Oleh: Lukni Maulana *

 

HMINEWS – Lebaran sebentar lagi, kemeriahan dan kegembiraan dicampurkan dengan berbagai macam adonan kesibukan dan kerepotan dialami seseorang yang akan merayakannya. Meriah dan gembira karena mereka akan mudik kampung bertemu sanak keluarga. Sibuk dan repot menandakan sebuah cerita segala persiapan harus disediakan semisal pakaian baru, angpau, parcel dan berbagai ornament lebaran.

Namun dari itu, ada yang lebih inti yakni tentang kata “maaf”. Maaf berarti bisa meminta dan memberikan. Meminta bagi seseorang yang bersalah, maka ia wajib meminta. Walau terkadang merasa berat untuk memintanya, hal ini dikarenakan sebuah perasaan hati dan pikiran. Sebab kebanyakan dari yang meminta maaf adalah orang-orang yang bersalah.

Lain lagi dengan orang yang memberikan maaf, karena memiliki posisi startegis. Meskipun memberikan itu terasa berat, sebab terikat dengan konsekwensi untuk tulus dan ikhlas.

Disitulah makna tertinggi dari mudik untuk bertemu dengan sanak keluarga yakni meminta dan memberi maaf. Dua hal yang tidak dapat terpisahkan, dikarenakan pada lebaran kata maaf menjadi suatu yang utama. Tidak ada pembeda antara meminta dan memberi., keduanya melebur menjadi satu.

Hal ini dapat dibuktikan dengan hubungan kekerabatan yang berpadu dalam silatuhrahmi. Silatuhrahmi atau berkunjung ke saudara, tetangga ataupun teman dalam bahasa kampung saya di sebut dengan ujung-ujung berasal dari kata ujung yang berarti puncak atau titik terakhir sehingga sekarang dimaknai saling berkunjung. Ujung-ujung menjadi tradisi lebaran hingga sekarang.

Ujung-ujung ini tidak bermaksud hanya bertemu dan bertatap muka karena rasa kangen lama tidak bertemu. Tapi dikarenakan orang yang melakukan ujung-ujung, akan berkunjung meminta maaf dari titik awal hingga titik akhir. Bersalah atau tidak ia akan tetap meminta maaf, baik yang muda ke orang yang tua ataupun sebaliknya. Di sinilah tidak ada pembedanya orang yang meminta dan memberi maaf.

Barangsiapa tidak menyayangi, maka dia tidak disayangi Allah. Barangsiapa tidak memafkan, maka dia tidak diampuni Allah, orang yang tidak memafkan, tidak di maafkan” (HR. Bukhari)

Bangsa kita merupakan bangsa yang suka memberikan maaf, namun tekadang masih sulit untuk meminta maaf. Bangsa ini hampir di jajah tiga setengah abad, namun sebab bangsa ini suka memberikan maaf maka Negara Belanda pun dimaafkan. Meskipun benda-benda bersejarah bangsa ini masih tersimpan disana. Inilah bangsa yang suka memberi. Bangsa ini suka memberikan maaf kepada para pejahat baik itu koruptor maupun penjahat kelas teri. Keringanan hukuman selalu diberikan saat lebaran berupa amnesti.

Sulit rasanya meminta maaf, kadang aneh juga mental anak bangsa yang sulit meminta maaf. Semisalanya perosalan kentut (buang kotoran), rasanya sulit untuk meminta izin keluar. Namun malahan kita memberikannya, meskipun baunya tidak enak. Tapi jika disalahkan tidak mau, bisa-bisa saling menuding jka kentutunya tidak berbunyi tapi ada baunya.

Ya…itulah kata maaf. Allah berfirman dalam Surat Asy Syuura ayat 43:

Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”.

Memafkan menjadi suatu yang utama terikat dengan ketulusan, kesabaran dan keikhlasan. Berurusan dengan Allah itu lebih mudah dari pada dengan sesama, sebab Allah itu maha memafkan (ampunan).

Maka ada beberapa tangga maaf yang harus dilewati seseorang untuk mendapatkan sesuatu baik itu diampuni dosa maupun kesalahannya. Pertama, meminta maaf kepada Allah. Maka seorang hamba dituntut untukl berdoa “Ya Allah Engkau maha pengampun dan suka kepada seseorang yang meminta ampunan, maka ampuni aku”. Seketika itupula seorang hamba akan dimaafkan.

Kedua, meminta maaf kepada sesama. Ini hal yang paling sulit karena jika kita sudah melukai seseorang walaupun kita sudah memohon maaf dan diberikan maaf olehnya namun luka itu masih membekas. Ketiga, memafkan diri sendiri, meskipun kita pernah melukai orang lain dan luka itu tetap membekas. Saatnya memafkan diri sendiri dengan berbagai macam cara seperti taubat, zikir dan melantunkan ayat-ayat suci untuk diambil hikmahnya.

Sesungguhnya maaf suatu yang sepele, namun memiliki makna yang luar biasa. Menandakan sebuah kualitas manusia apakah dia manusia sempurna atau memang manusia yang luput dengan salah dan khilaf.

* Lukni Maulana; HMI Cabang Semarang dan pendiri Rumah Pendidikan Sciena Madani