Yerusalem – Pada 15 Juli lalu secuil sejarah telah dibuat di Yerusalem. Sekitar 3.000 orang Yahudi dan Arab berkirab bersama dari Gerbang Jaffa di Kota Tua hingga kawasan permukiman Syekh Jarrah di Yerusalem Timur sembari menyerukan kemerdekaan, kebebasan dan martabat Palestina. Demonstrasi ini diorganisir oleh Gerakan Solidaritas Syekh Jarrah dan para tokoh Yerusalem Timur Palestina.

Kami, seorang warga Israel dari Tel Aviv dan seorang warga Palestina di Yerusalem, termasuk dari orang-orang yang ikut dan membuat kehadiran kami dirasakan dan suara kami didengar di sana.

Ada banyak alasan kenapa kami bergabung. Pertama, kami memandang bahwa aliansi aktivis Israel dan Palestina adalah syarat penting untuk mengubah konflik ini. Kami harus beralih dari paradigma “Israel lawan Palestina” ke paradigma “orang-orang yang pro-solusi lawan orang-orang yang pro-konflik”. tidak penting apakah Anda Yahudi, Muslim atau Kristen; yang penting adalah apa yang Anda usung.

Kedua, kami ingin melihat apa harapan Israel-Palestina di 2011. Begitu banyak orang di Israel-Palestina yang merasa putus asa tentang kemungkinan adanya pertukaran yang menguntungkan. Perasaan tidak berdaya semacam ini mudah untuk diserap begitu saja. Tapi, kami ingin berada bersama rombongan orang-orang yang percaya kalau mereka bisa membuat perbedaan.

Ketiga, kami merasa bahwa demonstrasi bersama untuk perdamaian dan keadilan di Yerusalem oleh orang Yahudi dan Arab akan memberi kami peluang, jika kami boleh kutip Rabbi Abraham Joshua Heschel, “untuk berdoa dengan kaki kita”.

Akhirnya, meskipun pawai ini tentang kemerdekaan Palestina, legislasi anti-demokrasi di Israel baru-baru ini (seperti undang-undang anti-boikot yang melarang ajakan boikot terhadap negara Israel, termasuk permukiman di Tepi Barat), memberi kami motivasi tambahan untuk bergabung dan meneriakkan: “Bukan atas nama kami!”

Dalam demonstrasi itu sendiri, ada banyak hal yang bisa membuat percaya diri. Orang-orang Palestina yang datang memimpin demonstrasi tersebut, dan tidak saja menjadi pengikut seperti sebelum-sebelumnya, yang lebih banyak dipimpin oleh para aktivis Israel.
Orang-orang memegang poster yang berbunyi, “Bibi, akui Palestina”, dan “Garis [19]67 – negara Palestina di samping negara Yahudi”. Mereka melantunkan slogan-slogan dalam bahasa Ibrani, Arab dan Inggris, seperti, “Dari Syekh Jarrah ke Bil’in, Palestina akan merdeka” dan “Yahudi dan Arab menolak menjadi musuh”.

Sekitar 3.000 pengunjuk rasa boleh jadi tidak banyak, apalagi bila dibandingkan demonstrasi-demonstrasi besar Peace Now dulu-dulu, tetapi menimbang bahwa Yerusalem adalah sebuah kota yang didominasi sayap kanan dan bahwa cuacanya sangatlah panas, beberapa ribu orang Yahudi dan Palestina berdiri bahu-membahu, bersatu untuk menyerukan kebebasan dan martabat bagi bangsa Palestina, adalah sebuah pemandangan yang mengesankan.

Tentu tidak semuanya ideal. Ada lebih banyak orang Yahudi ketimbang Palestina. Ini boleh jadi berkaitan dengan fakta bahwa ada banyak orang Palestina yang tidak senang dengan pembagian Yerusalem (dan berada dalam kekuasaan Otoritas Palestina), atau sudah meninggalkan formula dua-negara. tetapi ada pula beberapa alasan lain: tingkat kepercayaan yang fluktuatif antara para aktivis Yahudi dan Palestina, rasa tabu orang Palestina untuk bekerja sama dengan para aktivis Israel dan ketakutan akan tindakan balasan dari otoritas Israel.

Kesulitan lain bagi kami selaku para pejuang perdamaian adalah “pokok pembicaraan” selama demonstrasi tersebut. Contohnya, ada salah satu poster paling menonjol yang berbunyi, “Hanya Orang-Orang Merdeka yang Bisa Berunding.” Ini adalah kutipan dari mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela yang, dalam konteks Israel-Palestina, berarti bahwa selama Israel melakukan pendudukan, tidak akan ada perundingan di antara kedua pihak.

Meski kami bersimpati dengan pandangan ini, kami merasa pandangan ini problematis karena mengandaikan satu pihak bebas dan yang lain terpenjara. Terorisme dan pendudukan selama bertahun-tahun telah menjadikan orang Israel “budak emosional” dari konflik yang sangat pelik. Selain itu, orang Palestina bukan saja tawanan pasif dalam penjara Israel; mereka juga pelaku aktif yang bisa bersuara tentang nasib mereka. Kita harus ingat bahwa kewenanganlah, dan bukannya kemerdekaan, yang penting dalam negosiasi. Meski konflik Israel-Palestina asimetris dan Israel lebih unggul, rakyat Palestina – yang memegang kunci bagi legitimasi Israel – juga punya kewenangan, seperti diperlihatkan oleh keputusan para pemimpin mereka untuk ke PBB September mendatang mencari pengakuan bagi negara Palestina.

Di akhir pawai, saat orang-orang mulai bubar, kami penasaran apakah ini menjadi babak baru kerjasama Yahudi-Arab. Jawabannya tentu bergantung pada ke arah mana kedua bangsa bergerak. tetapi ini yang kita tahu: jika sebuah gerakan murni untuk perdamaian mau mengakar di negeri ini, itu perlu dilakukan melalui persatuan orang-orang Semit. Jumat, 15 Juli adalah awal yang baik.

###

* Roi Ben-Yehuda ialah lulusan Columbia University dan George Mason University. Aziz Abu Sarah adalah Ko-direktur Eksekutif Center for World Religions, Diplomacy and Conflict Resolution di George Mason University, dan peraih Eliav-Sartawi Award for Common Ground Journalism. Ia menulis blog di azizabusarah.wordpress.com.

Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).