Galeri Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) menyajikan 50 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau sekedar ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul) hingga 24 Agustus (hari lahinya). Kami juga mengundang anda untuk turut menyumbangkan karya rupa, puisi, artikel dan catatan pendek anda. Demikian disampaikan oleh Andreas Iswinarto, pengelola Page Facebook Galeri Lentera di Atas Bukit.

Anda juga dapat membagikan foto-foto kenangan, video melalui page berikut ini : Tribute to Wiji Thukul
http://www.facebook.com/pa​ges/Galeri-Rupa-Lentera-di​-Atas-Bukit-kerjapembebasa​n/158632180828263

Bila tidak ada halangan kami merencanakan melakukan pameran ‘gerilya’ di sekitar tanggal kelahiran Wiji Thukul nanti (informasi menyusul). Kami mengundang pula kawan-kawan untuk melakukan berbagai inisiatif terkait gagasan Tribute to Wiji Thukul ini. Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus sebagai kado untuk peringatan proklamasi kemerdekaan dan tentunya kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan.

NARASI WIJI THUKUL

tujuan kita satu ibu : pembebasan

disini
kubaca kembali
: sejarah belum berubah!

tanah air digadaikan
masa depan rakyat di gelapkan
(dan)
derita sudah naik ke leher
kau
menindas
sampai di luar batas
(dan)
derita sudah matang
bahkan busuk
tetap ditelah?

maka hanya ada satu kata : lawan!

kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu : pembebasan

satu mimpi, satu barisan
(maka)
jika kami bunga
engkau adalah tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan : engkau akan hancur!

(petikan2 puisi Wiji Thukul : kuburan purwoloyo, bunga dan tembok, peringatan, tujuan kita satu ibu, derita sudah naik seleher, busuk dan momok hiyong)

Sebagaimana kata almarhum Munir, “Hanya satu kata, lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya sata kata, lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otorritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan”.

Mengenal Lebih Jauh Wiji Thukul (Artikel, Video dan Karya)
http://lenteradiatasbukit.​blogspot.com/2009/12/yap-t​hiam-hien-award-2002-wiji-​thukul.html