HMINEWS – Presiden Soekarno pernah melontarkan pesannya, “Jangan Melupakan Sejarah”. Pesan itu juga yang dikutip seorang camat di Kabupaten Belu, NTT, yang wilayahnya berbatasan langsung dengan negara tetangga, Timor Leste.

“Warga di perbatasan Indonesia-Timor Leste diingatkan agar jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jasmerah) perjuangan kemerdekaan, sebagai wujud dari warga negara yang baik,” kata Camat Lamaknen Selatan Kabupaten Belu-NTT, Hilarius Luan.

Dalam peta Indonesia, Kecamatan Lamaknen di Kabupaten Belu, NTT, memang tidak banyak yang tahu. Lokasinya dilihat di peta Pulau Timor, terdapat di dalam “cekungan” yang menjorok ke dalam wilayah Timor Leste (Timor Timur dalam bahasa Indonesia) di jejeran perbukitan.

Nah, Kecamayan Lamaknen sejarak 50 kilometer ke arah timur Atambua (ibukota Kabupaten Belu) itu terletak di punggungan bukit-bukit itu. Tidak ada sungai besar di perbukitan itu, untuk menuju kecamatan itu diperlukan waktu hampir dua jam dari Atambua karena jalan yang berlubang-lubang.

Kecamatan itu, menjadi “wajah” nyata Indonesia bagi warga negara tetangga di perbatasan itu. Jakarta dan kota-kota besar dengan kelap-kelip lampu yang menyilaukan mata dan melambungkan kalbu menjadi angan-angan bagi mereka.

Jadilan jajaran bukit-bukit di Kabupaten Belu itu menjelma menjadi “representasi” Indonesia, walau tidak pas sekali demikian. Di wilayah-wilayah seperti itu, masyarakat lebih lekat dengan camat, kepala desa atau pemuka adat dan rohaniwan ketimbang mengingat-ingat sosok presiden yang jauh di Jakarta.

“Warga negara yang baik adalah warga negara yang ingat sejarah, terutama sejarah pejuang kemerdekaan yang telah gugur di medan perang demi kemerdekaan rakyat dan bangsa Indonesia dari cengkeraman penjajahan,” kata Luan ketika dihubungi dari Kupang, usai upacara detik-detik Peringatan Proklamasi Kemerdekaan ke-66 RI, Rabu.

Masyarakat, kata camat yang sudah tiga tahun menjabat di wilayah ujung Barat Pulau Timor NTT itu harus meneladani kepahlawanan para pejuang sebelum dan sesudah kemerdekaan.

“Hendaknya disadari warisan kemerdekaan yang basah oleh keringat, air mata dan darah pejuang, tidak boleh disia-siakan. Tidak boleh disikapi dengan perasaan masa bodoh atau dirayakan dengan dengan euforia berlebihan tanpa makna,” katanya.

Kepahlawanan dan patriotisme para pejuang kemerdekaan, kata Luan, perlu direnungkan kembali dengan sikap hati yang santun, tutur dan sikap humanis sebagai ciri bangsa besar yang berbudi dan bekerja keras tanpa pamrih.

“Kita ini bangsa yang besar dan berkembang dari sela-sela himpitan penderitaan. Karena itu, realitas kemiskinan yang masih tinggi, pengangguran, serta masalah rawan pangan dan penyelundupan ilegal di perbatasan harus dilawan,” katanya.

“Tantangan isolasi dan keterbelakangan wilayah kepulauan ini harus dibuka,” katanya. Di sana memang masalah nyata masih ada pada tataran keperluan hidup sehari-hari ditambah masalah-masalah khas perbatasan negara, di antaranya penyelundupan banyak komoditas.

Pertumbuhan ekonomi NTT termasuk Kabupaten Belu mencapai 4,8 persen dengan pendapatan per-kapita masyarakat sebesar Rp4,4 juta/tahun dari total penduduk NTT sebanyak 4,7 juta. Adapun pengangguran masih di angka 3,98 persen.

“Pendidikan yang belum menjangkau semua strata sosial masyarakat, derajat kesehatan yang rendah dan mengancam 504.900 balita di NTT, lapangan kerja yang terbatas harus diperangi dengan etos kerja keras, kerja cerdas dan kerja yang tuntas,” katanya.

Untuk maksud tersebut, seluruh masyarakat yang ada di pelosok wilayah ini memanfaatkan HUT ke-66 Proklamasi Kemerdekaan RI tahun ini untuk membaharui komitmen semangat kerja yang belum nampak selama ini.

“Dengan semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, kita tingkatkan kedewasaan kehidupan berpolitik dan berdemokrasi serta percepatan pemulihan ekonomi nasional menuju Indonesia yang bersatu, aman, adil, demokratis dan sejahtera. Merdeka,” katanya. [] antara/lara