HMINEWS, Bekasi – Kebangsaan Indonesia tercipta karena kesamaan nasib, hal tersebut menjadi landasan nasionalisme Indonesia. Sedangkan ruh nasionalisme itu sendiri adalah Pancasila. Demikian disampikan tokoh buruh nasional Anas Pasaribu dalam Parade Bekasi Ikhsan yang dihelat DPC GMNI Kota Bekasi di Gedung Pemuda, Sabtu (20/8).

Menurut Anas, nasionalisme berlandaskan kesamaan nasib merupakan cikal bakal berdirinya Indonesia yang kemudian menyatukan perbedaan dari beragam suku, bangsa, adat istiadat serta bahasa dalam wadah kebhinekaan.

“Cikal bakal Indonesia berdiri yaitu akibat persamaan nasib. Nasib sebagai bangsa yang dijajah oleh kekuatan kolonial. Berangkat dari situlah Indonesia ini lahir,” ujarnya.

Hanya saja sayang, menurut Anas, dewasa ini nasionalisme Indonesia telah mengalami pergeseran. Rasa persamaan nasib yang menjadi pijakan bangsa telah runtuh. Masyarakat Indonesia sudah mulai mengarah kepada hal berbau individualistik. Sedangkan pemerintah ikut andil terhadap persoalan tersebut.

“Sistem Kapitalisme yang dibangun oleh pemerintah kita sudah meruntuhkan nasionalisme. Sebab dalam sisitem ini masyarakat sudah tidak berfikir tentang nasib sesamanya, masyarakat Indonesia dipacu untuk menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya. Dan pada akhirnya lahir kesenjangan, si kaya makin kaya, si miskin makin miskin,” tutur pria berusia 73 tahun tersebut.

Sementara, rangkaian Parade Bekasi Ikhsan terdiri dari diskusi, buka puasa bersama, santunan anak yatim, serta buka puasa dan saur bersama. Sedikitnya 20 anak yatim mendapat santunan dari pengurus GMNI.

“Kami ingin menggabungkan spirit nasionalisme bersama unsur religiusitas. Kami juga ingin merasakan kebersamaan bersama saudara-saudara kita yang memang nasibnya kurang beruntung. Mudah-mudahan rasa persamaan senasib itu bisa kita bangun dari hal terkecil. Rasa persamaan senasib yang sudah mulai hilang,” ujar Ketua GMNI Bekasi Farid Hardiman. [] KlikM/lara