HMINEWS – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, terjadi pertautan yang sangat erat antara peringatan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus dan Nuzulul Quran 17 Ramadhan yang terjadi bersamaan pada tahun ini.

Dalam sambutannya pada peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara, Jakarta, Jumat malam, Presiden mengatakan pada prinsipnya ayat suci Al Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada 17 Ramadhan untuk membimbing Umat Islam menjadi masyarakat yang maju, berpengetahuan, dan sejahtera.

Sedangkan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus, menurut Kepala Negara, merupakan momentum bagi bangsa Indonesia untuk menentukan nasib baru menuju bangsa yang cerdas dan sejahtera sebagai tujuan dari kemerdekaan.

“Tahun ini adalah tahun yang sangat istimewa bagi Bangsa Indonesia, 17 Agustus bertepatan dengan 17 Ramadhan. Terjadi pertautan sangat dekat antara 17 Agustus dan 17 Ramadhan yang tahun ini kita peringati pada hari yang sama,” katanya.

Karena itu, Presiden Yudhoyono berharap Umat Islam Indonesia seharusnya bisa merenungkan dan mengerti pesan penting dari dua peristiwa besar dalam sejarah itu, yaitu Indonesia harus mampu mengembalikan kembali kejayaan peradaban Islam yang sempat menjadi pusat ilmu dan kebudayaan.

“Terasa tepat jika permintaan dan seruan seperti itu dikemukakan dari Indonesia. Pertama, karena penduduk Indonesia mayoritas adalah Umat Islam. Kedua, penduduk Islam Indonesia adalah yang terbesar di antara bangsa-bangsa di dunia,” tuturnya.

Selain itu, lanjut dia, Indonesia saat ini berada dalam suatu proses transformasi besar untuk membangun masa depan dan peradaban yang lebih baik dengan tetap memainkan peranan internasional di tingkat kawasan maupun global.

Menurut Presiden, untuk mengembalikan kejayaan Islam yang diperlukan adalah mengembalikan tradisi keilmuan berdasarkan prinsip-prinsip obyektivitas dan keterbukaan.

“Dua hal itu yang saya digarisbawahi dan kiranya patut kita renungkan dan untuk kita jalankan dalam kehidupan kita di masa kini dan masa depan,” katanya.

Tradisi keilmuan yang diiringi dengan amalan agama, lanjut dia, diperlukan guna mengatasi berbagai tantangan kompleks yang masih dihadapi Bangsa Indonesia antara lain masalah pangan, energi, dan serta kerusakan lingkungan.

“Persoalannya adalah kemudian bagaimana pendekatan ilmu dan iman serta dengan hati dan pikiran kita bisa menjawab dan mengatasi tantangan dan permasalahan kritis atau kompleks tersebut,” ujarnya.

Kepala Negara juga mengingatkan bahwa masalah lingkungan dan kelangkaan sumber daya kehidupan berakar dari sifat rakus manusia yang gemar mengonsumsi di luar batas yang diperlukan.

“Selama yang kita konsumsi berlebihan, melebihi dari yang kita perlukan, maka bayangan krisis akan terus menghantui kita. Tentu ini bertentangan dengan ajaran Islam karena kalau kita boros, ceroboh, dan serakah, kita menyia-nyiakan alam ciptaan Allah,” demikian Presiden. [] antara/lk