HMINEWS, PAlu – Dalam momentum hari AL-Quds internasional, Aliansi Masyarakat Sulawesi Tengah menyerukan persatuan untuk menolak PT. Citra Palu Mineral (PT. CPM) yang akan masuk melakukan eksplorasi di Tambang Poboya Palu. Mereka juga menuntut agar perusahaan Join Operating Body (JOB) Pertamina-Medco E&P yang beroperasi di Palau Tiaka, Kabupaten Morowali segera di tutup karena tidak menguntungkan masyarakat.

Massa aksi dai HMI (MPO) di depan KPF Palu

Mengawali Orasinya, Koordinator, Dedi Irawan mengatakan bahwa VOC dalam bahasa Inggris adalah perusahaan, sementara dalam bahasa Indonesia adalah penjajah. Dalam skala nasional, banyak sekali perusahaan asing yang masuk ke setiap daerah. Mereka adalah penjajah yang bermuka manis ingin melakukan ekploitasi untuk mengeruk kekayaan alam bangsa kita.

“Momen ini adalah hari dimana seluruh dunia bertekad untuk melawan penjajah, seperti Zionis Israil, AS dan sekutunya. Suara merdeka harus didengungkan kembali seperti yang terjadi pada saat para pejuang bangsa melawan VOC Belanda dulu.” VOC hari ini berbentuk perusahaan yang mengambil hak-hak rakyat dan menjajah kita. Apa bedanya VOC dengan PT.CPM. tegasnya, sambil diiringi teriakan “MERDEKA” !!“TOLAK CPM” dari para demonstran.

Ketua Umum HMI-MPO Cabang Palu, Mahadin Hamran mengatakan mengecam company zionis Israil yang telah ratusan tahun melakukan penjajahan terhadap negeri Palestina. Begitu pula company di Bangsa kita hari ini, mereka adalah bagian dari gerakan Zionisme yang juga menembaki rakyat, mengambil dan merampas kekayaan alam kita.

Lebih lanjut, Mahadin menuturkan, dalam manifesto politik, presiden Soekarno menyatakan “Revolusi kemerdekaan bangsa Indonesia tidak mengizinkan Indonesia menjadi padang pengerukan harta bagi siapa pun, Asing atau bukan asing”. Sekarang, daerah kita menjadi daerah yang hartanya dikeruk oleh asing dan para penguasa negeri ini. Imbuhnya

Ditambahkan Wilianita Silviani, Direktur WALHI Sulteng, bahwa Bangsa kita hari ini terpuruk dan belum merdeka. kemerdekaan yang baru saja kita rayakan mengandung seribu tanda tanya. Merdeka adalah ketika rakyat jauh dari kemiskinan, jauh dari kerusakan lingkungan, jauh dari kapitalisme pendidikan, jauh dari pengangguran dan kepalaran.

Sementara Aktivis Jaringan advokasi Tambang (JATAM), Etal mengungkapkan bahwa hari ini aparat kepolisian telah melakukan praktek sewenang-wenang kepada masyarakat. Kapolda Sulteng saat ini telah berlumuran darah akibat tragedy penembakan yang terjadi di Kabupaten Buol ramadhan tahun lalu dan beberapa hari ini di Kabupaten Morowali.

“setelah kami turun lapangan, ternyata terjadi pembohongan public dengan mengatakan bahwa rakyat telah merampas senjata aparat dan membuat kericuhan, padahal ini semua adalah setingan kepolisian untuk melindingi penguasa tambang. Apabila pengelolaan tambang masih dikuasai asing dan para elit penguasa, maka jangan harap rakyat akan sejahtera, negeri kita akan selalu menjadi negeri peminta-minta.” tambahnya.

Lanjut, Nanang, Ketua Tokaili Bangkit, menuturkan bahwa Zat kimia beracun mecury dan Sianida akibat dari aktivitas Tambang Poboya di Kota Palu sudah mencemari lingkungan sekitar. Berdasarkan penelitian para ahli, lingkungan sudah tercemari gas beracun itu, Olehnya kita patut untuk menolak kedatangan PT. Citra Palu Mineral (CPM) yang akan mengeksplorasi di Poboya tersebut.[]Mahadin