya mencoba merebut kembali Malaka yang dilakukan oleh Keseultanan Demak, Aceh, Johor, Bintan, dan kesultanan lainnya. Diawali oleh  Kesultanan Demak yang berada di Pulau Jawa mencoba merebut kembali Malaka pada tahun 1512, dilanjutkan pada tahun 1527 namun gagal. Kemudian Kerajaan Aceh mencoba melakukan upaya untuk merebut kembali Malaka pada tahun 1519 dan 1537 namun semuanya gagal.

Malaka terus menerus dibela oleh sejumlah kesultanan di wilayah Nusantara Raya sebagai “wilayah bersama” yang harus direbut dan dikuasai oleh  bangsa Nusantara Raya sendiri.  Perjuangan untuk merebut  kembali Malaka tidak pernah berhasil oleh sejumlah kerajaan dan kesultanan di Nusantara Raya. Maka, benarlah adanya bagi Nurcholish Madjid dan bagi kita semua  warga masyarakat Nusantara  Raya saat ini bahwa jatuhnya Malaka merupakan sebuah tragedi kemanusiaan bagi bangsa-bangsa di wilayah Timur (khusunya masyarakat Muslim). Penguasaan Portugis atas Malaka adalah tahapan awal era kolonialisme bangsa Eropa atas bangsa Nusantara Raya hingga dibentuknya sejumlah “negara-bangsa” sebagai bentukan para penjajah  pada abad ke-20. Indonesia menjadi negara yang mewarisi wilayah jajahan Belanda. Malaysia, Singapura, Brunei Darusalam mewarisi wilayah jajahan Inggris, dan seterusnya.

Konsep dan implementasi negara-bangsa yang sekarang diterapkan oleh bangsa-bangsa di kawasan Nusantara Raya tau ASEAN ini ternyata sudah tidak efektif lagi membangun sistem sosial yang lebih menyejahterakan warganya. Negara memang telah menjadi “Negara Paripurna” meminjam  istilah Yudhi Latief. “Paripurna” dalam makna bahwa negara tidak lagi berdaya mengawal nasionalisme yang makin naif dan sempit. Dinamika politik kenegaraan di setiap negara-bangsa sangat menguras energi sehingga lupa dan tidak mau berbagi antara sesama  anak peradaban Nusantara Raya. Negara-bangsa di kawasan ini nyaris menemui titik jenuh, masyarakat juga mulai antipati. Negara tidak hadir dalam keseharian mereka.  Mungkin terkesan menyederhanakan masalah, tetapi gejolak politik Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina, hanya melanggengkan  ritual dan tradisi politik prosedural. Pembangunan dan kesejahteraan rakyat semakin tak dihiraukan.  Maka, wacana untuk mengangkat masalah sosial, ekonomi, dan politik dari tingkatan nasional menjadi regional dalam sebuah konsep peradaban menjadi perlu untuk dilakukan bahkan sebuah keharusan, sebab kita memerlukan sebuah “terobosan”  yang setidaknya menyiratkan harapan kehidupan lebih baik.  Kita perlu bahkan harus membangun nilai dan manifesto peradaban Melayu-Nusantara Raya. Belajar dari Uni-Eropa yang saat ini mampu membangunan tatanan sosial yang bersifat regional di kawasan Eropa tanpa harus menegasikan keberadaan dan peran negara.

  1. C. MASA DEPAN PERADABAN MELAYU-NUSANTARA RAYA

Wacana peradaban digulirkan oleh Samuel P. Huntington pada tahun 1993.  Ia menulis artikel berjudul “The Clash  of Civilization: Paradigms of the Post-Colod War World”.  Tesis tentang benturan peradaban ini menegaskan akan adanya perang ideologi antara Barat dengan Islam dan/atau Confusianisme. Masih relevankah isu  benturan peradaban ini? Namun yang pasti, langsung maupun tidak, pemikiran peradaban telah mengubah pola hubungan sosial, politik, dan ekonomi antara berbagai kawasan belakangan ini. Globalisasi membawa paradoks adanya penguatan regional atas nama kawasan tertentu. Blok-blok ekonomi regional menjadi tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat kepentingannya di berbagai kawasan, misalnya APEC, Uni-Eropa, ASEAN dan lain-lain menjadi niscaya adanya.

Secara definisi, Dawam Rahardjo menjelaskan sejumlah pengertian dari berbagai tokoh dan pemikir. Menurut Huntington  peradaban merupakan bentuk yang lebih luas dari kebudayaan. Peradaban merupakan puncak kebudayaan-kebudayaan. Peradaban Barat didukung oleh kebudayaan bangsa-bangsa Eropa dan Amerika Utara. Peradaban Confusianisme didukung oleh kebudayaan China Daratan, Taiwan, dan China seberang lautan yang tersebut di Asia Tenggara. Peradaban Islam didukung oleh kebudayaan Arab, Turki, dan Melayu. Ketiga peradaban besar itulah yang saat ini sedang bertaruh untuk menunjukkan esensi dan eksistensinya.

Peradaban Confusianisme telah berhasil memanfaatkan dan membuktikan pemikiran  Huntington. Dalam perkembangannya, benturan berubah peran menjadi dialog peradaban. Pada dasarnya nilai-nilai “Barat”, tidak bisa menegasikan atau meniadakan  tradisi “Timur”.  Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya yang harus disinerginkan, bukan dihilangkan.  Dengan mengambil peran sebagai “lawan” Peradaban Barat, China berhasil membangun kekuatan penyeimbang dari hegemoni Barat dalam menata sistem global. Sementara Islam (lebih tepat penganutnya, kaum muslimin)  tidak berhasil memanfaatkan momentum tersebut, malah menjadi menyediakan diri menjadi “korban” karena salah menentukan posisi dalam konteks benturan peradaban. Hingga saat ini, negara atau komunitas Islam masih gagap mengartikulasikan peran peradabannya.  Peradaban Melayu-Nusantara Raya harus mampu merumuskan nilai dan identitas peradaban yang diharapkan mampu mewakili komunitas muslim duina untuk mewujudkan Peradaban Melayu-Nusantara Raya sebagai cabang peradaban Islam.  Dengan demikian, Peradaban Melayu-Nusantara Raya mendapat  tempat dalam perubahan global, sekaligus membuktikan abad ke-15 sebagai abad kebangkitan Islam.

Penggunaan istilah Melayu-Nusantara Raya sebagai entitas peradaban dipilih dengan pertimbangan bahwa kata “Melayu” merupakan linguafranca dari penduduknya. Nusantara merupakan nama yang orisinil yang dapat dipahami oleh masyarakat berbahasa Melayu yang merujuk pada wilayah kepulauan di wilayah Asia Tenggara.  Penggunaan “Raya” merujuk kepada wilayah nusantara yang selama ini identik dengan wilayah Indonesia, yang sebenarnya lebih luas. Istilah Raya ini juga merujuk kepada siapapun warga yang dapat berbahasa Melayu meskipun tidak lagi tinggal di wilayah Nusantara yang diharapkan tetap memiliki semangat kemelayuannya.  Sebagai sebuah bandingan, Pramudya Ananta Toer mengusulkan istilah Melayu Besar untuk menyatakan wilayah Nusantara Raya yang dimaksud.

Melayu-Nusantara Raya merupakan wilayah kepulauan di wilayah Asia Tenggara tempat tumbuh-kembangkannya berbagai  nilai spiritualisme-agama. Hampir semua agama yang memiliki tradisi besar pernah hidup dan berkembang di kawasan  ini. Pengakuan terhadap adanya Tuhan (Teisme) menjadi nilai orisinil dan otentik yang harus menjadi landasan dalam membangun dan mengembangkan kawasan Nusantara Raya ini.  Jika dinamika agama selama ini masih terlihat sisi-sisi negatifnya, kita yakin bahwa ke depan nilai-nilai agama (spiritualitas) akan menampilkan wajah positif. Semua agama dan spiritualitas mengajarkan kepada kebaikan. Namun, persepsi dan hegemoni  nilai-nilai agama sebagai sistem ritual dan lebih mengedepankan aturan (fiqh / syariah) maka  aroma pembenaran dan penghukuman atas nama “agama” menjadi dominan. Namun, jika nilai-nilai agama dan spiritualitas didialogkan dalam dinamika sosial dan peradaban, maka   agama menjadi “solusi” sosial dan peradaban. Ini adalah tantangan bagi kaum agamawan yang budayawan untuk mampu membanguan pemaknaan bahasa agama yang lebih plural dalam kerangka disiplin “religiolinguistik”. Sementara, sistem nilai keagamaannya perlu dibangun atas dasar perenis (filsafat Perenial) dalam rangka mencari nilai-nilai esoterime agama dan satu pemahaman  paradigma yang “tauhidik” (Tauhidic Paradigm).   Dari nilai dasar inilah kita perlu rumuskan  tatanan sosial peradaban Melayu-Nusantara Raya yang kita akan wujudkan sebagai turunan dan implementasinya.

Perwujudan Peradaban Melayu-Nusantara Raya penting untuk dilakukan dengan dua catatan yaitu: (1) pembenaran atas akan kebangkitan Islam di abad ke-15 yang sudah didengungkan tapi tidak memiliki agenda; (2) pembenaran atas pemikiran Fazlur Rahman dan sejumlah pemikir muslim lainnya bahwa kebangkitan Islam akan hadir di Nusantara Raya sebagai penduduk muslim terbesar yang berbahasa Melayu (Islamic Malay World).  Maka, agenda kajian dan diskusi pengembangan peradaban Melayu-Nusantara Raya menjadi sebuah kewajiban kita bersama. Indonesia sebagai penduduk Melayu_Nusantara Raya yang paling dominan perlu merintis gagasan pengembangan peradaban ini. Kemudian mengajak komunitas lain muslim lainnya di Asia Tenggara untuk menyusun agenda bersama. Melalui gerakan kebudayaan dan peradaban serta transformasinya mela lui kegiatan pendidikan diharapkan kebangkitan peradaban Melayu-Nusantara Raya akan dapat dicapai.  Penyadaran peradaban dan diseminasi gagasan Peradaban Nusantara Raya  harus sampai kepada generasi muda muslim di kawasan ini, sebagai pemilik masa depan Peradaban Melayu-Nusantara Raya.

  1. D. KESIMPULAN

Pada tanggal 15 Agustus 2011 adalah genap 500 tahun jatuhnya Malaka. Sebuah derita panjang perjalanan bangsa-bangsa Nusantara Raya. Hingga saat ini, dalam format “negara bangsa”,  bangsa Nusantara Raya ini masih belum menemukan jati diri. Adopsi konsep demokrasi masih belum menemukan “rumahnya”, malah makin terjadi segregasi sosial dan masyarakat. Sengketa dan pertengkaran bangsa-bangsa yang pernah dipersatukan oleh Sriwijaya yang Budha, Majapahit yang Hindu,  serta Jejaring Kesultanan Demak dan Samudera Pasai  yang Islam, ternyata masih merasa bangsa sebagai bangsa pewaris wilayah jajahan bangsa Eropa daripada sebagai “pewaris peradaban Sriwijaya, Majapahit, dan “Persemakmuran” Islam yang berhasil mempersatukan wilayah Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand,  Campa, Philipina, bahkan sampai Madagaskar.  Apalagi jika kita terbuai negara temuan Arysio Santos bahwa wilayah Nusantara Raya ini merupakan lokasi bekas munculnya “the Lost Atlantis”.  Sejarah masa lalu menunjukkan betapa hebatnya peradaban Nusantara Raya  yang kita diami sekarang ini.

Melalui peringatan 500 tahun jatuhnya Malaka, diharapkan dapat menjadi titik balik kebangkitan Nusantara Raya. Sesungguhnya, Nusantara Raya dapat dimaknai sebagai sebuah enstitas peradaban yang layak diangkat sejajar  dengan peradaban China, India, Persia, Eropa, dan peradaban dunia lainnya.  Sebagai kawasan dan negara yang memiliki penduduk muslim terbesar  di dunia, kawasan Melayu-Nusantara Raya ini sesungguhnya dapat dijadikan sebagai salah satu cabang Peradaban Islam, selain peradaban Islam di Bagdad dan di Cordoba yang telah diakui dunia.  Melayu adalah bahasa komunikasinya (linguafranca), Nusantara Raya adalah kawasan dan wilayah kepulauan yang terbentang dari Papua hingga Campa, dan Islam adalah nilai dan identitas akan menjadi basis perubahan sosial dan rekayasa peradabannya.

********

Referensi

Abdullah, Taufik. Sejarah dan Dialog Peradaban. Jakarta: Buku Obor,

2005.

Abdullah, Taufik. Tradisi dan Kebangkitan Islam Asia Tenggara, LP3ES.

1988

Madjid, Nurcholish. Indonesia Kita. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,

2003

Muljana, Slamet. Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-

Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LKIS, 2005.

Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah.  Bandung: Salamadani, 2009.

Syari’ati, Ali. Membangun Masa Depan Islam. Bandung: Mizan, 1992

Vlekke, Bernard. Nusantara Sejarah Indonesia. Jakarta: Gramedia. 2010


[1] Disampaikan pada Peringatan 500 Tahun Jatuhnya Malaka, 16 Agustus 2011 di Aula Paramadina, Jakarta

[2] Direktur Eksekutif Nusantara Raya Institute (NRI), Jakarta